Sak wasangka adalah sikap yang paling ditakuti dan sekaligus dibenci dalam tradisi Melayu. Tetapi anehnya, sekarang ini malah kita seakan dianjurkan punya sikap curiga terhadap siapapun, dengan redaksi demi keamanan. Bahkan sak wasangka malah dijadikan semacam cara kerja. Sungguh, dunia …
Baca SelengkapnyaPuasa dan Orang Bagak, Oleh: UU Hamidy
Banyak orang memandang silat hanyalah semacam olah raga bela diri, tidak punya nilai ruhani yang memadai. Anggapan itu tidak berlaku dalam dunia Melayu di Riau. Silat pada awalnya bukanlah dirancang oleh seorang ahli bela diri atau olah raga, tapi ditaja …
Baca SelengkapnyaBagaikan Aur dengan Tebing, Oleh: UU Hamidy
Bagaimana tebing sungai sekarang ini? Keadannya lebih daripada mencemaskan. Sementara hampir tak ada pihak yang memperhatikannya, apalagi memeliharanya. Beberapa negeri atau kampung di pinggir sungai sudah runtuh ke dalam sungai. Ada kampung yang terkepung disebut Pulau Kepung, karena tanah di …
Baca SelengkapnyaMitos dan Syariah Islam (Kajian Sejarah Melayu oleh Tun Sri Lanang), Oleh: UU Hamidy
1. Harga Diri dan Mitos Harga diri merupakan dimensi kehidupan umat manusia. Beberapa jalan telah ditempuh demi mendapatkan harga diri. Yang mengikuti gelombang materialisme telah membangun harga diri dengan kebendaan. Jumlah harta benda dipakai untuk menentukan tinggi rendahnya harga diri. …
Baca SelengkapnyaMujahidin Iranun Sabah; Pembela Martabat Riau, Dicap Penjahat, Oleh: UU Hamidy
Mungkin banyak orang tak menyangka bahwa kata lanun yang diartikan perompak atau bajak laut itu rupanya berasal dari nama suku Iranun atau Ilanun. Di negeri asalnya yang dulu pernah menjadi kerajaan bernama Tempasuk (Tempasok), puak ini disebut Iranun. Sedangkan di …
Baca SelengkapnyaAir di Hulu, Oleh: UU Hamidy
Hubungan antara pemerintah dengan rakyat dalam tatanan sistem demokrasi sekuler hampir tak pernah diperhatikan dengan saksama serta dievaluasi dengan teliti. Cogan kata demokrasi ”dari, oleh dan untuk rakyat” ternyata hanya fatamorgana — lautan pasir pada panas matahari yang kelihatan bagaikan …
Baca SelengkapnyaHasan Junus; Pena yang Tak Kunjung Kering, Oleh: UU Hamidy
1. Pewaris Darah Pengarang Kalau ada pengarang kreatif di Riau tidak mengenal nama Hasan Junus, maka akan diragukan kepengarangannya. Betapa tidak, sebab tokoh yang kita ketengahkan ini, sudah mengharu-biru belantara dunia kreatif di Riau. Mulai dari Kepulauan Riau (Tanjungpinang) sampai …
Baca SelengkapnyaBudi Demokrasi, Oleh: UU Hamidy
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam satu-satunya pribadi yang menampilkan sekaligus memberi contoh kehidupan ini hendaklah dilalui dengan budi pekerti yang mulia. Pantaslah Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendapat julukan Junjungan Alam, karena alam memberi salam kepada baginda, sebab dengan risalah yang …
Baca SelengkapnyaDemokrasi Tidak Bermalu, Oleh: UU Hamidy
Malu, inilah kata yang dibuang bagaikan sampah. Padahal inilah benteng akhlak mulia. Dalam tradisi Melayu tua, malu menjadi adat, sedangkan pada Melayu muda, malu bersehati dengan iman. Seorang lelaki yang mau ke tepian, dia harus mendehem lebih dahulu, memberi tanda …
Baca SelengkapnyaCerdas dan Cerdik dalam Pemilu, Oleh: UU Hamidy
Masyarakat Melayu tradisional mempunyai empat macam pemegang teraju kepemimpinan. Pertama, tokoh tradisi yakni dukun, bomo, pawang, kemantan dan guru silat. Kedua, tokoh adat seperti datuk, batin dan penghulu. Ketiga, teraju kerajaan yakni Yang Dipertuan Besar atau Sultan dan Yang Dipertuan …
Baca Selengkapnya
Bilik Kreatif Bersatu di Ujung Mata Pena