Home / Bunga Rampai / Buku Santapan Rohani Ramadhan, Oleh: Purnimasari
Foto : Pinterest

Buku Santapan Rohani Ramadhan, Oleh: Purnimasari

Anak milenial mungkin tak pernah tau buku ini. Jangankan tau, mendengar namanya saja pun mungkin sudah tak pernah. Padahal, inilah salah satu buku paling sakral pada masanya : Buku Santapan Rohani Ramadhan.

Buku ini, Kawan, sungguh hebat bukan buatan. Dia tak pernah dicetak oleh penerbit manapun. Sudah tentu tidak punya ISBN. Dia dibuat secara mandiri oleh setiap murid sejak dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Menjelang Ramadhan, para guru agama akan sibuk memberikan tugas ini : membuat buku catatan Santapan Rohani Ramadhan. Buku ini, wajib dibuat sendiri sebab tak ada yang menjualnya di toko buku manapun. Boleh dibuat dari buku tulis merek apa saja. Merek Kiky jadi. Merek Sinar Dunia oke saja. Merek AA pun bisa. Atau merek lainnya, yang paling tipis pada zamannya, dengan sampul polos khas yang tak pernah berganti : warna biru dongker persis macam belau untuk baju.

Ada semacam pakem khusus tak tertulis terkait pembuatan buku ini. Biasanya, agak selembar atau dua lembar halaman buku tulis akan dibiarkan utuh seperti biasa. Selain daripada itu, akan digunting bagian paling atasnya, sedikit saja. Kira-kira sebesar 1,5 Cm. Lalu, di bagian lembaran yang utuh tadi, dibuatlah berbagai kolom ini : hari/tanggal/bulan/tahun, nama masjid, nama ustadz yang memberi ceramah, ringkasan/isi ceramah dan tanda-tangan ustadz. Berpandukan mal ini, nanti tinggal dibuat saja lanjutan kolom di setiap halaman dengan menggunakan penggaris. Kolom terbesar tentu saja isi ceramah. Biasanya ada pula judul ceramah di bagian atasnya. Entah siapa penemu patokan buku Santapan Rohani Ramadhan seperti itu. Anak-anak zaman dulu patut berterima kasih kepadanya.

Buku ini wajib diisi setiap hari. Itu maknanya, setiap murid wajib datang ke masjid setiap malam untuk membuat ringkasan ceramah. Biasanya, sebelum sholat Tarawih berjamaah, bakda Isya, ada ceramah oleh ustadz.

Geng masa kecilku punya cara jitu untuk mengamankan ‘posisi strategis’ selama Ramadhan. Kami selalu berusaha sholat Maghrib berjamaah di masjid. Setelah sholat, kami hamparkan sajadah sebagai tempat yang sudah kami cop. Nanti, begitu masuk waktu Isya, kami tak perlu lagi buru-buru ke masjid untuk berebut ‘seat’ karena tempat sholat kami sudah ada. Biasanya, tak ada yang berani mengenyahkan sajadah-sajadah itu.

Tapi, jangan pernah berani cop tempat di shaf depan. Bisa kena bebel dengan grup emak-emak garis depan. Tempat favorit kami adalah shaf paling belakang pas di bawah jendela. Selain bisa duduk bersandar, hembusan angin dari jendela adalah penawar luka bagi telekung yang basah oleh keringat. Harap maklum, masa itu hanya ada empat kipas angin di masjid kami. Itupun sudah mewah pada zamannya.

Membuat ringkasan ceramah adalah perkara yang lain lagi. Ini sebenarnya memerlukan kecerdasan dan skill tingkat tinggi. Perpaduan yang harmonis antara telinga yang stereo, prosesor otak dengan OS terbaru, program menulis yang bukan bajakan, kecepatan tangan dan keindahan tulisan.

Bagi murid-murid yang tak suka pelajaran mengarang indah, ini serasa azab penuh derita. Karena terkadang diperlukan juga imajinasi yang brilian sehingga ceramah ustadz bisa dituliskan dalam senarai yang indah. Jalan pintas terbaik tentu saja dengan mengcopy paste bulat-bulat dari buku catatan teman yang pandai mengarang. Apalagi kalau tulisan tangannya rapi. Hampir dapat dipastikan akan jadi rebutan. Padahal terkadang, inti dari tulisan itu tidaklah seberapa. Yang banyak hanya buih dan bunga-bunganya.

Atau bisa juga berjinak-jinaklah dengan kakak senior yang baik hati. Selalu saja ada anak-anak SMA yang mau membiarkan bocah SD ingusan untuk menyalin mati-matian sampai ke titik komanya.

Bagi sebagian anak, kegiatan santapan rohani Ramadhan memang benar-benar bermakna menyantap alias makan. Ketika kawan-kawannya sibuk membuat ringkasan ceramah ustadz, dia sibuk pula menyantap sate yang parkir pas di jalan depan masjid. Tertulis jelas nama di bagian depan gerobaknya : Sate Mira.

Sebenarnya, bukan pula sate yang disantap. Tetapi hanya cerocok. Inilah kasta terendah dalam dunia sate. Cerocok itu adalah daun pisang yang dibuat berbentuk kerucut, dengan disematkan lidi kecil di belakangnya. Lalu diisikanlah kuah sate ke dalamnya. Untuk menikmatinya, diberilah satu tusuk sate sebagai ‘penyendok’ kuah.

Cara terbaik menikmati cerocok adalah mengaduk-aduk tusuk sate dalam lautan kuah yang umumnya berwarna kuning atau merah. Setelah itu nikmatilah kuah yang telah memenuhi tusuk sate. Tapi, jangan makan dulu daging satenya. Itu adalah bagian terakhir untuk disantap. Ajo Sate Mira sudah hapal betul tipe cerocok kesukaan pelanggan kecilnya. Si Fulanah A suka pakai tambah kerupuk cabe. Si Fulanah B suka pakai kerupuk jangat (kerupuk kulit).

Saat sholat Tarawih akan dimulai, geng cerocok ini akan masuk ke masjid dengan wajah tanpa dosa. Begitu Tarawih dimulai, secepat kilat mereka akan menyalin ringkasan ceramah. Akibatnya, banyaklah shaf yang terputus. Ajaibnya, begitu menjelang salam, mereka auto pula melakukan posisi tahiyat akhir. Dengan demikian, para ibu di shaf-shaf depan akan mengira bahwa geng cerocok ini benar-benar pula ikut Tarawih.

Sidang pembaca yang budiman dan dirahmati Allah, begitu sholat Witir berakhir, maka akan berlarianlah anak-anak mendekati mimbar masjid. Sebab, tak jauh dari situ, ustadz yang tadi memberi ceramah akan duduk bersila. Siap sedia membubuhkan tanda tangan di buku Santapan Rohani Ramadhan.

Gharim masjid, Bang Khodri, akan segera mengumpulkan buku terhits di bulan puasa. Yang paling lambat mengumpulkan akan diparaf paling akhir. Maka berkerumunlah bebudak mengerubungi pak ustadz, melihat apakah bukunya sudah selesai ditanda tangan atau belum. Jika sudah selesai, target berikutnya kembali mengarah ke Bang Khodri. Dengan gaya khasnya, dia akan memberikan cap stempel masjid di samping tanda tangan ustadz. Kadang dia tak sabar melihat gaya selamba para bebudak. “Hoi, cepatlah sikit. Kami mau tadarus lagi ni ha,” sergahnya.

Jika sudah dapat stempel masjid, baru lah sah prosesi buku Santapan Rohani Ramadhan pada hari itu. Bebudak pun berlari menuju pintu masjid, sibuk mencari selipar yang kadang sudah centang-perenang di teras masjid. Yang perempuan kadang tak peduli lagi dengan kain sarung dan telekungnya. Pikiran sudah di rumah saja. Mana tau masih ada sisa kolak atau cincau yang bisa dihuntal.

Kini, buku Santapan Rohani Ramadhan tentu hanya tinggal kenangan bagi anak-anak yang lahir dan besar di era Orde Baru. Buku yang membuat mereka mau tak mau harus datang ke masjid. Walaupun, pada kenyataannya, mereka kadang lebih banyak bergelut daripada mendengarkan ceramah. Buku yang membuat mereka hormat pada sosok seorang ustadz yang tanda tangannya diburu. Buku yang membuat mereka berusaha memahami ceramah ustadz dan menuliskannya kembali, padahal di sekolah saja kadang pelajaran dikte masih kalang kabut. Buku yang membuat mereka segan pada profesi seorang gharim yang telah bersalin rupa menjadi pemegang hak tunggal stempel masjid. Buku yang membuat orangtua mereka memberikan uang jajan tambahan walau itu hanya Rp25-Rp50 dan hanya dapat untuk beli cerocok. Buku yang membuat mereka takut setengah mati pada para emak di shaf depan yang langsung mendamprat begitu salam dalam sholat selesai. Pasalnya tak lain dan tak bukan karena tawa tertahan bebudak di shaf belakang telah meruntuhkan kekhusyukan mereka. Si biang kerok adalah si fulanah yang suka mengaitkan telekung temannya.

Pernah sekali kejadian, buku Santapan Rohani Ramadhanku raib tak tentu rimbanya. Tau-tau sudah hilang saja. Penat mencari tiada berjumpa. Padahal bulan puasa sudah mau setengah jalan. Tak dapat akal lagi, maka terpaksalah membuat ulang. Alhamdulillah, kawan sama mengaji, si Upik, bersedia bukunya ditulis ulang. Buku Santapan Rohani Ramadhannya memang bersih dan rapi. Tulisan tangannya indah walaupun hanya pakai pena Pilot. Itupun kadang sering macet sehingga harus dibakar dulu sedikit ujungnya agar tinta mengalir lagi.

Maka, selama beberapa hari, tiap bakda Dzuhur, aku pergi ke rumah si Upik di Jalan Mujair, di samping rumah Pak Pamuntjak, untuk menyalin kembali ringkasan ceramah di buku Santapan Rohani Ramadhan. Beres perkara copy paste, muncul lah masalah baru. Bagaimana cara mendapatkan kembali tanda tangan ustadz sementara waktunya telah berlalu?

Lantas muncullah ide penuh syubhat ini. Tanda tangan ustadz itu akan coba ditiru saja satu per satu. Awalnya memang terasa inilah jalan keluar yang mangkus. Tetapi, kenyataan memberi bukti, meniru tanda tangan bukanlah perkara mudah bagi seorang anak SD yang in syaa Allah jujur dan baik hati serta suka menabung. Apalagi ketika tanda tangan ustadz tersebut nyata-nyata benar-benar susah untuk ditiru. Ada yang macam angin puting beliung. Ada yang bentuk benang kusut. Ada yang serupa awan berarak.

Maka berantakanlah tanda tangan palsu itu dalam buku Santapan Rohani Ramadhan. Karena memang bukan dilakukan oleh ‘pemain’ yang pro, tanda tangan itu benar-benar kelihatan tidak aseli. Terlihat jelas di sana tangan kecil yang gemetar ketika membuatnya. Terbayang pula jari-jari mungil yang berkeringat menirukan liukan tanda tangan yang susahnya Allahu Robbi.

Alhamdulillah, dengan modal kredibilitas, integritas dan wajah lugu, Allah melembutkan hati Bang Khodri. Alibi tentang buku catatan yang hilang membuatnya mau berbaik hati meminjamkan stempel masjid. Tak sampai 10 menit, semua tanda tangan palsu itu sudah sah bersanding dengan birunya stempel Masjid Al Khairat.

Masuk sekolah setelah libur hari raya, buku Santapan Rohani Ramadhan pun dikumpulkan. Guru Agama, Bu Delima, memberi nilai cukup bagus. Tiada usul periksa selidik tanda curiga. Padahal, sebagian dari tanda tangan di buku itu bukanlah tangan ustadz yang aseli. Tetapi adalah tanda tangan ‘ustadzah cilik gadungan’ berdedikasi tinggi.***

Check Also

Merintang Hari Puasa, Oleh: Purnimasari

Puasa pertama seperti hari ini senantiasa mengingatkan pada setangkai kenangan masa kecil ketika bulan Ramadhan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *