Bagaimanapun juga risiko yang dihadapi oleh Tuanku Tambusai, namun ternyata jalan yang telah dirintisnya membuka peluang melapangkan gerak langkah tokoh pendidikan Islam di belakangnya. Meskipun hubungannya sampai kurang baik dengan pihak Kerajaan Rantau Binuang Sakti, karena pendekatannya yang bergaya Wahabi, …
Baca SelengkapnyaBeberapa Tokoh Pendidikan Islam di Riau (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Ruang lingkup, waktu dan muatan pendidikan Islam ternyata meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia, yang terbentang dari perjalanan hidupnya di dunia sampai ajal yang akan disusul oleh kehidupan yang kekal di akhirat. Memandang muatan konsep yang demikian maka sejumlah tokoh telah …
Baca SelengkapnyaBeberapa Pusat Pendidikan Islam di Riau (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy
Bekas kerajaan Tambusai yang meliputi daerah aliran sungai Rokan, Pasir Pengaraian dan Rambah, juga merupakan pusat pendidikan Islam. Imam Maulana Kali yang menjadi Wali Syarak (Imam Kerajaan) dengan anaknya Muhammad Saleh (yang kemudian terkenal dengan Tuanku Tambusai) telah menyegarkan pula …
Baca SelengkapnyaBeberapa Pusat Pendidikan Islam di Riau (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Masuknya agama Islam ke dalam kehidupan puak Melayu di Riau, menyebabkan timbulnya lembaga pendidikan Islam dalam masyarakat. Ini terjadi, pertama karena agama tauhid ini menganjurkan agar pendidikan digalakkan oleh umatnya. Yang kedua tentu saja oleh kesadaran puak Melayu itu sendiri …
Baca SelengkapnyaSurat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (8)
Bung TA Sakti yang tekun dan kreatif, Surat Bung tanggal 20 Februari 2000, saya terima pada hari Selasa tanggal 7 Maret 2000 di Pekanbaru. Semua kiriman Bung itu memang sudah sampai pada saya. Karya-karya Bung cukup bermakna sebagai dokumentasi, tapi …
Baca SelengkapnyaKisah Buya Muhammad Nur Mahyuddin (Bagian 2) : Menanamkan Kepercayaan dan Kebersihan Diri Santri, Oleh: UU Hamidy
Mengenai berbagai upacara tradisional di Kampar, seperti ratib beno (meratibkan benih padi yang akan diturunkan ke ladang) dan upacara tolak bala (yang mempertemukan dukun dan ulama serta membacakan mantera), Buya Nur Mahyuddin melihatnya sebagai realitas kehidupan yang merakyat. Meskipun tradisi …
Baca SelengkapnyaKisah Buya Muhammad Nur Mahyuddin (Bagian 1) : ‘’Kami Mencetak Ulama yang Merdeka’’, Oleh: UU Hamidy
Ulama ini lahir kira-kira tahun 1913. Ketika tulisan ini dibuat tahun 1988, umur beliau sekitar 75 tahun. Beliau pernah sekolah rendah zaman Belanda, selepas itu melanjutkan pada madrasah Darul Muallimin yang berdiri sejak 1919, dengan pimpinan Haji Abdul Malik. Tidak …
Baca SelengkapnyaRagam Penampilan Teks Tulisan dalam Masyarakat, Oleh: UU Hamidy
Paling kurang ada 5 macam gaya penampilan teks tulisan dan lisan dalam masyarakat Melayu di Riau. Pertama, kitab hikayat atau syair dibacakan dengan suara yang merdu; boleh memakai iringan rebana (gendang) atau tidak. Pada masa dulu juga dipakai talam sebagai …
Baca SelengkapnyaSurat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (7)
Pekanbaru, Ahad 25 Oktober 1997 Bung TA Sakti yang tekun dan kreatif, Saya sudah menerima sejumlah karya Bung, berupa bermacam alih tulis naskah-naskah lama Aceh, yang semuanya cukup menarik. Jika Bung suka mendengar pertimbangan dari saya, maka saya kira alangkah …
Baca SelengkapnyaKetakwaan Orang Melayu, Oleh: UU Hamidy
Bagaimana kadar agama Islam dengan manifestasi ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosial budaya orang Melayu, telah memberikan semacam tesis, betapa agama samawi itu telah dipergunakan untuk pembentukan pandangan …
Baca Selengkapnya
Bilik Kreatif Bersatu di Ujung Mata Pena