Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Mati Semut karena Manisan, Oleh : UU Hamidy
Foto : newleafpestcontrol.com

Mati Semut karena Manisan, Oleh : UU Hamidy

Allah Maha Raja umat manusia, Maha Besar lagi Maha Perkasa serta Maha Raja Hari Kemudian, menyampaikan kebenaran bagi umat manusia dalam Al Qur’an sebagian di antaranya dengan memakai perumpamaan. Dengan perumpamaan itu, terbayang atau tergambar dalam pandangan mata, apa maksud perumpamaan tersebut.

Demikianlah, setelah agama Islam menjangkau dunia Melayu di Nusantara, bahasa dan budaya Melayu mendapat kadar ajaran Islam pelan-pelan bagaikan akar kayu menembus tanah. Mula-mula bahasa dan budaya Melayu yang karut dengan Anismisme-Hinduisme diberi jubah Islam, seperti mantera dan jampi dibuka dengan menyebut nama Allah, bismilahirrahmanirrahim. Kemudian diakhiri dengan kabul dan berkah dari Allah serta shalawat bagi Baginda Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Setelah itu, bahasa dan budaya Melayu yang bermuatan nilai Anismisme-Hinduisme itu diberi tandingan dengan karya yang bernafaskan Islam. Cerita Mahabrata dan Ramayana dari ajaran Hindu yang karut ditandingi dengan hikayat Perang Hasan dan Husin, sehingga kehebatan sihir Arjuna yang mampu menampilkan ribuan anak panah dalam peperangan, jadi redup oleh karomah Sayyidina Hamzah yang mampu mencabut kayu tingginya dari tujuh petala bumi sampai tujuh petala langit. Lalu kemudian dihempaskannya kepada negeri orang kafir. 

Begitulah bahasa Melayu meniru gaya bahasa Al Quran dan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sehingga perumpamaan bahasa Melayu itu pernah pula dinamakan hadits Melayu. Satu di antara perumpamaan itu yang paling menarik ialah ‘’mati semut karena manisan’’. Perumpamaan ini, benar-benar amat sanggam lagi mengena untuk menggambarkan bagaimana nasib manusia yang celaka karena sangat mencintai dunia. Perumpamaan ini benar-benar menampilkan penghayatan ajaran Islam yang berpesan agar manusia zuhud (tidak terperangkap) kepada dunia, agar dapat dicintai Allah yang Maha Penyayang.

Manusia jadi bernasib malang karena tergila-gila oleh dunia yang dijadikan perangkap oleh syetan, sehingga segala maksiat terpandang indah dan menyenangkan. Padahal, bagi manusia yang beriman dengan aqidah yang benar, dunia itu apalah artinya, jika tidak digunakan untuk ladang beramal shaleh mencari keridhaan Allah yang Maha Penyantun. Di sisi Allah yang Maha Kaya, nilai dunia tak sampai selembar sayap nyamuk. Bahkan, sabda Junjungan Alam Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan dunia ini lebih hina daripada bangkai seekor anak kambing yang cacat.

Jadi begitulah, untuk menghalangi manusia pada jalan Allah yang akan membawanya menuju surga, syetan membuat dunia menjadi madu yang manis lagi menggiurkan, sehingga menarik nafsu untuk mencicipinya. Tapi apa yang terjadi akhirnya? Mula-mula semut yakni perlambangan atau perumpamaan untuk manusia mula-mula hanya mencoba sedikit. Kemudian karena enak atau manis lalu menambah lagi.

Semula hanya menikmati madu (nikmat dunia) bagian pinggir. Lama-lama terperosok ke dalam kancah madu lalu berkubang dengan madu atau nikmat dunia, sehingga tergetah tak berdaya lagi. Manusia dengan dunia seperti itu tinggal menanti ajal menunggu nasib malang. Demikianlah dunia membuat nasib malang bagi manusia yang berpaling dari fitrah penciptaannya yang benar oleh Allah serta menolah sunnah dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pembawa rahmat bagi seluruh alam.***

Check Also

Yang Utama Berkahnya, Bukan Jumlahnya, Oleh: UU Hamidy

Dilihat dari sudut pendapatan per kapita, tak dapat diingkari betapa pembangunan yang dilakukan oleh bangsa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *