Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Kenangan Selama Merantau di Aceh, Oleh: UU Hamidy
Foto: permairantautravel.com

Kenangan Selama Merantau di Aceh, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Bijaksana telah menurunkan Al-Qur’an untuk pelajaran, pedoman, dan petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Al-Qur’an memberi pelajaran lewat kisah umat-umat terdahulu. Sebagian di antara mereka telah taat kepada Rasul yang diutus Allah kepada mereka. Sebagian lagi menolak sehingga tetap menjadi kafir dan tenggelam dalam kesyirikan.

Al-Qur’an memberi pedoman bagaimana hidup yang benar dengan memakai hukum dari Allah Yang Maha Adil. Al-Qur’an memberi petunjuk mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang berpahala dan mana yang berdosa. Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu tercatat dengan rapi lagi terpelihara di sisi Allah, sebagai bukti betapa luasnya ilmu Allah. Al-Qur’an berpesan agar orang yang punya akal budi yang sehat dapat mengambil pelajaran akan segala sesuatu yang sudah terjadi.

Demikianlah, pada tahun 1974 Yayasan Ilmu-ilmu Sosial yang dipimpin oleh Prof Dr Selo Soemardjan bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), The Ford Foundation dan Pemda Daerah Istimewa Aceh mendirikan Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial di Aceh. Pusat penelitian ini dipimpin oleh Dr Alfian dari LIPI dengan tenaga ahli metode penelitian ‘’grounded reasearch’’ Dr Stuart Schlegel dari Universitas California.

Pusat Latihan ini berada di kampus Darussalam, yang di situ berada Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dari seluruh pelamar di Indonesia, hanya diterima 12 orang. Enam orang merupakan jatah untuk Aceh, sedangkan enam orang lagi dari luar Aceh. Pusat Latihan ini dibuka oleh Gubernur Aceh Muzakkir Walad dengan jamuan makan bagi para peserta dan undangan. Bulan berikutnya, peserta mendapat lagi jamuan makan dari Rektor Unsyiah Prof Dr Ibrahim Hassan. Begitulah hampir tiap bulan peserta Pusat Latihan mendapat jamuan makan karena peserta dari Aceh juga tak mau ketinggalan memberi kenangan budi yang baik.

Pada bulan Desember 1973 berangkatlah saya dengan isteri saya Aswarni dan anak saya Ilmanosa yang baru berumur enam bulan ke Aceh. Alhamdulillah, dengan kebaikan Rektor Unsyiah kami bertiga dapat memakai asrama mahasiswa yang baru selesai. Asrama ini cukup banyak memberi kemudahan, karena kami dengan mudah dapat ke tempat yang diperlukan dengan jarak yang cukup dekat.

Kantor Pusat Latihan dapat dicapai dengan jalan kaki, sebab hanya sekitar 500 meter dari asrama. Tidak jauh dari asrama, ada pula Meunasah Teuku Cik Pante Kulu yaitu semacam pondok untuk mendidik anak-anak Batak Karo mempelajari agama Islam. Meunasah ini dibiayai oleh Pemda Aceh serta dibina oleh tenaga dari Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry.

Saya hampir tiap pagi berjalan-jalan ke sini sambil melatih anak saya berjalan. Kemudian rumah Pak Anzib (Abdul Aziz Lamnyong), pensiunan guru sekolah dasar adalah seorang kolektor hikayat Aceh. Dia informan kunci bagi saya dalam penelitian cerita rakyat Aceh. Rumahnya dapat saya tempuh dengan jalan kaki yang jaraknya 2 Km dari asrama.

Kami berbelanja ke Banda Aceh sekali dalam seminggu, jatuh pada hari Ahad. Jarak Banda Aceh dengan kampus Darussalam sekitar 8 Km dapat dicapai dengan naik bus kampus. Sekitar pukul 9 pagi kami biasanya berangkat menuju stasiun bus. Tidak lama kemudian sudah dapat berangkat ke Banda Aceh. Setelah berbelanja kami mencari kedai nasi agar pulang ke rumah tidak memasak lagi, sebab sudah makan di pasar. Kami sering makan di Penayung yaitu kedai nasi masakan Minang.

Rezeki kami tiga beranak selama setahun di Aceh amat menyenangkan. Tadi seperti dikatakan di muka, hampir tiap bulan mendapat jamuan makan, yang kata orang Kuantan dikatakan ‘’malopean tobek’’. Tiap kami tiga beranak hadir pada jamuan makan, anak saya Ilmanosa sering diolok-olokkan oleh para peserta dengan ucapan ‘’peserta penelitian nomor ke-13’’—sebab jumlah peserta yang resmi ialah 12 orang.

Begitulah kami mendengar ada kedai nasi masakan Aceh yang cukup terkenal menghidangkan gulai atau kari yakni gulai kambing. Maka setelah belanja di pasar, sampai mendekati pukul 11 siang, kami mencari kedai itu dan makan di sana. Ternyata, memang enak sehingga menambah selera makan daripada yang biasa.

Kemudian kami pulang ke Darussalam mendekati waktu Dzuhur. Setelah tiba di rumah, lalu ganti pakaian, terasa mata sangat mengantuk. Kami pun tidurlah di ruang asrama yang cukup lapang karena memang tak ada urusan yang akan dikerjalan.

Tapi, kami tahu-tahu tertidur lelap begitu rupa sehingga baru terbangun sudah hampir habis waktu Dzuhur. Kami heran mengapa enak sekali tidur setelah makan gulai kambing di kedai di pasar itu. Besoknya, peristiwa ini saya ceritakan kepada teman-teman peneliti asal Aceh di antaranya Bachtiar Effendi Panglima Polim dan Karimuddin. Mereka tanya makan di mana sebelum ke rumah? Lalu saya katakan di kedai tersebut.

Keduanya tertawa berderai sambil menepuk-nepuk bahu saya kemudian berkata, ‘’Itu gulai kambing pakai resep ganja.’’ Orang Aceh biasa memakai ganja sebagai bumbu penyedap gulai. Bumbu ganja ini dibungkus dengan kain lalu digantungkan dengan tali di atas tungku tempat memasak.

Bila masakan perlu diberi bumbu penyedap dengan ganja, maka tali tinggal ditarik ke bawah lalu bungkusan itu dicelupkan ke dalam kuali atau periuk yang sedang dipakai untuk memasak. Karena itu, makin lama dicelupkan tentu kadar ganja akan makin kuat. Inilah yang bisa membuat masakan seperti gulai kambing membuat konsumen tertidur lelap setelah makan, karena barangkali celupan ganjanya lebih daripada yang biasa.***

Check Also

Karena Sungai Siak, Biaya Penelitian jadi Tiga Kali Lipat, Oleh: UU Hamidy

Pulang dari Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (PLPIS) di Aceh tahun 1974, UU Hamidy langsung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *