Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Puisi; Sebuah Pengantar, Diterjemahkan Oleh: UU Hamidy
Foto : kuer.org

Puisi; Sebuah Pengantar, Diterjemahkan Oleh: UU Hamidy

Puisi barangkali sejenis karya yang cukup sulit. Ini suatu kemungkinan karena sifat atau tabiat yang diperlukan oleh puisi ialah kepadatan dan kehebatan, tidak seperti biasanya yang kita jumpai dalam prosa. Kata-kata dalam puisi bukan hanya memikul bobot yang berat mengenai isinya dibandingkan dengan kebiasaan pada prosa. Tetapi juga harus mencukupi tujuan kedua dalam memperberat bunyi dan irama pada baris sajak yang ditampilkannya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa puisi seringkali menyimpang lebih jauh dibandingkan dengan prosa, dari pemakaian bahasa sehari-hari. Susunan kata-kata yang umum dalam pengucapan yang biasa dapat menjadi susunan yang terbalik di dalam puisi. Atau sebuah kata yang biasanya diharapkan ada dalam sebuah kalimat, ternyata dapat dikeluarkan dari baris puisi, dalam susunan untuk memperoleh arti yang intensif atau untuk memelihara irama maupun meter.

Lagipula, pilihan kata dalam puisi kadang-kadang menggabungkan kata atau kelompok kata yang sudah tua atau kuno, yang akhirnya memperberat arti, tetapi hal ini membuat puisi kurang jelas. Akhirnya banyak puisi yang mempunyai kualitas lirik yang diberikan oleh pikiran dan perasaan penyair dalam usaha memperhebat gaya atau cara pribadinya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa puisi memerlukan pembahasan jika pembaca ingin bekerja melebihi dari hanya memperhatikan permukaan ekspresinya secara keseluruhan. Penelitian mengenai kata yang dipakai penyair sering menjadi penelitian mengenai arti kata yang dipakainya. Terhadap jenis penelitian ini pertama-tama harus dipunyai ilmu pengetahuan tentang sistem dan ilmu sajak yang dipakai dalam bahasa yang sangat kaya, di luar bacaan beberapa sajak.

Jika sebuah puisi mempunyai karya seni yang sukses, biasanya dalam beberapa hal memberikan suatu pengalaman yang unik bagi pembacanya. Terhadap kenyataan ini penyair seringkali harus bekerja keras dalam penyusunannya untuk penemuan yang sempurna. Tapi paksaan yang demikian adalah konstruktif—bukan destruktif—asalkan proses itu diikuti dengan suatu keharusan turut merasakan. Kecerdasan menyusun kembali puisi itu memerlukan pengetahuan. Beberapa mahasiswa menguasai obyek itu dengan membedah (memotong-motong bagian puisi tersebut) yang akan membinasakan keindahan puisi tersebut.

Tetapi berlawanan dengan hal itu, mengetahui bagian-bagian sebuah puisi memberi kesempatan pertama-tama untuk melihat keindahannya secara keseluruhan. Keadaan itu bagaikan percobaan pembedahan terhadap seekor katak dalam laboratorium sekolah. Setelah selesai acap kali semuanya hanya untuk mengetahui bagaimana seluruh tubuh katak itu terbentuk. Sedangkan permulaan pembedahan itu sendiri tidak akan pernah mereka ceritakan. Terhadap kenyataan ini, mahasiswa yang hendak berurusan dengan puisi haruslah seorang ahli bahasa dan harus menelaah bahan-bahannya dengan cara yang teliti sebagai seorang ahli.

Pekerjaan yang demikian dalam zaman kita sekarang ini disebut kritik baru (new critics). Pengkritik serupa itu misalnya L A Richard, Cleauth Brooks dan Robert Penn Warren yang telah memberikan penjelasan bagi kebutuhan uraian yang teliti terhadap teks puisi. Para kritikus ini mengemukakan suatu persoalan, bahwa keberhasilan sebuah puisi bergantung pada keharmonisan antara isi dengan bentuk dalam penyajiannya. Hal itu menjadi amat mendasar sehingga ada hubungan yang erat antara bagaimanakah penyair itu bekerja dengan apa yang dikatakan oleh penyair itu. Sesungguhnya arti bentuk suatu puisi mengandung apa yang dikatakan penyair isinya dapat dipahami oleh bentuk yang digambarkannya.***  

(Oleh Edmods L Volpe dalam Poetry, Diterjemahkan oleh UU Hamidy)

(Dari Bahasa Melayu Sampai Bahasa Indonesia, UU Hamidy)

Check Also

Estetika Melayu, Oleh : UU Hamidy

Setelah kita memperhatikan karya-karya orang Melayu di Riau yang mengandung unsur kesenian mulai dari bidang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.