Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Dimensi Bahasa dalam Budaya Melayu (Merujuk pada Bahasan Melayu Riau) (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy
Foto : dpreview.com

Dimensi Bahasa dalam Budaya Melayu (Merujuk pada Bahasan Melayu Riau) (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

2. Pembinaan Bahasa Melayu di Riau

Di daerah yang disebut provinsi Riau sekarang ini, terdapat beberapa puak Melayu, seperti Rantau Kuantan, Kampar, Pasir Pengarayan, Pelalawan, Siak, Tambusai, Indragiri, dan Riau kepulauan (bekas daerah kerajaan Riau Lingga). Puak-puak itu terjadi karena ada beberapa kerajaan Melayu di rantau itu, yang tidak berhasil atau tidak berkeinginan membentuk satu kerajaan—meskipun pada awalnya daerah ini juga merupakan daerah kerajaan Melayu raya : Sriwijaya.

Hampir tiap puak atau pusat kerajaan tersebut, mempunyai kegiatan dalam karang-mengarang. Hikayat dan syair banyak ditulis dan dihapal, untuk hiburan di istana, tetapi juga menjadi hiburan rakyat biasa. Hikayat dan syair itu dibawakan begitu rupa dengan iringan alat bunyian dengan lagu yang merdu. Tradisi ini di dalam dunia Melayu amatlah kental, sehingga orang Melayu boleh dikatakan telah berpikir secara metaforik.

Dari semua puak bekas kerajaan itu, haruslah diakui bahwa pusat kerajaan Riau Lingga (yang berpusat di Daik Lingga sampai tahun 1900 lalu kemudian pindah ke pulau Penyengat Indrasakti yang telah dirintis sejak tahun 1805) merupakan pusat kegiatan bahasa dan budaya Melayu yang amat menonjol. Kegiatan karang-mengarang tampaknya telah dimulai oleh ayah Raja Ali Haji sendiri yang bernama Raja Haji Ahmad yang juga terkenal dengan Engku Haji Tua.

Beliau telah mengarang dua buah syair, Syair Perang Johor dan Syair Kisah Engku Puteri. Karena itu, jika Raja Ali Haji (1808-1870-an) menjadi pengarang yang teramat pandai, memang dapat dimaklumi, sebab dalam tubuh beliau memang telah mengalir darah pengarang ditambah pula oleh lingkungannya yang telah menyuburkan bakat itu. Beliau telah menjadi seorang pengarang mulai dari tatabahasa, kamus, sastra, hukum, sampai kepada kitab sejarah dan berbagai panduan untuk raja.

Jika kita suka membatasi diri pada dimensi yang lebih sempit saja, maka akan kelihatan bahwa pengarang Riau sebagian besar telah mempunyai perhatian terhadap bahasa dan sastra. Penulis tatabahasa saja tiga orang. Pertama, Raja Ali Haji, telah menulis dua buah kitab bahasa, Bustan al Katibin (dengan sub titel : Lis Syubyil Muta Allimun) merupakan akar tatabahasa Melayu dengan ejaan dalam huruf Arab-Melayu, dan sebuah kamus bahasa Melayu Pengetahuan Bahasa (dengan sub titel : Kamus Logat Melayu Riau Lingga Johor dan Pahang). Kitab yang pertama ditulis tahun 1857, sedangkan kitab kedua tahun 1859, dan sayang sekali kitab ini tidak selesai.

Raja Ali Kelana telah menulis kitab bahasa Pohon Ingatan, (dengan sub titel : Catatan Ringkas bagi Orang yang Cerdas untuk Ma’ani, dengan sub titel : Cita-cita yang Berkehendak pada Mengenal Segala Huruf yang Bermakna). Jadi kitab ini semacam pelajaran fenom dan ejaan dalam bahasa Melayu. Abu Muhammad Adnan (nama pena daripada Raja Haji Abdullah) menulis kitab tatabahasa Pembuka Lidah (1345 H, 1926 M) dengan sub titel : Dengan Teladan Umpama yang Mudah. Kemudian ada lagi lanjutan kitab itu dengan judul Penolong Bagi yang Menuntut akan Pengetahuan yang Patut, yang beliau tulis tahun itu juga.

Sampai hari ini, tidak ada satu hasil penelitian atau catatan yang memberikan keterangan siapa yang telah merancang huruf Arab-Melayu itu. Tetapi adalah suatu hipotesa yang dapat dipercaya bahwa huruf itu telah dirancang oleh salah seorang cendekiawan (ulama) yang mempunyai perhatian berat terhadap budaya Melayu atau untuk kepentingan dakwah agama Islam dalam masyarakat Melayu.

Maka berat dugaan, betapa perancang huruf Arab-Melayu itu kemungkinan seorang cendekiawan Islam (ulama) berkebangsaan Arab yang telah menguasai bahasa Melayu serta telah bermastautin di tanah Melayu. Tetapi juga terbuka peluang, ubah-suai aksara Arab itu ke dalam fonem-fonem bahasa Melayu, dilakukan oleh seorang cendekiawan Melayu, atau bekerjasama dengan pihak ulama Arab tersebut. Bahkan mungkin juga melalui suatu proses dalam beberapa tangan pengarang Melayu.

Bagaimanapun juga proses terbentuknya aksara Arab-Melayu itu, namun telah menjadi bukti bagaimana besarnya perhatian terhadap bahasa dalam dunia Melayu. Dalam sejarah karya tulis yang memakai tulisan tersebut, maka Hamzah Fansuri, tak syak lagi, adalah pemakai aksara itu dengan tangan yang lasak. Sebab itu andil penyair terbesar ini dalam pengembangan tulisan Arab-Melayu cukuplah besar. Selepas itu diteruskan oleh sejumlah pengarang, sehingga sampai ke tangan Tun Sri Lanang yang kemudian menulis Sulalatus Salatin tahun 1021 H atau 1613 M.

Dengan tidak mengecilkan semua jerih payah para pengarang dan perancang huruf Arab-Melayu (di antaranya dari pihak kerajaan Aceh dan Melaka) kita patut menghargai upaya pembinaan bahasa Melayu yang dilakukan oleh pengarang-pengarang Riau dalam abad ke-19 sampai perempat abad ke-20. Di Riau dalam masa itu, bahasa Melayu tidak hanya sekedar disebarkan melalui karya tulis, tetapi pertama-tama telah dibina. Jalan pikiran pengarang-pengarang Melayu di Riau dengan Raja Ali Haji sebagai tokoh (ulama) yang merengkuh pertama kali, dapat dibaca bahwa kegiatan budaya haruslah berawal dari pembinaan bahasa.

Oleh sebab itu, pengarang Riau lebih dahulu mengupayakan adanya kitab-kitab tatabahasa atau pelajaran bahasa Melayu. Dengan kitab serupa itu, maka aksara Arab-Melayu telah disistematikkan begitu rupa, hingga dapat dipakai untuk kepentingan karya tulis atau untuk kepentingan kemampuan berbahasa yang lebih baik. Karena itu, meskipun Syed Muhammad Naguib Al-Attas tidak mau memandang Raja Ali Haji sebagai seorang bapak kesusastraan Melayu, namun peranan tokoh ini bagi kemajuan bahasa dan budaya Melayu tidaklah kecil. Dalam amalnya yang demikian, ulama yang pengarang ini, bukan hanya sekedar membuat dirinya menjadi mercusuar sendirian, tetapi juga telah berhasil melahirkan suatu generasi pengarang di belakang beliau yang amat besar gaungnya terhadap kemajuan intelektual Melayu.

Adanya tatabahasa Melayu yang memberikan pedoman bagi para pengarang, membuka jalan yang luas untuk hadirnya karya tulis. Raja Haji Ibrahim dibantu oleh H Van de Wall berhasil membuat satu kitab bacaan bahasa Melayu tahun 1875 dengan judul Cakap-cakap Rampai-rampai Bahasa Melayu Johor. Orang Melayu segera mengenal catatan harian, seperti Berbagai Catatan Harian Raja Haji Usman bin Raja Ya’kub Lingga, yang memakai tulisan tangan. Majalah Al Imam (yang berisi pembaharuan pemikiran Islam) dapat diterbitkan di Singapura tahun 1906, lalu kemudian menjelang kedatangan Jepang terbit lagi majalah Peringatan di pulau Penyengat tahun 1939 M dengan Raja Mohammad Yoenoes Ahmad sebagai Kepala Pengarang yang Menanggung Soal atau Penanggungjawab Redaksi).

Yang lebih menarik lagi tentang kitab-kitab pelajaran bahasa Melayu itu, ialah betapa kitab-kitab itu bukanlah hanya sekedar berisi pelajaraan ejaan, huruf, cara merangkai (proses morfologi) serta berbagai kaidah tentang tata dan kalimat, tetapi sisi akhlak telah menjadi dasar daripada setiap kitab tersebut. Semua kitab pelajaran bahasa yang ditulis di Riau sampai tahun 1930-an, pertama-tama adalah kitab panduan untuk budi pekerti. Setelah itu barulah pelajaran bahasa Melayu.

Pelajaran bahasa di Riau bersebati dengan pelajaran akhlak. Peristiwa bahasa juga harus memperlihatkan suasana akhlak, sebab bahasa itu dipandang menjadi manifestasi pula daripada kepribadian pemakainya. Raja Ali Haji dalam kitab tatabahasanya Bustan al Katibin, menuliskan ‘’segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam, adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh dibuat dengan pedang’’. Itulah ibarat yang terlalu nyata, bagaimana bahasa yang mengandung semangat batin itu mempunyai kekuatan yang hebat. Sebab itu orang hendaklah memakai bahasa yang sebaik-baiknya, dan orang yang besar ialah orang yang menjaga budi pekerti. Segala bentuk kekerasan (pedang) dapat diselesaikan dengan bahasa itu (kalam) tetapi janganlah kita membuat sesuatu yang dapat dengan budi bahasa, menggantinya dengan kekerasan, sebab budi bahasa terlebih mulia daripada kekerasan.

Abu Muhammad Adnan dalam kitabnya Pembuka Lidah memandang bahasa itu sebagai alat untuk memetik bunga-bungaan pengetahuan, sehingga jika dapat dikuasai dengan baik niscaya memberikan pengetahuan yang tiada ternilai harganya. Hal serupa ini kembali ditegaskannya dalam kitab tatabahasa yang kedua, ‘’maka inilah suatu perkumpulan yang pendek pada menyatakan bahasa Melayu mudah-mudahn dengan dialah dapat kita sampai kepada yang dimaksudkan dan mendapat yang dikehendakkan dengan mencapai hajat dan cita-cita dengan tiada berapa masa atau berpenat anggota hanyalah beroleh kesenangan hati dan bersejuk mata’’. Dalam kitab Penolong bagi yang Menuntut akan Pengetahuan yang Patut ini pengarangnya menyudahi kitabnya dengan puisi :

Pelajaran ketiga telah didapat

Mengiringi pula yang ke empat

Talmizu yang rajin bangun melumpat

Menuntut ilmu segera dan cepat

Harapkan ampunan daripada Tuhan

Akan segala dosa dan kesalahan

Rahmat keridhaan mudah-mudahan

Hingga sampai hari kesudahan

Di Riau, sejak abad ke-19, pelajaran bahasa Melayu belum diajarkan (pada madrasah) sebelum anak-anak pandai mengaji Al-Qur’an. Karena itulah sebelum anak-anak masuk madrasah, mereka paling kurang telah menamatkan pelajaran mengaji yang paling rendah, yaitu tingkatan alif ba ta. Pelajaran bahasa dipandang berhubungan erat dengan pelajaran mengaji, bukan hanya dalam bentuk pengenalan huruf dan fonem ketika mengaji dengan belajar bahasa, tetapi juga untuk sandaran pendidikan. Bahasa Melayu Riau menjadi satu di antara mata pelajaran penting, paling kurang sampai tahun 1950-an. Sebagai contoh dapat dilihat daftar pelajaran Madrasatul Muallaimin yang didirikan di pulau Penyengat tahun 1939, mempunyai 17 mata pelajaran : logat Arab, shorof, nahwu, Al-Qura’anul Adzim, tajwid, tafsir, hadist, assyarif, tauhid, ushuluddin, fiqih, tarikh Islam, tarikh dunia, ilmu bumi, hisab, khot, bahasa Melayu Riau, dan tarikh Riau Lingga.

Karena pelajaran bahasa diberikan secara integral dengan pelajaran akhlah (agama Islam) maka tak heran jika bahasa Melayu mempunyai kehalusan yang begitu rupa. Seorang sarjana bahasa dari Itali yang bernama Alessandro Bausani sampai mengatakan bahwa bahasa ini sebagai yang molek dan melodis; sebanding baginya dengan bahasa Itali, sehingga bahasa Melayu sampai disebutnya sebagai bahasa Itali di belahan Timur. (Kelak, setelah bahasa itu diterima sebagai bahasa Indonesia, maka bahasa Melayu yang menjadi bahasa Indonesia itu kehilangan melodinya. Ini terjadi antara lain karena para pemakai bahasa itu tidak mempunyai apresiasi asam-garam bahasa dan budaya Melayu).

Karya monumental Sulalatus Salatin (yang ditulis Tun Sri Lanang tahun 1613 M) telah dihidangkan kembali dalam bentuk tercetak karena menimbang dua hal. Pertama, guru-guru Singapura yang akan mengajarkan bahasa Melayu sulit sekali mendapatkan contoh bahasa Melayu yang halus. Karena itu dianjurkan oleh Raffles agar merujuk kepada kitab tersebut. Kedua, agar budak-budak Melayu mengenal kembali bahasa Melayu yang elok (dari tangan orang yang benar-benar mengenal bahasa itu) sehingga mereka tidak sampai terpengaruh oleh cara berbahasa orang Inggris, China, Hindu, Holland dan Jawa. Maka barangsiapa yang mendapat akan kitab Sejarah Melayu ini maka dapati ada ia akan bertanya surat apa ini dan apa sebab jadi begini dan dari mana datangnya ini karena memang belum pernah sahaya lihat di masa kini. Rupanya adat baharukah ini atau karangan orang putihkah…

Maka kepada barangsiapa yang berkata demikian itu maka adalah sedia kami memberi jawabnya atas dua perkara. Pertama-tama maka adalah segala tuan-tuan yang menjadi kepala kepada tempat mengajar bahasa Melayu dan lain-lain dalam negeri Singapura yang telah diperbuat oleh tuan Raffles itu berkehendak mereka itu akan mencari kitab-kitab bahasa Melayu yang telah termasyhur lagi yang diketahui oleh segala orang Melayu akan dia supaya boleh diajarkan itu kepada segala kanak-kanak karena yaitu bahasa Melayu yang betul dan halus adanya…

Syahdan, adalah dalam antara segala bahasa maka apabila seorang hendak mengerti bahasanya sendiri maka hendaklah ia menuntut kitab-kitab yang termasyhur elok karangannya dan betul jalan bahasanya dan terpuji kepada segala orang…

Pembinaan bahasa Melayu yang dilanjutkan di Riau oleh Raja Ali Haji dan sejumlah pengarang di belakang beliau, telah membawa bahasa Melayu kepada kedudukan makin kokoh, karena berhasil menjadi bahasa yang memiliki tatabahasa. Dari upaya itu bahasa Melayu memperoleh ejaan, yang kemudian dilengkapi dengan pelajaran tatabahasa lainnya meliputi kata-kata merangkai kata (kelompok kata) dan ayat (kalimat). Hal ini menjawab tantangan keperluan Belanda akan bahasa pengantar di sekolah-sekolah bumiputra. Maka sebelum pelajar-pelajar bumiputra dapat memakai bahasa Belanda, bahasa Melayu telah dipergunakan sebagai bahasa pengantar, di samping sebagai bahasa resmi klas dua dalam pemerintahan penjajahan.

Tindakan mengambil bahasa Melayu tersebut dilakukan Belanda sekitar tahun 1865, setelah Raja Ali Haji menyusun kita tatabahasanya (Bustan al Katibin, 1857) dan kitab Pengetahuan Bahasa tahun 1859. Keputusan ini baru bernilai hukum setelah keluar K.B. No 104 Tahun 1871, yang menyatakan bahwa pelajaran terhadap bumiputra diberikan dalam bahasa daerah yang bersangkutan, jika tak mungkin diberikan dalam bahasa Melayu. Bersabit dengan itu, Sekolah Raja di Bukittinggi cukup besar peranannya, sehingga banyak membuahkan pengarang yang berbahasa Melayu dengan baik, untuk buku-buku terbitan Balai Pustaka. Dalam upaya Belanda mendapatkan bahasa Melayu yang punya standar untuk pegangan para guru mengajarkan bahasa Melayu, pihak kolonial Belanda telah mengutus H Von de Wall untuk mempelajari bahasa dan tatabahasa Melayu Riau ke pulau Penyengat Indrasakti dalam tahun 1860-an. Bukan hanya Von de Wall saja yang ke Riau. Selepas dia, Van Ophyusen diperbantukan pula pada kantor Residen Riau, yang juga dengan maksud mempelajari bahasa Melayu Riau.

Tindakan darurat Belanda mengambil bahasa Melayu dengan pedoman Riau, telah merugikan perkembangan kuasa Belanda di Indonesia. Hal itu segera disadari, sehingga Prof Nieuwenhuis segera ditunjuk untuk merancang satu politik bahasa kolonial, untuk memberikan perimbangan kepada perkembangan bahasa Melayu yang kian mengancam kedudukan bahasa Belanda. Tetapi tindakan ini telah terlambat. Bahasa Melayu segera meresap dari dunia pendidikan pada aspirasi kebangsaan melalui beberapa organisasi pergerakan nasional seperti Yong Sumatera, Yong Islam, sehingga akhirnya menjelma menjadi alat perjuangan karena ternyata ampuh membangkitkan semangat persatuan dan rasa anti penjajahan.

Maka, bahasa Melayu itu berhasil memenangkan kompetisinya terhadap bahasa Belanda. Bahasa ini mau tidak mau harus melangkah jauh ke depan, dari bahasa Melayu dengan standar Riau ditambah nafas Melayu, kepada bahasa persatuan dengan semangat keindonesiaan. Inilah yang membawa bahasa Melayu kepada harkat yang lebih mulia, karena akhirnya ditahbiskan menjadi bahasa nasional di Indonesia pada 28 Oktober 1928 dalam suatu peristiwa yang telah mengambil nama Sumpah Pemuda—yang sekaligus membayangkan bagaimana kadar Melayu dalam kata sumpah, sebagai satu gambaran antropologi budaya dunia Melayu. (bersambung)

(Majalah sastra Horison Nomor 1 Tahun XXVII, Januari 1993)

Check Also

Rantau Kuantan, Rantau Nan Kurang Oso Duo Pulua, Oleh: UU Hamidy

Kira-kira abad ke-14/15 M, Adityawarman keturunan Darah Jingga putri Melayu dari Damasraya dengan suami raja …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *