Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Sesal Dahulu Pendapatan, Sesal Kemudian Tak Berguna, Oleh : UU Hamidy
Foto : nosidebar.com

Sesal Dahulu Pendapatan, Sesal Kemudian Tak Berguna, Oleh : UU Hamidy

Allah yang Maha Kuasa benar-benar telah merancang ciptaan-Nya dengan Maha Bijaksana. Setelah Allah menciptakan manusia sebagai sebaik-baik makhluk, kemudian Dia menurunkan Al-Qur’an kepada Junjungan Alam Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk menuntun kehidupan umat manusia agar dapat hidup dengan taat dan patuh pada Allah dan Rasul-Nya. Maka dengan Al-Qur’an yang tiada diragukan kebenarannya, Allah yang Maha Penyayang menjelaskan bagaimana akhirnya kesudahan alam semesta ini. Dunia atau alam semesta ini akan kiamat diganti dengan akhirat. Kita tidak akan pernah kembali lagi pada alam yang sudah kita lalui.

Dunia adalah negeri rantau tempat kehidupan sementara menuju negeri akhirat yang kekal. Karena itu, hidup dunia yang sebentar menuju akhirat harus digunakan untuk bekal amal shaleh agar dapat masuk negeri surga yang penuh kenikmatan. Nikmat surga di akhirat benar-benar tak dapat dilukiskan dengan kata-kata sebab nikmat dunia ini betapapun nikmatnya hanya sebanding dengan setetes air laut yang tinggal pada jari kita ketika dicelupkan ke laut. Lautan yang luas itulah bandingan nikmat surga yang tiada terkira.

Bagaimana perjalanan menuju akhirat yang akan berakhir dengan surga atau neraka telah disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan sempurna lewat Al-Qur’an dan as-Sunnah untuk menyelamatkan umatnya dari azab yang berat di akhirat. Dengan demikian, sesungguhnya misteri hidup dan mati itu sudah tuntas disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan agama Islam yang sempurna dari Allah Ta’ala. Karena itu, jalan menuju pertemuan dengan Allah Ta’ala itu sebenarnya sudah terang-benderang ditunjukkan oleh penunjuk jalan yang cerdas yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang jadi rahmat bagi segenap alam.

Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, berlaku pada manusia yang tak mau membuka pintu hatinya menerima hidayah Allah yang Maha Pemurah. Manusia yang lalai itu terlena oleh dunia yang menipu melalui bujukan syetan yang terkutuk. Dalam kelalaian yang panjang akhirnya dia sampai pada ajalnya. Maka barulah dia sadar dia benar-benar telah merugi dan menyesal, betapa dunia telah dia pakai dengan sia-sia sehingga hidupnya berakhir dengan penyesalan yang tiada berguna. Dia berharap dapat lagi kembali ke dunia untuk beramal shaleh. Namun itu hanya penyesalan dalam angan-angan yang takkan pernah jadi kenyataan. Sebab kita tidak akan kembali lagi kepada alam yang sudah kita lalui.***

Check Also

Puisi; Sebuah Pengantar, Diterjemahkan Oleh: UU Hamidy

Puisi barangkali sejenis karya yang cukup sulit. Ini suatu kemungkinan karena sifat atau tabiat yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.