Home / Bunga Rampai / Jejak Kasih yang Hampir Putus Setengah Abad Lebih, Oleh: Purnimasari
UU Hamidy bersama Noordin Malim Kaya di Hulu Langat tahun 1979. Foto : Dokumentasi Bilik Kreatif

Jejak Kasih yang Hampir Putus Setengah Abad Lebih, Oleh: Purnimasari

Pada penghujung tahun 1974, selesailah UU Hamidy mengikuti Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Aceh yang diterajui Dr Alfian dari pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan tenaga ahli teori penelitian ‘’Grounded Research’’ Prof Dr Stuart A Schlegel dari University California. UU Hamidy dalam latihan penelitian itu mengambil hikayat Aceh sebagai obyek kajian. Judul ini cukup unik, ‘’Peranan Cerita Rakyat dalam Masyarakat Aceh’’, sehingga Schlegel sendiri pernah hampir meragukannya. Semua hasil penelitian kemudian dibukukan dengan tajuk ‘’Segi-segi Sosial Budaya Masyarakat Aceh’’ yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) tahun 1977.

Dengan rahmat dan kehendak Allah Yang Maha Bijaksana, UU Hamidy terpilih sebagai peneliti terbaik. Karena itu, dia mendapat tawaran untuk belajar ke Australia pada Australian National University (ANU) dengan calon pembimbing Prof Dr AH John, sebagaimana disampaikan oleh Dr Lance Castles sewaktu memberikan ceramah di Aceh. Castles adalah seorang ahli sejarah dari Departement of Pasific and Southeast Asian History di Australian National University (ANU) Canberra, Australia dan menjadi tenaga ahli untuk tahun 1975-1976.

Karena tawaran ini ditolak, maka Dr Taufik Abdullah dari LIPI menawarkan pula ke negeri Belanda untuk kajian naskah kuno Riau. Juga UU Hamidy tak tertarik ke Belanda. Kemudian Dr Alfian berjumpa dengan Datuk Musa Hitam sebagai Wakil Perdana Menteri Malaysia merangkap Menteri Belia dan Sukan, lalu menerangkan sosok UU Hamidy sebagai budak Melayu kepadanya. Ketika itu, Dr Alfian sampai berkata kepada UU Hamidy, ‘’Ke Malaysia pun Bung tak mau juga (melanjutkan studi)?’’

Datuk Musa Hitam sangat tertarik sehingga dia langsung memesankan kepada pembantunya agar UU Hamidy segera dicatat sebagai penerima beasiswa untuk belajar pada Pengajian Melayu Universiti Malaya, terhitung mulai tahun 1979. Tawaran ini diterima, karena memang ada manfaat yang sangat besar, melebihi daripada belajar tentang Melayu itu sendiri. Yakni ikhtiar menyambung tali silaturahmi dengan pihak saudara ayahnya di Tanah Semenanjung yang sudah hampir terputus lebih dari setengah abad.

Setelah mengumpulkan beberapa berita dari pihak sanak keluarga dan orang kampung Siberakun, Rantau Kuantan, UU Hamidy menyeberanglah ke Kuala Lumpur, kota yang konon dibuka oleh perantau dari Rantau Kuantan, Riau (baca kisah ‘’Peranan Perantau Kuantan di Perantauan Malaysia’’ dalam buku Membaca Kehidupan Orang Melayu, UU Hamidy, Bumi Pustaka Pekanbaru 1986).

Tiba di Kuala Lumpur, yang paling mudah dicari ialah rumah Prof Dr Umar Junus di Petaling Jaya, yang dulu adalah dosennya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang, yang ketika itu menjadi tenaga pensyarah pada Jabatan Pengajian Melayu Universiti Malaya. Setelah mendapat tempat rumah sewa di Kampung Kerinci, Bangsar, Kuala Lumpur, dia pindah dari rumah Pak Umar Junus.

Beberapa hari kemudian UU Hamidy mencari rumah Faridah binti Noordin Malim Kaya yang juga bermastautin di Bangsar, Kuala Lumpur. Faridah bekerja di Radio Televisyen Malaysia (RTM), sedangkan suaminya bekerja pada Kantor Perdana Menteri. Dari Faridah dapatlah dicari Noordin Malim Kaya, yakni ayahnya Faridah, yang rupanya tinggal di Hulu Langat, yakni tanah warisan ayahnya, Marzuki Malim Kaya. Marzuki adalah adik Haji Harun, ayah UU Hamidy.

UU Hamidy mengambil waktu hari Sabtu petang pergi ke Hulu Langat untuk menjumpai abang sepupunya Noordin Malim Kaya, dengan niat sambil menginap di sana, sehingga dapat bertemu dan bercerita panjang lebar, agar silaturahmi yang lebih dari setengah abad hampir putus, dapat kembali terjalin dengan erat. Alangkah gembiranya Noordin Malim Kaya menerima kedatangan adiknya UU Hamidy yang benar-benar tidak disangka-sangka.

UU Hamidy menerangkan dengan jelas bagaimana matarantai silaturahmi antara mereka berdua serta saudara-saudara lainnya. Bapak kita itu, kata UU Hamidy kepada Bang Noordin, bersaudara terdiri dari empat orang; tiga lelaki dan satu yang bungsu perempuan. Tiga laki-laki itu pertama adalah Haji Harun (ayah UU Hamidy dan saudara-saudaranya), Haji Kasim (ayah Aisyah, Darama dan Rosnah), Marzuki (ayah Rohana, Noordin, Tahir, Mohd Nor, Rosnah, Noor Aini, Siti Khajar dan Noor Sa’adah), Karim (ayah Salhan Karim yang bekerja sebagai guru sekolah dasar), lalu yang termuda perempuan bernama Sakdi dengan anaknya Munah, Maridah, Ibnu Abbas, Majid, Abdul Munaf dan Khadijah.

Selama meningap di Hulu Langat itu, hampir sepanjang waktu UU Hamidy dengan Noordin Malim Kaya serta isterinya menghabiskan waktu bercerita tentang hubungan silaturahmi yang sudah hampir putus setengah abad lebih tersebut. UU Hamidy juga mengulang kembali cerita kalau Bang Noordin belum tahu, bahwa Haji Harun sewaktu menanti kapal yang akan berangkat dari Singapura ke Jeddah terlambat datang, maka Haji Harun mencari adiknya Marzuki di Hulu Langat untuk mendapat tambahan belanja karena keterlambatan kapal haji itu.

Hubungan silaturahmi antara anak cucu Haji Harun dengan anak cucu adiknya Marzuki Malim Kaya serta anak cucu Haji Kasim, Karim dan Sakdi benar-benar menjadi erat kembali dengan berkunjungnya Siti Khajar binti Malim Kaya dan Faridah Noordin ke Pekanbaru pada tahun 2007. Kemudian dilanjutkan dengan kunjungan balasan ke Kuala Lumpur dan Hulu Langat oleh cucu Haji Harun dan Haji Kasim pada tahun 2012. Setelah itu, hubungan bertambah mesra setelah Faridah Noordin membawa serta anak cucunya ke Pekanbaru pada 2017 dan tahun-tahun berikutnya.***  

Check Also

”Apa yang Sudah Bung Tulis?”, Oleh: Purnimasari

Selain karena berkah dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang paling utama, salah satu hal …

2 Komentar

  1. Kisah yg luar biasa. Banyak inspirasi dan manfaat.

    • Alhamdulillah. Semua semata berkat rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala. In syaa Allah, dalam beberapa terbitan ke depan akan dimuat serpihan-serpihan kisah jalan hidup Pak UU baik yang ditulis sendiri oleh beliau maupun yang dituliskan kembali oleh orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *