Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Dimensi Bahasa dalam Budaya Melayu (Merujuk pada Bahasan Melayu Riau) (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy
Foto : 4dacrylics.com

Dimensi Bahasa dalam Budaya Melayu (Merujuk pada Bahasan Melayu Riau) (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy

3. Sarana dan Perkembangan Bahasa Melayu Riau

Setelah persoalan-persoalan pokok mengenai bahasa diselesaikan seperti membuat tatabahasa dan ejaan, cendekiawan Riau memperluas horison kegiatannya menjangkau lapangan budaya lainnya. Dalam hal ini perhatian kerajaan Riau Lingga amat besar artinya. Kerajaan ini telah tercatat mendirikan tiga percetakan, membuat satu perusahaan, dan mendirikan satu syarikat dagang yang bernama Syarikat Dagang Ahmadi tahun 1906. Percetakan yang pertama didirikan ialah Rumah Cap Kerajaan (terkenal di Singapura dengan Straits Printing Office) yang diperkirakan mulai aktif sejak 1885. Percetakan ini berada di pusat kerajaan, yaitu di Daik Lingga, memakai huruf Arab-Melayu dengan teknik litografi (cetak batu). Sarana budaya ini telah mencetak beberapa karya Raja Ali Haji dan keperluan kerajaan, misalnya Mukaddimah fi Intizam (karya Raja Ali Haji yang dicetak tahun 1304 H atau 1886 M), Tsamarat al Muhimmah (juga karya Raja Ali Haji, dicetak juga tahun 1304 H), Undang-undang Lima Fasal dan Kanun Kerajaan Riau Lingga merupakan materi kerajaan.      

Ujudnya percetakan ini telah mendorong lebih cepat lagi kemajuan karya tulis dalam dunia Melayu di Riau. Generasi di belakang Raja Ali Haji semakin banyak yang terdidik, sehingga makin banyak pula intelektual yang muncul kepada dunia kepengarangan. Meningkatnya jumlah kaum terpelajar itu telah ditandai dengan terbentuknya suatu perkumpulan kaum cendekiawan Riau yang terkenal dengan nama Rusydiah Klab, tahun 1892. Perkumpulan ini tidak hanya terdiri dari anak jati Riau, tetapi juga para cendekiawan yang bermastautin di Riau. Sebab itu anggotanya juga telah meliputi para pengarang (ulama) dari Minangkabau, Banjar, Patani (negeri Siam, Thailand), bahkan mempunyai timbalan (wakil) yang bernama Said Syech Al Hadi Wan Anom untuk Makkah al Musyarafah.

Rusydiah Klab telah mengambil peranan paling kurang dalam bidang politik, budaya dan ekonomi. Dalam bidang siasat (politik), perkumpulan ini telah banyak memandu kerajaan dalam memecahkan masalah-masalah sulit menghadapi kuasa penakluk Belanda. (Perlawanan terhadap Belanda ini telah berawal dari Raja Ali Haji Fisabilillah yang menentang Belanda di Riau dengan kekuatan Melayu dan Bugis, lalu dilanjutkannya menghadang Belanda di Melaka dengan bantuan penduduk Naning dan Rembau, sehingga beliau tewas di Teluk Ketapang tahun 1784).

Dalam upaya menghadapi Belanda itu, Raja Ali Kelana dan Raja Khalid Hitam sebagai anggota teras Rusydiah Klab, amatlah menentukan. Dalam tahun 1904, Raja Ali Kelana telah berangkat ke Turki untuk menemui Sultan Hamid agar dapat memperoleh bantuan senjata dan diplomasi. Karena usaha itu tidak berhasil, maka tujuh tahun selepas itu (tahun 1913), Raja Khalid Hitam berangkat pula ke Jepang dengan tujuan yang sama. Dalam tugas diplomatik itulah diplomat kerajaan Riau itu meninggal di Jepang—yang diduga keras telah terbunuh oleh tipu daya agen-agen Belanda di Tokyo. Di samping itu, pihak Riau juga menghadapi Belanda melalui media massa yang diterbitkan di Singapura yakni majalah Al Imam. Dalam majalah ini, Raja Ali Kelana dan Syeikh Muhammad Tahir Jalaluddin Falaki (asal Minangkabau) merupakan dua orang penulis utama majalah itu.

Dengan kerjasama yang baik, perkumpulan cendekiawan Riau itu berhasil pula mendirikan percetakan di pulau Penyengat. Percetakan ini memakai dua nama dalam hasil penerbitannya. Jika yang diterbitkan berupa materi kerajaan Riau Lingga, maka dipakai nama Mathbaat al Riauwiyah, sedangkan kalau yang dicetak itu untuk kepentingan umum berupa karya bersifat pribadi dipergunakan redaksi Mathbaat al Ahmadiah. Dengan percetakan ini maka para pengarang di Riau dapat pindah dahan kepada berbagai bidang budaya lainnya.

Kegiatan karya tulis, juga meluas kepada bidang lain seperti undang-undang (hukum), sejarah, ketabiban, bahkan soal kecantikan wanita. Di sisi karya asli, muncul pula karya terjemahan, baik hasil terjemahan pribadi maupun terjemahan bersama-sama oleh anggota Rusydiah Klab. Abu Muhammad Adnan merupakan pengarang Riau dalam generasi Rusydiah Klab yang paling produktif. Setelah mengarang beberapa kitab tatabahasa Melayu, pengarang ini menerjemahkan beberapa hikayat asal Timur Tengah, antara lain Ghayat al Muna, Shahinsyah dan Kisah Seribu Satu Hari, dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu.

Agaknya, oleh kegiatan para cendekiawan yag demikianlah, kerajaan Riau yang dikemudikan oleh Yang Dipertuan Muda Riau ke-10, Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi (1858-1899) telah berjaya mendirikan perpustakaan (yang setelah beliau meninggal) terkenal dengan nama Kutub Khanah Marhum Ahmadi. Perpustakaan inilah yang banyak menyimpan kitab-kitab berbahasa Arab dari Timur Tengah di antaranya Ihya Ulumuddin (Al Ghazali), Kitab al Qanun al Thib (Abi Ali Ibnu Sina), dan Al Zawajir (karya Imam Ibn Hajar).

Setelah percetakan Mathbaat al Riauwiyah tak dapat lagi berfungsi dengan baik oleh pertarungan menghadapi Belanda yang sampai pada titik krisis 1903-1913 (sebagai lanjutan dari keinginan Belanda untuk menjajah Riau yang dimulai dengan berdirinya loji mereka di Tanjung Pinang tahun 1790) maka kaum cendekiawan Riau mendirikan lagi percetakan di Singapura selepas tahun 1906. Percetakan itu merupakan anak perusahaan Syarikat Dagang Ahmadi, suatu koperasi keluarga raja-raja Riau di pulau Midai (Pulau Tujuh, di laut China Selatan) yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa dan perdagangan kopra. Sarana media massa ini diberi nama Mathbaat al Ahmadiah (seperti nama yang juga dipakai terdahulu di pulau Penyengat) tetapi lebih terkenal di Singapura dengan nama Al Ahmadiah Press. Percetakan ini mengalami masa jaya dalam tahun 1925 sampai kedatangan Jepang 1940-an. (bersambung)

(Majalah sastra Horison Nomor 1 Tahun XXVII, Januari 1993)

Check Also

Rantau Kuantan, Rantau Nan Kurang Oso Duo Pulua, Oleh: UU Hamidy

Kira-kira abad ke-14/15 M, Adityawarman keturunan Darah Jingga putri Melayu dari Damasraya dengan suami raja …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *