Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Hidup Bagaikan Alam di Tepi Rimba Belantara (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Hamparan bigau atau kumbuh di rawang Tanyo, Guloan, Rantau Kuantan. Kebun getah Haji Harun berada di sebelah kiri hamparan bigau ini. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif

Hidup Bagaikan Alam di Tepi Rimba Belantara (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy

  1. Orang yang Cerdas

Orang yang cerdas menurut Junjungan Alam Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang banyak mengingat mati, lalu mempersiapkan diri beramal sholeh untuk menghadapi kematian yang akan berakhir dengan negeri akhirat. Bahkan Khatamul Anbiya pembawa rahmat bagi segenap alam itu yakni Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, ‘’(Yang maksudnya) Dunia ini terkutuk dengan segala isinya, kecuali dzikir dan taat kepada Allah Ta’ala. Dunia ini hanya senda gurau sedangkan akhirat itu adalah negeri yang sebenarnya.’’

Gambaran tentang dunia dan kematian ini rupanya cukup membekas dalam lintasan hati para tetua Melayu masa silam. Sebagian di antara mereka telah melakukan u z l a h mengasingkan dirinya dari hiruk-pikuk keramaian dunia, lalu mencari tempat menyendiri untuk beramal sholeh dengan hati yang tenteram mengingat Allah Rabbul Alamiin. 

Sebagai ilustrasi marilah kita ambil seorang tetua Melayu Haji Harun, bagaimana bayangannya di depan cermin kehidupan dari Siberakun, Negeri Pasak Malintang, Rantau Kuantan Nan Kurang Oso Duo Puluah.

2. Haji Harun Mata-mata Mujahidin Disergap Tentara Belanda

Haji Harun adalah gelar yang diperolehnya dari Syaikh yang membimbingnya melaksanakan ibadah haji di Makkah Al Mukarramah. Sebelumnya, dia bernama Abdul Hamid yang menyandang gelar guru silat J i U s u (Haji Yusuf) di Siberakun. Namun setelah naik haji, dia melepaskan jabatan guru silat itu dengan menyerahkan kepada kemenakannya yang bernama Raja Hamzah dengan panggilan Jonsa.

Dalam perjalanan hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia yang penuh maksiat itu, Haji Harun mula-mula membuka kebun getah (karet) di Pematang Timbul.  Kemudian membuat lagi kebun getah dari kupon Belanda di Gunung Kasiangan. Terakhir, membuat lagi kebun di Pematang Rimba Guloan.

Semasa berkebun di pematang Guloan itu, Haji Harun telah berjihad di jalan Allah dengan menjadi mata-mata mujahidin melawan agresi kafir Belanda tahun 1947-1948. Panggung (pondok penunggu kebun) kepunyaan Haji Harun menjadi tempat penyimpanan senjata mujahidin (gerilyawan). Di situ tersimpan berbagai senjata seperti tombak, pedang, sundang, pedang jenawi, keris, tumbuk lado dan bensin dalam botol kecil untuk membakar markas Belanda.

Haji Harun memperhatikan dan mendengarkan berbagai keterangan dari orang kampung bagaimana gerak-gerik tentara Belanda sepanjang Batang Kuantan, hilir-mudik dari Cerenti di hilir sampai Teluk Kuantan di hulu. Inilah medan jihad melawan Belanda di Kuantan Singingi masa itu. Semua keadaan ini diberitahukan oleh Haji Harun kepada para gerilyawan atau mujahidin yang menyerang Belanda di mudik pada Lubuk Jambi dan Teluk Kuantan lalu melintas melalui kebun Haji Harun melalui rimba belantara menuju Koto Rajo di Basrah, kemudian menyerang Belanda lagi di Cerenti. Karena itu, dalam pandangan Belanda, Haji Harun menjadi target yang harus ditumpas.

Kedatangan satu regu tentara Belanda keturunan Ambon untuk menyergap Haji Harun diketahui asal mulanya dari anaknya Marsuman (Umar Usman) dengan temannya Janit yang juga cucu Haji Harun. Mereka bermain sambil mandi-mandi di rawang Tanyo, lebih kurang 500 meter dari arah panggung.

Kedua anak ini tiba-tiba terkejut mendengar letusan bedil. Mereka segera lari dengan putih bibir karena takut menuju panggung. Letusan bedil tentara Belanda itu terjadi karena Maddin yang dipaksa menjadi penunjuk jalan oleh tentara itu minta tembakkan seekor burung bangau di tengah sawah atau rawang. Ini adalah taktik atau siasat Maddin untuk menyelamatkan Haji Harun yang dipandangnya akan terancam. Dengan letusan bedil itu, Maddin bermaksud t a n d a ancaman akan disergap Belanda kepada Haji Harun yang disayanginya.

Mendengar berita letusan bedil dari anak cucunya, Haji Harun segera mencari akal untuk menyelamatkan diri. Dia segera pergi mengambil beberapa potong arang di dapur. Arang itu dimasukkan ke dalam tempurung, ditumbuk dengan halus serta diberi air. Hasilnya dia lumurkan (sapukan) arang itu pada muka sampai lehernya sehingga dia kelihatan seperti orang sakit. Dia duduk dengan meletakkan tempurung berisi arang di depannya sedangkan Marsuman dan Janit duduk ketakutan di belakangnya.

Berselang hampir sepuluh menit tibalah tentara Belanda menyergap. Komandannya langsung naik ke atas panggung sementara anak buahnya berjaga mengawasi sekitar panggung. Begitu komandan itu masuk, maka terjadilah tanya jawab :

Komandan : Ini panggung Haji Harun?

Haji Harun : Iya Tuan

Komandan : Mana Haji Harun?

Haji Harun : Dia pergi Tuan

Komandan : Kamu siapa?

Haji Harun : Saya Ahmad, Tuan

Komandan : (Sambil menunjuk tempurung) Apa ini?

Haji Harun : Itu obat saya, Tuan

Karena tentara Belanda ini hanya menemukan ‘Ahmad’ bukan Haji Harun maka panggung segera digeledah. Mereka mengambil pisang masak di atas salang, pisang salai di atas selayan serta nenas yang hampir masak. Mereka menjumpai senjata yang disembunyikan dalam reban ayam lalu mereka ambil semuanya. Tapi mereka tidak menjumpai persediaan bensin yang disisipkan di dinding panggung yang terbuat dari kulit kayu.

Setelah mereka kenyang dengan apa yang dapat mereka ambil, lalu mengumpulkan semua senjata mujahidin, kemudian mereka pun pulang. Dengan demikian, Allah Yang Maha Bijaksana telah melindungi Haji Harun dengan memberi ilham kepadanya melumuri mukanya dengan arang serta memakai nama Ahmad yakni satu di antara nama Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, nama yang penuh rahmat dari Tuhan Seru Sekalian Alam.

Setelah Belanda gagal menangkap Haji Harun, maka paling kurang dua kali pasukan Belanda datang lagi ke Siberakun. Dari tebing Batang Kuantan, yakni dari tepian mandi Nuti di Banjar Lopak mereka mencari arah di mana kira-kira letak panggung Haji Harun di Guloan. Setelah itu, mereka menghujaninya dengan senapang mesin hampir lima sampai sepuluh menit.

Ketika serangan ini terjadi, Haji Harun dengan anaknya akan mencari perlindungan ke bawah batang kayu yang besar di Guloan. Nanti setelah usai perang, Haji Harun menemukan beberapa kerabang (selongsong) peluru yang berserakan di pematang Guloan lalu mengambilnya seberapa yang dia perlukan. Barangkali dalam dirinya oleh Haji Harun sebagai barang kenang-kenangan berperang melawan Belanda. (bersambung)

Check Also

Sekilas Jejak Langkah YLPI Riau 70 Tahun, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana telah menyampaikan kepada umat manusia bahwa Al-Qur’an diturunkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *