Home / Bunga Rampai / Gelar Antropologis; Cara Unik Berkomunikasi di Rantau Kuantan, Oleh: Purnimasari
Foto : speechpathologymastersprograms.com

Gelar Antropologis; Cara Unik Berkomunikasi di Rantau Kuantan, Oleh: Purnimasari

What’s in a name? Kata William Shakespeare. Apalah arti sebuah nama. Tapi ternyata nama penting juga gunanya. Jika tak ada nama, bagaimana kita memanggil seseorang atau sesuatu?

Dalam belantara nama ada pula dikenal gelar, julukan, nama lain ataupun alias. Itu terjadi karena memang pada kenyataannya selalu saja ada orang yang bernama sama. Untuk memudahkan komunikasi, maka diberilah gelar sebagai pembeda.

Di Rantau Kuantan (Kuantan Singingi), Riau, cukup banyak orang yang diberi gelar di belakang namanya. Gelar-gelar itu pada umumnya merujuk pada penampilan atau sisi antropologis yang bersangkutan sehingga boleh juga disebut sebagai gelar antropologis.

Kadang, gelar antropologis merujuk pada kondisi fisik yang empunya. Contohnya adalah TUK (Datuk) LORENG, karena punya penampilan yang menakutkan. Loreng adalah nama lain dari harimau. OYA (Yahya) DOMPIN, karena badannya besar sehingga ketika punggungnya dipukul maka berbunyi seperti berdempin-dempin. ASA POTUI, karena suaranya keras macam potui (petir). JUDIN KANCIL, karena badannya kecil seperti kancil. NUAR (Anwar) KURIAK, karena badannya banyak kurik oleh panau (panu). SUMAN GAJA, karena badannya besar seperti gajah. ATI FUSO, karena badannya juga besar ibarat truk Fuso. SUTAN UNTUIK, karena kakinya bengkak sebelah sebab untuik sehingga jalannya tidak normal. LEMAN (Sulaiman) EGOK, karena jalannya maegok, yakni badannya miring ke kiri dan ke kanan ketika berjalan. LEMAN BINCIK, karena perawakannya kecil dan rondit (sangat rendah). SAIDI TEPOK, karena kakinya tepok. TAMI KOMPE, karena tubuhnya tinggi besar seperti kayu kompe atau kayu kempas. ABU STOKAR, karena sering hilir-mudik di kampung dengan handuk kecil di atas bahu, mirip penampilan seorang stokar. MAIL BOGOK, karena penampilannya mirip dengan Bogok, seorang supir mobil ketika itu yang badannya gemuk rendah.

Ada pula gelar antropologis yang diberikan karena sifat yang bersangkutan. Contohnya, HARUN KALELEK, karena orangnya banyak kalelek (lawak). MOLAI BOHAR, karena suka besar cakap. ASA GALEDOR, karena makan apa saja habis sehingga ibarat mesin geledor yang sanggup melibas apapun. DIRIT (Idris) OLANG, karena sebentar tiba, sebentar pergi, menyampuk di mana-mana persis burung elang. KASIN GOMBUANG, karena suka dipuji sehingga ibarat gelembung. DASIN PARDEHONG, karena pandai bercerita tapi kadang tidak bisa dipedomani. SAIDI BAKUANG, karena tidak bisa berbisik sehingga mulutnya diibaratkan bunga bakung yang kelopaknya mirip corong pengeras suara. DAUD BALAM, karena suka mengangguk-angguk macam burung balam. HUSIN UNCANG, karena selalu membawa uncang (semacam karung kain) ke mana-mana. SALEMAN GADUA, karena sering membuat gaduh, atau suka meribut. SALEMAN TUHAN, karena sering membayang-bayangkan diri sebagai tuhan dengan perkataan, ”tuhan den je nyo kelen po”. LEMAN BOLIAL, perkataannya kadang tidak bisa dijadikan rujukan atau meragukan..

Tak jarang pula, gelar antropologis pada nama diambil dari pekerjaan yang bersangkutan. Contohnya, ASIN DUKUN, karena bekerja sebagai tukang urut atau dukun berobat. KASIN NIRO, karena pekerjaannya adalah baniro atau penyadap enau. Juga ada yang terkenal dengan sebutan KAYAT JUMAT. Itu karena orang yang bernama Jumat ini kerjanya adalah menjadi tukang baca kayat (hikayat). Atau orang yang dipanggil GURU MUSA karena Pak Musa memang cikgu lah kerjanya. Kayat Jumat dan Guru Musa ini agak ganjil karena profesinya diletakkan sebelum nama orangnya dan bukan sebaliknya seperti yang lazim digunakan.

Ada pula gelar antropologis yang diberikan karena tempat tinggal. Contohnya, ORA KARAK karena rumahnya terletak di Karak Baliku. USUP GUNUANG, karena rumahnya terletak di Gunung Kasiangan. Juga ada gelar antropologis yang merujuk pada hewan. Contohnya, SUMAN LALANG, karena ayahnya bernama Jontu yang mana jontu juga adalah nama salah satu jenis belalang yang banyak di ladang. SAIDI BAGUIK, baguik adalah nama limbat yang paling banyak minyaknya, sehingga sampai padam bara api oleh minyaknya kalau dipanggang. RUDIN KOBAU, karena selalu bicara tentang kerbau. SUMAN NANING, naning adalah semacam lebah dan Suman adalah orang yang lincah ke mana-mana. OSAI PIKEK, pikek adalah sejenis lalat besar yang menghisap darah binatang seperti kerbau atau sapi. Osai Pikek semasa hidupnya adalah orang yang berani menghadang tentara Belanda yang melintas di Batang Kuantan dengan bedil blansanya sehingga Belanda terpaksa ”merabo” (menembak kiri-kanan) di Batang Kuantan di mana diperkirakan Osai Pikek menghadang. Konon, pernah satu orang tentara Belanda kena tembak langsung jatuh dengan kursinya di haluan motor air yang ditumpanginya. DULAH KUNTUL, karena badannya putih seperti burung kuntul (bangau).

Ada juga gelar yang diberikan memang sesuai dengan gelar akademis cuma cara bacanya agak lain dari biasa. Contohnya, orang yang diberi gelar SH (baca : Se Ha). Itu karena yang bersangkutan memang punya gelar akademis sebagai seorang sarjana hukum (SH).

Tetapi yang paling unik adalah ketika nama akhirnya digantikan oleh tokoh lakon dalam randai. Contohnya adalah Rimi DATUK MENGKUDUN. Nama yang asli yakni Rimi akhirnya hampir tak pernah disebut lagi. Berganti dengan Datuk Mengkudun, peran yang dibawakan oleh Rimi ketika bermain randai dalam lakon cerita Siti Zubaidah.

Ada pula nama yang digantikan oleh gelar jabatan dalam organisasi silat. Contohnya, Raja Hamzah (Jonsa) yang dipanggil JI USU. Ji Usu alias Haji Yusuf adalah guru silat legendaris. Sama dengan nama BEROMBAN, gelar guru silat di Kenegerian Pangean.

Jika kita perhatikan lebih saksama, pemberian gelar-gelar antropologis ini sebenarnya bukanlah bermaksud untuk merendahkan atau menjatuhkan orang lain. Gelar antropologis diberikan lebih untuk memudahkan komunikasi karena banyaknya nama yang sama. Jadi, gelar antropologis diberikan untuk sebagai pembeda. Gelar antropologis  ‘terpaksa’ diberikan agar yang bersangkutan lebih cepat atau lebih mudah dikenal. Karena itu, gelar antropologis tidak pernah memakai nama sifat-sifat jahat yang biasanya digunakan untuk menghina seperti pencuri, perampok, maling, dan sejenisnya. Komunikasi yang baik, meminjam pena UU Hamidy adalah terpenuhinya tiga syarat makin, yakni makin cepat orang mengerti, makin banyak orang paham dan makin cepat orang bertindak. Selain itu, gelar antropologis ini juga tidak pernah dirancang dengan sengaja oleh seseorang, tetapi muncul dengan sendirinya dalam percakapan warga masyarakat di mana biasanya mereka berbual-bual seperti di kedai, di tepian, serta dalam perjalanan.

Uniknya lagi, gelar antropologis hampir tidak pernah dipakai ketika seseorang berhadapan langsung dengan yang bersangkutan. Jika ini terjadi, yang bersangkutan tetap akan dipanggil sesuai namanya yang asli, tanpa gelar antropologisnya. Gelar hanya dipakai ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain untuk menerangkan yang bersangkutan. Tetapi, gelar antropologis memang juga kadang ada tetap dipakai sebagai bahasa gurauan dari bako kepada anak pancarnya. Namun maksudnya tentu bukanlah untuk menertawakan tetapi agar komunikasi berjalan lebih intim dan akrab.

Jika seseorang tidak memiliki gelar antropologis, sebagai pembeda untuk memudahkan berkomunikasi maka disematkanlah nama suami atau istri di belakang namanya. Atau kadang ada pula yang dikaitkan dengan nama anaknya. Contohnya, Dija Ondek (ibu) Rasu dan Dija Ondek Ota. Kadang bisa pula disangkutkan nama bapaknya. Contohnya, KASIN BUNGKAL, karena ayahnya bernama Bungkal. AMIR MOLAI, karena bapaknya bernama Molai.

Tetapi, dari semua gelar antropologis ini, yang paling hebat adalah KARASAK MANJEK. Inilah gambaran kehidupan manusia yang tangguh. Bayangkan, karasak adalah ikan yang sudah disalai yang berarti tentu sudah mati. Meski penderitaan dan kemiskinan bersarang dalam hidupnya, dengan kuasa Allah, dia masih dapat memanja. Bagaikan ikan yang dibawa oleh Nabi Musa ketika mencari Nabi Khidir, yang tiba-tiba hidup, lalu meloncat dari bakul ke dalam laut.

Kembali ke lanjutan kalimat Shakespeare, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet” (Apalah arti sebuah nama? Andaikata engkau memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi). Tapi, apa jadinya kalau mawar diberi nama “bunga tahi ayam”? ***

Check Also

Merintang Hari Puasa, Oleh: Purnimasari

Puasa pertama seperti hari ini senantiasa mengingatkan pada setangkai kenangan masa kecil ketika bulan Ramadhan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *