Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Dimensi Bahasa dalam Budaya Melayu (Merujuk pada Bahasan Melayu Riau) (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Foto : ponderdimension.com

Dimensi Bahasa dalam Budaya Melayu (Merujuk pada Bahasan Melayu Riau) (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy

  1. Perhatian yang Khas terhadap Bahasa

Bahasa sebagai satu dimensi budaya dalam dunia Melayu, ternyata telah mendapat perhatian yang khas. Mengapa dimensi budaya ini sampai mendapat tempat begitu rupa dalam budaya Melayu, belum pernah dikuak dan diketengahkan dengan panjang lebar. Berawal dari Bukit Siguntang yang kemudian kita jumpai jejaknya dalam bentuk tertulis di Kota Kapur, Karang Berahi dan Talang Tuo, lalu diabadikan menjadi satu kisah sejarah oleh Tun Sri Lanang dengan Sulalatus Salatin, maka seluruh dunia Melayu diwarnai oleh bangsa itu, sehingga mereka—seperti yang dikatakan oleh Hasan Junus penyimak naskah kuno bahasa Melayu Riau—bagaikan bersatu di ujung mata pena. Cendekiawan Melayu telah mengambil perhatian berat kepada bahasa, dan memandang serta memperlakukan lapangan ini sebagai medan tempat berjuang.

Perhatian yang begitu rupa terhadap bahasa telah terurai bagaikan mata rantai yang panjang dalam dunia Melayu. Siapapun yang telah dibesarkan dengan uap, air, dan gelombang samudera budaya Melayu, ternyata telah bertumpu begitu kuat kepada bahasa. Marilah kita bendang beberapa kisah zaman di langit cakrawala sejarah. Hamzah Fansuri telah menjadikan bahasa bagaikan air mata dalam merenung kebesaran Allah. Baris-baris syairnya sarat dengan lambang-kias bagaikan kilat bersabung. Jika ditukik ke dalam maka tampaklah kejernihan yang kekal dari yang fana. Itulah sebabnya bahasa penyair ini telah membiaskan ‘’mabuk cinta’’, sehingga beliau meratap ‘’Hamzah Fansuri terlalu karam, di dalam laut yang maha dalam, berhenti angin ombak pun padam, menjelma Sultan kedua alam’’.

Maka ‘’kegelisahan’’ dalam esoterik itulah yang telah meningkatkan harkat penyair ini kepada derajat yang tinggi dalam pemikiran Islam, sehingga agaknya boleh digelar sebagai pilar agung kepenyairan Melayu di Nusantara. Pandangan batin yang selalu menukik kepada bagian yang terdalam akan makna kehidupan ini, mengalir terus dalam dimensi waktu. Satu demi satu cendekiawan Melayu muncul. Dengan tangannya yang piawai pula terbentuk berbagai reka-bentuk bahasa Melayu.

Amir Hamzah, anak bangsawan kerajaan Langkat telah menjadikan bahasa Melayu menjadi ‘’buah rindu’’ sehingga dia sampai bersyair ‘’tiada bersua dalam dunia mengapa hatiku sayang, tiada dunia tempat selama layangkan angan meninggi awan’’. Chairil Anwar yang dilahirkan di Indragiri, merantau ke Medan, lalu kemudian bermukim di Jakarta, mempertajam terus ‘’mata’’ bahasa. Hasilnya, kata-kata menjadi tesa itu sendiri. Karena kata adalah kebenaran, maka patutlah Chairil Anwar sampai berucap ‘’sekali berarti sudah itu mati’’. Sutardji Calzoum Bachri, anak jati Riau yang dilahirkan di Tanjung Pinang itu, memberikan sandingan kepada Chairil dengan memandang ‘’kata adalah pengertian itu sendiri’’. Jika di tangan Chairil kata-kata bagaikan mata pedang, maka di tangan Sutardji kata-kata adalah semangat yang melahirkan lagi fitrah manusia yang kreatif, …

Jika tidak melengong (memandang ke sebelah) Riau, satu di antara kubangan budaya Melayu, maka akan lebih jelas lagi bagaimana bacaan kehidupan orang Melayu dalam dimensi bahasa itu. Raja Ali Haji sebagai seorang pengawal kerajaan dan umat, telah mengibaratkan bahasa sebagai lambang budi bahasa, ‘’kalau hendak tahu orang yang berbangsa, lihat kepada budi bahasa’’. Bagi orang Melayu, budi (watak yang halus) haruslah terpancar melalui bahasa. Inilah yang menyebabkan orang Melayu bersifat sopan-santun dan tak mau menonjolkan diri.

Tetapi malangnya, (kata Mahathir Mohammad), amalan yang dianggap sebagai sopan-santun yang baik oleh orang Melayu telah disalah-artikan oleh orang-orang bukan Melayu. Pihak luar Melayu, seperti orang Inggris, telah memandang sifat itu sebagai bukti kelemahan diri orang Melayu. Setelah meresapi dunia Melayu, maka dalam pandangan Raja Ali Haji, kalam (bahasa) lebih kuat daripada pedang (kekerasan). Pengarang Riau yang paling produktif itu sampai membuat cogan kata, ‘’berapa ribu dan laksa pedang yang terhunus dengan segores kalam jadi tersarung’’. Tetesan kebenaran yang dikemukakan oleh Raja Ali Haji itu telah ditapis lagi oleh Usman Awang—yang telah menjadi Tongkat Warrant di tanah Melayu, Malaysia—sehingga muncul lagi kata bersayap yang lebih padat, ‘’tajam keris raja, tajam lagi pena pujangga’’.

Begitulah, bahasa telah bermain demikian rupa dalam budaya Melayu. Jika disimak lebih dalam lagi, maka apa yang telah menjadi ‘’mabuk cinta’’ terhadap Ilahi, buah rindu, tegas dan semangat serta kalam yang tajam daripada pedang, akan tampak telah berpijak dengan sanggam kepada agama Islam. Ali bin Abi Thalib, pemuda yang gagah perkasa semasa perang membela Islam pada zaman Nabi, amat terkesan kepada orang Melayu. Sebutan baginda Ali sebagai gerbang ilmu terkenal di sleuruh kawasan bahasa Melayu. Ucapan Khalifah yang terakhir itu, yang kurang lebih berbunyi ‘’kebinasaan negeri tergambar dalam bahasanya’’ disambung dengan simpai yang kokoh oleh pengarang intelektualis Riau angkatan Rusydiah Klab, Raja Ali Kelana dengan ucapan ‘’apabila negeri itu berubah kelakuannya maka tinggalkanlah dia’’.

Cogan kata dalam dunia Melayu ‘’sebelum ajal berpantang mati’’ sebenarnya juga semacam ubah-suai dari lidah Ali bin Abi Thalib, ‘’tidak mati melainkan ajal’’. Kenyataan ini memberi simpai kepada kita, bahwa perhatian yang kuat kepada bahasa dalam budaya Melayu niscaya berakar kepada agama Islam. Dunia Melayu meskipun pernah meresap kepercayaan primitif Animisme dan Dinamisme yang kemudian berlanjut dengan Hinduisme (tanpa perbedaan yang mendasar dengan kepercayaan yang terdahulu itu), namun kehadiran agama Islam memang memberikan sesuatu yang mendasar kepada orang Melayu.

Meresapnya agama itu ke dalam budaya Melayu tidak hanya merupakan suatu pelengkap atau episode saja, tetapi membuat orang Melayu meletakkan kembali hidup dan budayanya ke atas dacing kehidupan untuk ditimbang mana yang benar dan mana yang tidak benar. Hasilnya amat luar biasa. Dunia Melayu bagaikan terbakar oleh semangat kreativitas dalam mengarang, yang berarti pula kegiatan dalam berpikir, merenung, membayangkan serta menapis alam dan kehidupan ini. Ini pulalah yang memberi peluang besar kepada kegiatan kepenyairan, karena kehalusan batin yang dituntut oleh Islam, akan menjadi perkakas yang ampuh menggubah syair. Maka bergeraklah kalam di atas hamparan kertas oleh tangan para cendekiawan Melayu, siang dan malam. Tertulislah berbagai risalah, kisah dan ibarat. Di antaranya telah banyak mengandung metafisik—seperti puisi-puisi yang sarat dengan segala pengalaman esoterik—yang sebenarnya berisi nilai luhur sebagai filsafat Islam yang tulen.

(Selanjutnya marilah kita lihat suatu kawasan pengemban bahasa Melayu yang cukup terkenal satu abad yang silam. Kawasan itu ialah Riau, suatu bekas daerah kerajaan yang pernah meliputi daerah kepulauan Riau sekarang ini, Johor termasuk Singapura serta Pahang. Kalaulah bukan oleh siasat dan rebut rampas kolonial Inggris dan Belanda yang berakhir dengan titik nasib bagi orang Melayu dengan Traktat London tahun 1824, maka hampir dipastikan kerajaan Riau Lingga Johor dan Pahang itu tentulah akan menjadi geografis pemersatu antara belahan Melayu di Malaysia sekarang dengan belahan Melayu di Indonesia. Tetapi itulah peristiwa sejarah, peristiwa yang mengubah jalan hidup). (bersambung)

(Majalah sastra Horison Nomor 1 Tahun XXVII, Januari 1993)

Check Also

Rantau Kuantan, Rantau Nan Kurang Oso Duo Pulua, Oleh: UU Hamidy

Kira-kira abad ke-14/15 M, Adityawarman keturunan Darah Jingga putri Melayu dari Damasraya dengan suami raja …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *