Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Rendah Hati Melayu Petalangan, Oleh : UU Hamidy
Foto : Dokumentasi Bilik Kreatif

Rendah Hati Melayu Petalangan, Oleh : UU Hamidy

Kata Melayu yang sudah bersebati dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah dari agama Islam dapat memberikan bayangan ‘’menjadi layu, ‘’menjadi lembut’’, setelah menghadapi fitnah dunia yang datang bagaikan pane garang, terik panas matahari. Simaklah bagaimana orang Melayu memberi konotasi terhadap perangkap dunia yang dibuat begitu menggiurkan oleh syetan. Dunia Melayu telah memberi rujukan pada dunia yang sarat dengan tipu daya itu dengan kata ‘’serakah’’, ‘’loba’’, ‘’kaok’’, ‘’tamak’’, ‘’cerdik buruk’’, ‘’kikir’’, ‘’lokek’’ dan ‘’pelit’’ yang tampak dalam berbagai kiasan dan ungkapan.

Kemudian hitungan dunia itu dikatakan keras, etongan dunio du kore, kata dialek Melayu Rantau Kuantan bak gajak masuk barongsong, omua indak omua harus masuk (seperti gajah masuk barongsong, mau tidak mau harus masuk). Inilah wajah dunia yang sekarang ini sudah ‘’lemak lepong’’ (kumal dengan karut) oleh demokrasi yang tampil dengan tipu daya licik, curang dan munafik. Maka jika dunia mau diperlakukan sebagai tempat singgah sementara dalam perjalanan panjang menuju surga di akhirat yang kekal harus dihadapi dengan aqidah tauhid yang kokoh diiringi dengan gaya penampilan tingkahlaku yang mulia.

Pertama, ’’hendaklah anak baonda ati, onda ati tando babudi’’. Eloklah anak berendah hati, rendah hati tanda berbudi. Rendah hati adalah obat yang paling mangkus (mujarab) untuk menghadapi dunia yang tampil dengan sombong, egois, hedonis, dan tinggi hati. Siapa yang tidak dapat berendah hati niscaya akan terjerat oleh keangkuhan dunia, pantangan dipandang enteng. Sebagaimana disindir oleh Al-Qur’an dengan hati yang membatu. Atau tanah licin yang keras yang tak mau menyimpan air hujan. Inilah hati yang tidak mau menerima hidayah Allah.

Kedua, ‘’kalau duduk di topi-topi, tapi jangan ke topi sangat, nanti tecampak ke pelimbahan’’. Jika orang yang rendah hati ini mengambil tempat duduk pada suatu majelis, maka dia akan mengambil tempat di tepi, bukan mencari tempat duduk di tengah sehingga menyusahkan orang lain. Dia selalu memberi kelapangan pada anggota majelis yang lain agar dapat ikut serta duduk.

Ketiga, ‘’kalau becakap di bawah-bawah, tapi jangan ke bawah sangat, nanti mati dipijak gajah’’. Kalau ada manfaat boleh kita berbicara dalam majelis. Tapi jangan sampai kita berbicara yang membanggakan diri yang akan mendatangkan maksiat sehingga kita jatuh durhaka menjadi hina-dina.

Keempat, ‘’kalau mandi di ilei-ilei, tapi jangan ke ilei sangat, nanti anyut ditolan gelombang’’ (kalau mandi di hilir-hilir, tapi jangan ke hilir sangat, nanti hanyut ditelan gelombang). Kalau kita mengambil kesempatan untuk memperbaiki keadaan hidup kita, jangan sampai kita mengambil jalan yang curang, yang tidak diridhoi oleh Allah yang Maha Pengasih, sehingga kita akhirnya jatuh melarat dan sengsara oleh perbuatan maksiat kita sendiri. Sebagaimana disindir oleh Al-Qur’an segala yang baik datang dari Allah sedangkan yang buruk disebabkan oleh kesalahan dirimu sendiri.***

Check Also

Estetika Melayu, Oleh : UU Hamidy

Setelah kita memperhatikan karya-karya orang Melayu di Riau yang mengandung unsur kesenian mulai dari bidang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.