Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Harimau Lambang Hulubalang Melayu, Oleh : UU Hamidy
Foto : photoshelter.com

Harimau Lambang Hulubalang Melayu, Oleh : UU Hamidy

Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan jagad raya dan seisinya dengan bermacam makhluk dan beragam benda lainnya. Berapa jumlah mahkluk dan benda-benda itu takkan pernah dapat dihitung oleh manusia, sebagaimana Allah telah mengatakan bahwa manusia takkan dapat menghitung nikmat yang telah Allah kurniakan. Dengan ini tergambarlah betapa sebenarnya kebesaran Allah di atas segala makhluk-Nya. Tapi kebanyakan umat manusia tak mengetahui dan menyadari betapa kebesaran dan kekuasaan Allah. Dia seakan berpendapat berada di muka bumi ini tanpa kekuasaan Allah, sehingga dia dapat berbuat sesuka hawa nafsunya.

Manusia kerdil yang tak mau menyadari asal-usulnya ini telah menjadi sombong dan pembangkang terhadap Allah Yang Maha Perkasa. Mereka menentang syariah Islam dari Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Mereka menandingi hukum dari Allah dan Rasul-Nya itu dengan hukum buatan manusia. Mereka memandang enteng Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan as-Sunnah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, karena memandang akalnya lebih hebat dan logis. Inilah umat manusia yang tidak beriman yang memilih jalan kafir dan munafik. Mereka menyimpang dari jalan lurus yang difitrahkan Allah kepada jalan sesat yang dibuat oleh setan.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dunia Melayu sebagai dunia Islam. Orang Melayu telah mengatur kehidupannya dengan adat bersendi syarak, kata lain untuk syariah Islam. Adat yang akan mengatur hubungan bermasyarakat telah bertumpu kepada syarak yakni hukum yang bersandar kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan untuk melaksanakan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya mereka merujuk lagi kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana telah sampai kepada mereka melalui mazhab Imam Syafi’i.

Demikianlah, dalam masyarakat adat puak Melayu itu ada empat sosok pemegang teraju kehidupan, yakni Penghulu, Monti, Hulubalang, dan Malin. Penghulu maknanya pemegang hulu yakni orang yang akan memegang kekuasaan dengan kata putus. Monti atau Antan-antan yakni orang yang memelihara ketentuan-ketentuan adat bersendi syarak. Hulubalang adalah sosok yang akan mengambil tindakan terhadap pelanggaran adat bersendi syarak. Malin (Mualin) yakni ulama yang mempunyai ilmu Islam tentang Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka tiap kejahatan dan pekerjaan maksiat yang berlaku dalam masyarakat akan disidangkan oleh empat orang pemangku teraju tersebut. Keputusan sidang akan dilaksanakan oleh Hulubalang.

Demikianlah, hulubalang telah menjadi tokoh yang amat penting dalam menegakkan kebenaran pada masyarakat adat. Dia bagaikan alat amal makruf nahi mungkar agar masyarakat tetap terpelihara dalam adat bersendi syarak. Hulubalang adalah sosok yang ditakuti sekaligus disegani. Hulubalang bagaikan harimau yang ditakuti oleh segala binatang di rimba belantara.

Mari perhatikan gerak-gerik tingkahlaku harimau yang dijadikan cermin oleh hulubalang dalam melaksanakan tugasnya. Pekik harimau dapat membuat bulu kuduk berdiri sedangkan aumnya dapat membuat bumi bagaikan bergetar. Begitulah kalau hulubalang telah memberi peringatan (pekik) dan ancaman (aum) maka warga masyarakat harus memperhatikan satu sama lain apakah sudah terjadi bencana atau kemaksiatan dalam kehidupan mereka. Harimau selalu mengutamakan berjalan pada waktu hujan-hujan sebentar kemudian putus (disebut juga hujan biye-biye). Sebab ketika hujan putus-putus itulah dia dapat dengan mudah menangkap mangsanya. Hulubalang juga menjadikan waktu hujan putus-putus sebagai waktu yang istimewa untuk melakukan ronda. Sebab ketika itulah banyak terjadi kejahatan dan perbuatan maksiat.

Dan terakhir, perhatikanlah betapa hebatnya harimau melakukan penangkapan terhadap mangsanya. Harimau mampu berjalan dengan tidak berdetik ranting yang patah oleh kakinya. Ini artinya hulubalang Melayu itu memang amat piawai melaksanakan tugasnya. Dia bertindak tidak membuat orang gaduh dan ketakutan. Dia melaksanakan tugasnya tanpa terganggu warga masyarakat yang perlu ketentraman. Karena itu, dia memang pantas diberi gelar hulubalang yang berarti pemegang hulu untuk menghadapi berbagai balak atau bencana (balang).***

 

 

Check Also

Kadar Islam dalam Tafsir Antropologis Nama Pesukuan di Siberakun Kuantan Singingi, Oleh : UU Hamidy

Allah yang Maha Esa Maha Kuasa menciptakan apapun saja yang Dia kehendaki, sehingga Allah menjadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *