Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Membeli Dunia, Oleh: UU Hamidy

Membeli Dunia, Oleh: UU Hamidy

Allah Swt sungguh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah benar-benar membimbing manusia ke surga. Sebaliknya, setan benar-benar mengajak manusia masuk neraka. Untuk menyelamatkan manusia, Allah memberi ganjaran 10 kali lipat atas tiap amal saleh. Bahkan, tiap amal saleh dapat menumbuhkan 7 arai yang menghasilkan tiap arai 100 biji, sehingga akhirnya bernilai 700 kebajikan. Sebaliknya, tiap amal jahat hanya dibalas setimpal dengan kejahatan itu. Kemudian Allah memberikan pedoman hidup yakni Alquran yang pemakaiannya dicontohkan oleh Nabi Saw melalui para sahabatnya, sehingga telah menampilkan satu generasi umat manusia yang terbaik di muka bumi.

Meskipun Allah telah memberikan pedoman hidup yang benar, yang membedakan yang hak dengan yang bathil, namun Allah tidak memaksa. Manusia boleh memilih. Mau menerima silakan, mau menolak juga terserah. Allah juga memberi ilham kepada jiwa, apakah akan memilih ketakwaan atau kefasikan. Karena manusia telah bebas memilih, maka dia harus bertanggung jawab atas pilihannya. Ternyata, umat manusia terutama dunia Melayu yang telah dijangkau oleh dakwah Islam, berlaku begitu bodoh. Bodoh tidak menggunakan akal sehatnya, tidak memakai panca indera dengan benar untuk menyaksikan kebenaran dan kebesaran Allah pada alam raya ini. Sudah terbukti hidup akan disusul oleh kematian. Kemudian Alquran menjelaskan bagaimana kehidupan di akhirat yang akan jadi penyesalan bagi orang kafir dan orang zalim. Namun kebanyakan manusia memilih jadi pembangkang. Sungguh sikap hidup yang konyol, karena menghancurkan segala nilai kehidupannya. Manusia semestinya memilih membersihkan jiwanya agar beruntung di akhirat. Tetapi ternyata lebih suka mengotorinya, sehingga menjadi orang yang merugi.

Umat manusia dalam hal ini orang Melayu, ternyata lebih suka memilih hidup dunia yang hanya tidak sampai 100 tahun, berbanding kehidupan di akhirat yang kekal tidak mengenal bilangan tahun. Lebih suka mengganti kesenangan kehidupan akhirat dengan kesenangan kehidupan dunia. Demi mendapatkan kesenangan dunia yang palsu itu, dia telah melakukan apa saja, menggadaikan harga dirinya sampai menjual dirinya sendiri. Padahal kesenangan dunia yang menipu itu hanya bagaikan setetes air dibandingkan kesenangan kehidupan akhirat yang bagaikan lautan luas. Karena itu, Allah selalu memberi peringatan mengapa manusia yang pongah ini tidak juga berpikir.

Manusia yang lalai itu telah menukar Alquran dengan demokrasi. Membeli sistem kufur dengan Syariah Islam yang lurus. Dengan demokrasi, manusia hanya mencari jalan bagaimana hidup sukses mendapat harta kekayaan, jabatan yang jadi kesombongan serta bersenang-senang melepaskan hawa hafsu yang rendah. Dengan alam demokrasi, manusia tak pernah membayangkan kematian yang bisa datang tak terduga. Kematian hanya dipandang bagaikan sehelai daun yang jatuh. Tak perlu dihiraukan, apalagi direnungkan. Manusia dalam perangkap demokrasi ini sibuk dengan kerja dan merancang teknologi agar semakin banyak dan cepat bekerja. Sesudah itu makan, tidur dan berkelamin, lalu menghibur diri sampai lupa diri.

Selanjutnya, insan yang zalim ini telah membeli kesesatan dengan petunjuk. Petunjuk yang benar dari Alquran dan Sunnah Nabi Saw mereka campakkan. Mereka ganti dengan aturan atau hukum jahiliyah buatan manusia, yang akan menyesatkan. Tidak mau memperhatikan dan melaksanakan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, yang berisi perintah dan larangan, agar selamat menempuh hidup dunia serta selamat menuju hidup yang kekal di dalam surga dengan mendapat nikmat yang tiada tara. Namun karena kebodohannya dan keangkuhannya memakai demokrasi buatan manusia, dia mengikuti orang banyak di muka bumi lalu mengambil jalan yang sesat sehingga perjalanan hidupnya akan berakhir di neraka.

Manusia yang pembangkang itu bahkan berani mempermainkan Alquran. Ketika diangkat menjadi pejabat atau pemimpin umat pemegang teraju kekuasaan, dia bersumpah dengan Alquran. Tetapi setelah dia mendapat kedudukan untuk melayani dan mengatur kehidupan masyarakat dan negara, dia tak mau memakai aturan atau hukum dari Alquran. Mereka malah berani membuat hukum (aturan) yang menentang Alquran. Padahal Alquran telah memberi peringatan, janganlah mengatakan ini haram dan ini halal dengan lidahmu. Sebab hak menentukan hukum itu hanyalah dari Allah, Yang Maha Bijaksana.

Dengan demikian, dunia Melayu yang mengaku beragama Islam itu sebenarnya mau ke mana? Sudah diberi pedoman hidup yang benar oleh Allah untuk menyelamatkan dirinya. Diberi contoh teladan yang indah bagaimana hidup dengan Syariah Islam oleh Nabi Muhammad Saw. Sudah diberi peringatan dengan bencana dari langit dan bumi, namun tidak juga mau sadar dan berpikir yang jernih.

Sedangkan dunia yang dikejar dan dikumpulkan siang dan malam itu, nyatanya tetap memberikan kehidupan yang sempit. Dadanya sempit karena tak dapat mengingkari hati nuraninya, betapa segalanya itu dilakukan dengan kezaliman, dengan berhutang, dengan sistem riba serta berbagai tipu daya lainnya. Bagaimanapun juga dia menghibur diri dengan kekayaan, jabatan dan popularitas, tapi hatinya tetap tidak tentram. Sebab hati hanya dapat menjadi tentram dengan berzikir kepada Allah. Karena itulah Allah mempersilakan hidup bersenang-senang dengan pembangkangan itu, sementara azab neraka sedang menantinya di akhirat. Pembeli dunia yang tidak mau memperhatikan Alquran itu akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan buta. Mereka memilih hukum jahiliyah, padahal tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang yang yakin.***

Check Also

Hidup Bagaikan Alam di Tepi Rimba Belantara (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

3. Berkebun untuk Mengatasi Kelaparan Selanjutnya marilah kita tinjau apa niat Haji Harun dan tetua …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *