Kedatangan bulan puasa atau bulan Ramadan telah dinanti oleh orang yang beriman dengan rasa gembira. Dinanti dengan rasa gembira, karena dalam bulan Ramadan itu terbuka peluang melakukan ibadah yang sangat besar ganjarannya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Inilah bulan …
Baca SelengkapnyaSak Wasangka dalam Tradisi Melayu, Oleh: UU Hamidy
Sak wasangka adalah sikap yang paling ditakuti dan sekaligus dibenci dalam tradisi Melayu. Tetapi anehnya, sekarang ini malah kita seakan dianjurkan punya sikap curiga terhadap siapapun, dengan redaksi demi keamanan. Bahkan sak wasangka malah dijadikan semacam cara kerja. Sungguh, dunia …
Baca SelengkapnyaPuasa dan Orang Bagak, Oleh: UU Hamidy
Banyak orang memandang silat hanyalah semacam olah raga bela diri, tidak punya nilai ruhani yang memadai. Anggapan itu tidak berlaku dalam dunia Melayu di Riau. Silat pada awalnya bukanlah dirancang oleh seorang ahli bela diri atau olah raga, tapi ditaja …
Baca SelengkapnyaBencana Demokrasi, Oleh: UU Hamidy
Bencana mengancam di mana-mana. Pemerintah dengan segala jajaran lembaganya menanggulangi dengan dana dan teknologi. Sementara para pengemban dakwah, ustad dan ulama, mengkritik perilaku maksiat seperti perzinaan, ribawi, perjudian dan minuman keras. Baik pemerintah maupun pengemban dakwah tak memperhatikan dengan teliti …
Baca SelengkapnyaPengarang yang Memiliki Medan Magnet Spiritual
Membaca karangan para pengarang Melayu yang CEMERLANG lagi PIAWAI ini, kita dapat memperoleh berbagai keterangan, data, gagasan serta ide maupun pemikiran untuk MENGARANG. Tapi tidak hanya itu. Karangan mereka ternyata memberikan PESAN-PESAN KEBENARAN, sehingga makin jauh dibaca, kita akan DITARIK …
Baca SelengkapnyaPengarang yang Cemerlang Lagi Piawai
Menjelang pertengahan abad ke-20, dunia Melayu melahirkan lagi dua pengarang yang CEMERLANG, yakni TUAN GURU ABDURRAHMAN SIDDIK BIN MUHAMMAD APIP dan SOEMAN HS. Tuan Guru Abdurrahman Siddik yang juga merangkap MUFTI Kerajaan Inderagiri, mengarang paling kurang TUJUH KITAB, di antaranya …
Baca SelengkapnyaSyarat Cendekiawan di Rusydiah Klab
Rusydiah Klab-lah yang memberi SYARAT, bahwa seorang cendekiawan, PALING KURANG harus bisa membuat SATU karangan. Para tokohnya antara lain Raja Ali Kelana yang telah mengarang ”Pohon Perhimpunan”, Abu Muhammad Adnan pengarang tata bahasa Melayu ”Pembuka Lidah”, Raja Aisyah Sulaiman dengan …
Baca SelengkapnyaRusydiah Klab; Perkumpulan Cendekiawan Terbesar di Asia Tenggara
Di belakang Raja Ali Haji muncullah RUSYDIAH KLAB, yakni perkumpulan kaum cendekiawan Riau di penghujung abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Perkumpulan kaum cendekiawan Riau ini merupakan perkumpulan YANG TERBESAR masa itu di rantau Asia Tenggara. Para anggotanya, di samping …
Baca SelengkapnyaMelayu Berjaya dengan Tradisi Mengarang
Tradisi MENGARANG telah BERJAYA dalam dunia Melayu paling kurang 500 tahun. Dimulai oleh HAMZAH FANSURI dengan ”Syair Perahu” pada ABAD KE-16, diteruskan oleh TUN SRI LANANG dengan karangannya ”Sulatus Salatin”, yang lebih dikenal dengan ”Sejarah Melayu” pada ABAD KE-17. Kemudian …
Baca SelengkapnyaVisi Riau Pusat Budaya Melayu (Beberapa Perkara yang Dapat Dipertimbangkan), Oleh: UU Hamidy
Visi Riau Pusat Budaya Melayu sampai saat ini masih banyak jadi pertelingkahan daripada jadi tindakan. Karena itu gerak langkah menuju pandangan itu tidak dapat berjalan dengan memadai. Dalam batas-batas tertentu sebenarnya beda pendapat tentang hal itu bisa memberi manfaat. Tapi …
Baca Selengkapnya
Bilik Kreatif Bersatu di Ujung Mata Pena