Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Air di Hilir Takkan Jernih, Jika di Hulu Airnya Keruh, Oleh : UU Hamidy
Foto : alinadreams.com

Air di Hilir Takkan Jernih, Jika di Hulu Airnya Keruh, Oleh : UU Hamidy

Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang telah menurunkan wahyu pada para nabi (rasul) untuk membimbing kehidupan umat manusia agar hanya beribadah dan menyembah Allah Yang Maha Esa. Para nabi yang dapat wahyu itu manusia pilihan Allah, punya akhlak mulia, sehingga dengan wahyu itu para nabi ini menjadi mata air yang jernih di hulu, yang kemudian mengalir pada umatnya, agar umatnya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi yang menyampaikan wahyu melalui dakwah pada umatnya bagaikan membersihkan jiwa umatnya dengan aqidah yang benar.

Aqidah umat itu kebanyakannya sudah kotor oleh takhyul, kekafiran, dan kesyirikan dan berbagai maksiat lainnya dibersihkan oleh para nabi utusan Allah dengan wahyu Allah bagaikan mata air yang jernih membersihkan kotoran. Hasilnya, umat manusia diharapkan benar-benar hanya beriman pada Allah dengan sempurna beribadah menyerahkan hidup dan matinya kepada Allah Ta’ala.

Itulah sebabnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bertanya pada para sahabat, ‘’Jika di depan pintu rumah kalian ada sungai yang mengalir, lalu kalian mandi di situ lima kali sehari, adakah lagi kotoran pada kalian?’’

‘’Tidak ya Rasulullah,’’ jawab para sahabat.

Begitulah, bersih dan sucinya diri manusia oleh wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya. Maka dari sini, mudah dipahami dengan akal sehat, betapa aturan buatan manusia dalam sistem demokrasi tidak akan dapat menampilkan jiwa yang bersih dengan aqidah yang jernih (benar) sehingga juga tak mampu menampilkan insan dengan perilaku akhlak mulia. Sebab aturan demokrasi buatan manusia itu tak dapat menjadi mata air yang jernih karena tidak mendapat panduan wahyu dari Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Tak ada jalan lain bagi umat manusia untuk dapat hidup mulia dan terhormat, serta yang lebih utama selamat hidupnya di dunia dan akhirat, selain daripada menjadikan Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai mata air yang jernih untuk membuat kotoran jiwa dan raganya. Maka beruntunglah orang yang selalu membersihkan jiwanya dengan wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya. Dan merugilah orang yang mengotori jiwanya bergelimang dengan aturan demokrasi buatan manusia yang membuat dia jadi durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.***

Check Also

Puisi; Sebuah Pengantar, Diterjemahkan Oleh: UU Hamidy

Puisi barangkali sejenis karya yang cukup sulit. Ini suatu kemungkinan karena sifat atau tabiat yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.