Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Kadar Syariah Islam dalam Tradisi Merantau Orang Melayu, Oleh: UU Hamidy
Foto: uclg.org

Kadar Syariah Islam dalam Tradisi Merantau Orang Melayu, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana telah menjamin rezeki semua makhluk melata di muka bumi. Karena itu, setelah manusia beribadah kepada Allah Ta’ala maka hendaklah dia bertebaran di muka bumi mencari rezeki atau rahmat Allah. Rezeki itu ada yang dapat diperoleh di negeri sendiri, tapi juga ada yang tersedia di rantau orang.

Orang Melayu sebagai manusia perairan yang mendiami daerah aliran sungai dan pulau-pulau, dengan mudah pergi merantau melalui aliran sungai atau menyeberang antar pulau. Biasanya, orang Melayu merantau dengan niat dapat kembali ke kampung halaman setelah mendapat rezeki yang memadai di rantau orang.

Orang Melayu merantau disebabkan oleh tiga perkara. Pertama, dengan maksud mendapat rezeki yang lebih banyak daripada di kampung sendiri kemudian pulang ke kampung dengan maksud dapat memperbaiki kehidupan menjadi lebih baik.

Kedua, merantau karena ada bencana di kampung halaman. Nanti setelah keadaan membaik akan kembali lagi ke negerinya. Ini misalnya berlaku pada orang Melayu di Sumatera merantau ke Malaya (Malaysia sekarang) karena penjajahan Belanda lebih zalim daripada penjajahan Inggris di Malaya. Setelah Indonesia merdeka, sebagian pulang ke Sumatera; sebagian lagi menetap karena sudah beranak-pinak di Negeri Semenanjung Melaka itu.

Ketiga, merantau karena perselisihan dengan sanak keluarga di kampung. Ketika persengketaan itu tak dapat diselesaikan dengan berbagai cara maka pihak yang mengalah pergi merantau sehingga terhindar dari hidup yang berada dalam permusuhan. Dengan merantau, diharapkan pihak yang zalim akan insyaf sehingga dapat lagi diperbaiki tali persaudaraan atau silaturrahim. Jika perantau ini menetap di negeri orang maka disebutlah dia dengan rantau cina, sebab orang China lah yang merantau tak pulang lagi ke kampungnya.

Orang Melayu yang beragama Islam pergi merantau insya Allah tidak akan berbuat maksiat di rantau orang. Sebab dia merantau bukanlah sekadar mencari bendawi semata tetapi mencari ketenteraman hidup lahir dan batin. Karena itu sebelum pergi merantau dia akan menjumpai ulama dan orang patut di kampungnya untuk meminta nasehat. Maka dapatlah dia pesan-pesan yang bernas bagaimana berada di negeri orang sebagaimana hidup dipandu dengan Syariah Islam agar selamat dari dunia sampai akhirat. Pesan bagi perantau itu telah disampaikan melalui pantun yang terkenal di bawah ini:

Kalau anak pergi ke lepau
Yu beli belanak beli
Ikan sembilang beli dahulu

Kalau anak pergi merantau
Ibu cari saudara cari
Induk semang cari dahulu

Pesan Syariah Islam dalam pantun itu benar-benar logis, sebagaimana tergambar dari tiga baris terakhir. Orang kalau merantau, harus cari saudara seiman yakni orang yang dapat dipandang sebagai ibu dan saudara. Keadaan ini akan membuat kita merasa selesa dan nyaman.

Sebab kita tidak hidup sendirian, tetapi hidup seperti di kampung sendiri dengan ibu dan sanak saudara. Dengan keadaan ini kita juga akan menjadi jamaah beribadah kepada Allah Yang Maha Penyayang. Ini niscaya membuat perantau akan selalu bersyukur kepada nikmat Allah yang selalu mengalir sepanjang waktu.

Sungguhpun begitu, sebelum kita mendapat ibu bapa dan saudara di rantau orang, lebih dulu harus cari i n d u k semang. Induk semang adalah orang yang bersedia memberi perlindungan kepada kita, setelah kita tiba di rantau orang. Induk semang niscaya akan didapat dengan kehendak Allah melalui akhlak mulia, perangai yang lembut yang membayang dalam budi bahasa yang halus.

Dari induk semang yang baik hati ini, perantau akan mendapat jalan yang lapang menemukan ibu dan saudara di rantau itu. Biasanya, induk semang itu dengan mudah menjadi ibu oleh perantau, sehingga anaknya juga menjadi adik dan abang oleh perantau itu. Dengan keadaan yang sudah begitu baik lahir dan batin maka perantau dengan mudah mendapatkan lapangan pekerjaan yang halal di rantau orang.

Dia tentu akan hidup dengan penuh rasa syukur kepada Allah sehingga penadapatannya di rantau dapat disimpan untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Demikianlah dengan hidup dalam panduan Syariah Islam perantau itu menjadi hamba yang tahu bersyukur kepada Allah sehingga dia mendapat jalan hidup yang benar terhindar dari berbuat dosa dan maksiat kepada Allah Yang Maha Pemurah.***

Check Also

Karena Sungai Siak, Biaya Penelitian jadi Tiga Kali Lipat, Oleh: UU Hamidy

Pulang dari Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (PLPIS) di Aceh tahun 1974, UU Hamidy langsung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *