Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Doa Para Koruptor: Umur Panjang Rezeki Murah, Oleh: UU Hamidy
Foto: thekharkivtimes.com

Doa Para Koruptor: Umur Panjang Rezeki Murah, Oleh: UU Hamidy

Para koruptor memandang apapun juga jenis kejahatan, tipu daya, perbuatan culas yang korup dan segala perbuatan yang memperkaya diri sendiri, semuanya dipandang baik. Semua kelakuan dan tabiat itu dianggap biasa-biasa saja. Dalam hati mereka tak pernah terlintas suatu beban batin, apalagi merasa berdosa. Padahal dosa itu, sesuatu yang meresahkan hati, walau bagaimanapun juga kita berusaha menenangkannya.

Segala sesuatu yang bernada sentuhan batin, pencerahan dan cahaya ketuhanan, akan dipandang aneh oleh para koruptor. Jika ada ucapan yang bergaya sufis ‘’Kalaulah kematian itu ada dijual di kedai, kami sudah lama membelinya’’, akan dipandang sebagai perkataan yang konyol.

Begitu pula ucapan yang kira-kira berbunyi, ‘’dunia ini belenggu bagi orang beriman dan maut adalah pembebas bagi mereka’’ juga akan dihadapi dengan muka yang sinis. Mereka barangkali malah akan membalas, ‘’Berlagak moralis! Bergaya orang baik-baik pula. Untuk apa kau hiraukan kami, lu lu, gua gua.’’

Mereka tak menyadari bagaimana bernasib malang di depan nafsu dan dunianya, yang telah membuat lalai untuk mengenal Tuhan sebagai muara segala kehidupan. Dia tidak melihat bagaimana maut memutus segala angan-angan, meruntuhkan kekuasaan, memisahkan dan mengakhiri segala ambisi. Lalu membuat manusia menjadi jasad yang tiada berdaya, yang kemudian semua dunia dan hartanya tak dapat menolong.

Para koruptorlah yang paling panjang angan-angannya di dunia ini. Mereka membayangkan hidup bukan hanya setakat 50-100 tahun, tetapi mungkin kalau bisa 1.000 tahun. Berapa banyak kekayaan yang sudah didapat dan dikumpulkan, tetap dipandang belum memadai. Walaupun enak makanan hanya sebatas kerongkongan, namun bermacam makanan tetap ditumpuk. Harta tak pernah dipandang sebagai beban, sebab itu mereka mengikuti ajaran Karun : cari dan tumpuk terus!

Mengapa harta dan kekayaan dicari dan ditumpuk terus tanpa hneti? Kekayaan adalah satu-satunya jalan untuk dikagumi. Kekayaan dipandang sama dengan harga diri. Kekayaan juga untuk merasa diri lebih alias kesombongan, bahkan juga untuk kekuasaan. Selebihnya adalah untuk melepaskan segala selera dan hawa nafsu. Sementara di seberang sana, kemiskinan dipandang rendah, hina, tak berdaya, tidak sukses serta ketinggalam zaman. Kekayaan adalah simbol orang-orang sukses abad ini. Tanpa kekayaan lebih baik mampus.

Dengan demikian yang dirancang oleh para koruptor dalam kehidupannya kalau disederhanakan hanya dua saja : panjang umur dan rezeki murah. Keduanya berada dalam keadaan balas membalas. Umur panjang digunakan untuk mencari rezeki atau harta benda sebanyak-banyaknya. Sedangkan harta yang banyak juga akan berguna untuk memperpanjang umur.

Caranya, pertama dengan mengamalkan makanan 4 sehat 5 sempurna. Unsur halal tak perlu. Harganya, berapapun juga dibeli. Sebab, dalam pandangan hidup para koruptor, resep umur panjang ialah menjaga (memelihara) kesehatan. Karena itu, yang kedua, mereka memeriksa kesehatan dengan teratur. Bahkan kalau perlu pakai dokter pribadi.

Para koruptor hanya mempercayai hukum atau logika sebab-akibat. Karena itu segalanya dapat direkayasa. Umur yang panjang dapat direkayasa dengan makanan dan rekayasa medis para dokter. Sedangkan rezeki yang banyak dapat direkayasa dengan melakukan apa saja yang dapat memberikan keuntungan kebendaan. Inilah yang menutupi hati nurani mereka serta melumpuhkan budi pekerti.

Hukum sebab-akibat yang begitu dominan dalam alam pikiran para korptor menyebabkan pula mereka memandang malapetaka dapat pula direkayasa. Mereka tak membayangkan bagaimana maut bisa datang dengan tidak terduga, tidak terikat oleh ruang dan waktu. Maut tidak mengenal hukum sebab-akibat, tak dapat direkayasa. Kematian tidak mengenal usia, kedudukan, cuaca dan penyakit. Malaikat maut datang tanpa perlu minta izin kepada siapapun. Dia bekerja tepat waktu, tak dapat tertangguh.

Manusia jenis koruptor tak mau mengingat mati, apalagi peristiwa sakaratul maut. Bagi mereka itu kerja sia-sia buang waktu. Jika kebetulan hal ini terlintas, mereka hanya membayangkan kematian seperti sehelai daun luruh ketika rembang petang seperti disindir oleh baris sajak Rida K Liamsi.

Jadi maut hanya peristiwa biasa-biasa saja. Sebagaimana kita menyeguk kopi, menyetel kaset atau membelai pundak Blacky –sekali lagi mengutip rangkai sajak Rida K Liamsi. Dengan ini, mereka takkan pernah membayangkan kuburan sebagai jurang neraka atau taman surga. Karena itulah mereka selalu mencari kemegahan dengan melakukan kerusakan di muka bumi. Pantaslah manusia jenis ini dibidas oleh ajaran Islam sebagai orang yang hidup bagaikan binatang, bahkan lebih rendah dari binatang.

Bagaimanapun juga, manusia memang telah mendapat anugerah kemauan bebas dari Tuhan Semesta Alam. Kemauan bebas ini terpulang padanya. Silakan mencintai apa dan siapa saja, tetapi semuanya itu pasti akan ditinggalkan. Berbuatlah sesukamu, tetapi niscaya akan dituntut untuk dipertanggungjawabkan. Dan terserah, mau hidup dengan gaya apa. Namun ingat akan berakhir dengan maut. Dan berhadapan dengan maut, tak satupun dapat diandalkan, kecuali ibadah dan amal saleh. Wallahu a’lam.***

Check Also

Hidup Bagaikan Alam di Tepi Rimba Belantara (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

3. Berkebun untuk Mengatasi Kelaparan Selanjutnya marilah kita tinjau apa niat Haji Harun dan tetua …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *