Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Menahan Jerat Lewat Rarak Kuantan, Oleh: UU Hamidy
Kampung Kerinchi, Kuala Lumpur. Foto: says.com

Menahan Jerat Lewat Rarak Kuantan, Oleh: UU Hamidy

Masih ada satu matarantai silaturahmi yang dicari oleh UU Hamidy selama melanjutkan studi di Malaysia. Setelah berhasil menjumpai adik ayahnya, UU Hamidy mencari Ahmadun. Mereka berdua dipertalikan oleh datuk mereka yang bersaudara.

Jejak Bang Ahmadun benar-benar g e l a p bagi UU Hamidy, karena tak ada dasar berita apapun juga yang dapat dibawa dari kampung Siberakun, Nagori Pasak Malintang. Maha benarlah Allah, Dia berbuat dengan Maha Kasih Sayang serta dapat memberikan bantuan dengan tidak diduga kepada siapapun juga yang Dia kehendaki.

UU Hamidy selalu shalat Maghrib dan Isya di Masjid Tuanku Abdul Rahman di Bangsar, Kuala Lumpur yang dekat dengan tempat tinggalnya di Kampung Kerinchi. Jamaah masjid ini sebagian besar adalah orang kita Melayu dari Kampung Kerinchi. Tiap selesai shalat, biasanya UU Hamidy duduk di serambi masjid sambil bercakap-cakap dengan jamaah menanti datang waktu Isya.

Pada suatu ketika, dia mengatakan kepada jamaah lawan bicaranya di serambi masjid bahwa dia sebenarnya ingin berjumpa dengan abangnya yang bernama Ahmadun, yang dulu telah pergi ke Malaysia dalam tahun 1950-an. Dengan pertolongan dan kehendak Allah, maka ada seorang jamaah yang mengaku bahwa suami daripada kakak isterinya memang berasal dari Kuantan, Riau. Dia dipanggil Cik Mad. UU Hamidy dapat firasat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa barangkali itulah orang yang dia cari.

Dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, rumah jamaah yang memberi keterangan tentang Cik Mad ini berdekatan pula dengan rumah tempat tinggal UU Hamidy. Rupanya, Cik Mad bekerja pada Bas Mini, dan selalu pula malam selepas habis bekerja sekitar pukul 10 malam. Cik Mad sering mampir di rumah jamaah ini, karena memang isterinya bersaudara.

Maka dipesanlah oleh UU Hamidy, jika Cik Mad pulang nanti, tolong suruh dia mencari rumah tempat UU Hamidy menginap. Setelah dipesan demikian, maka pada malam rencana itu, UU Hamidy menahan ‘jerat’ dengan memutar rarak silek Rantau Kuantan, untuk memberi petunjuk nanti kepada Cik Mad jika dia melintas.

Maka ‘’bingke lah jorek’’ (mengenalah jerat). Ketika Cik Mad lewat, telinganya segera mendengar rarak itu, yang sekaligus membangkitkan bayangannya kepada masa silam hampir 40 tahun. Dia tak ragu lagi, lalu mengetuk pintu. UU Hamidy membuka pintu dan begitu Cik Mad masuk langsung dirangkul dengan hangat oleh UU Hamidy. Maka berderailah gelak mereka, menyambut hari kebahagiaan kembalinya silaturahmi yang putus ini dengan tiada terduga selain dari rencana Allah Yang Maha Bijaksana.

Maka tali silaturahmi antara anak cucu Ahmadun di Malaysia dengan anak cucu saudaranya di Siberakun, Rantau Kuantan kembali tersambung setelah anak perempuannya yang bernama Roslaini datang menjumpai anak Amadun yang tua yang bernama Supar dengan suaminya Hanafi di Pekanbaru pada tahun 2017.***  

Check Also

Konfrontasi Malaysia; Minta Paksa Ubi Kayu, Oleh: UU Hamidy

Semasa saya bersekolah di Sekolah Guru A (SGA) Jambi (1961-1963) meletuslah konfrontasi dengan Malaysia. Presiden …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *