Home / Bunga Rampai / Titi Teliti, Oleh: Purnimasari
Foto : Bilik Kreatif

Titi Teliti, Oleh: Purnimasari

Sebenarnya apa ya pekerjaan Ayah? Ketika masuk Sekolah Dasar dan sudah bisa membaca, di ijazah Taman Kanak-kanak dia membaca bahwa pekerjaan Ayahnya adalah : Peneliti.

Untuk level bebudak, profesi peneliti ini adalah sesuatu yang ganjil. Karena ketika itu, kebanyakan ayah teman-temannya umumnya bekerja sebagai guru, polisi, ustadz, pegawai kantor gubernur, karyawan swasta, atau pemilik toko.

Jadi, apa sebenarnya peneliti itu? Yang dia tahu, sejak kecil, ayahnya sering bepergian. Ke tempat-tempat nun, keluar masuk pedalaman, ke ceruk-ceruk kampung. Yang katanya jalannya aduh bukan main buruknya. Penuh kubangan lumpur. Atau naik kompang dan kapal ferry. Berlayar ke pulau-pulau kecil dalam gugusan kepulauan di pesisir timur Sumatera. Merasakan garangnya ombak Selat Malaka. Harus berani teken surat mati demi dapat menumpang burung besi dalam penerbangan para pemburu emas hitam. Tapi juga sering ke Jakarta dan kota-kota lainnya. Naik kapal terbang.

Ke mana-mana membawa pulpen, buku, notes, kartu warna-warni serta tustel. Semua dimasukkan ke dalam tas ransel. Hobi mengenakan topi rimba alias jungle hat. Paling senang memakai baju kaos dan sepatu sendal.

Juga sering sekali mengetik di ruang kerjanya yang penuh buku. Dia pun suka menumpang di paviliun itu. Sekedar mengerjakan tugas sekolah atau numpang membaca. Meskipun buku-buku di situ lebih banyak tidak dimengerti olehnya. Pada hari Ahad, kadang dia membantu membersihkan debu yang menempel di rak buku. Sebagai imbalan, dapatlah dia tambahan uang saku.

Kartu warna-warni itu adalah kartu penelitian. Banyak hal-hal penting yang dituliskan di situ. Kadang pula digambar berbagai bagan. Kartu itu juga cikal-bakal sebuah buku. Ayah pernah membuatkan daftar perkalian pada kartu itu. Bebudak jadi lebih mudah belajar ilmu pasti.

Ketika kian besar, dia makin sering ikut Ayahnya. Kadang ke gedung Rektorat Universitas Riau di Jalan Pattimura. Naik tangga ke lantai dua di sayap kiri. Masuk ke ruangan yang di pintunya disangkutkan papan triplek kecil bertuliskan : Bilik Kreatif. Papannya coklat tua dengan tulisan cat putih.

Ruangan itu selesa. Ada meja kerja besar dan satu set kursi tamu. Lantai ubinnya sewarna dengan pualam. Jendelanya lebar-lebar dan tinggi. Jika melongok ke barat, nampaklah markas koran kampus Bahana Mahasiswa. Mereka sering dua beranak saja dalam ruangan itu. Si Ayah sibuk mengetik dan si anak sibuk bermain di kursi tamu. Kadang sampai tertidur pula dia di situ.

Kalau Ayah pergi meneliti, lamanya bisa berhari-hari. Pernah dia pergi ke Pangkalan Kuras, meneliti rimba kepungan sialang. Pulangnya membawa beberapa tas anyaman dari daun mengkuang. Indahnya tas itu. Ada warna-warni di bagian depannya. Tas mengkuang dengan tutup yang melekat di talinya. Mudah untuk dibuka dan ditutup. Tas itu kemudian dijadikan tas sekolah. Sungguh tas yang unik. Mengalahkan tas sekolah koper President dan Apollo yang sangat hits di era ‘80-an. Bebudak senang hati memakainya. Sampai tali putus, baru lah tas mengkuang pensiun.

Tambah besar, dia tambah sering diajak. Kadang naik sepeda motor antar kampung. Kadang menyeberang dengan kapal pompong. Berlagak menjadi asisten peneliti walaupun kerjanya yang sebenarnya hanyalah bermain-main dan ikut raun-raun.

Ketika meneliti Kasin Niro penyadap enau, tiap petang bakda Ashar dia sudah diajak oleh Ayahnya pergi ke rumah Kasin. Melihat Ayahnya mewawancarai Kasin di Rumah Gula miliknya. Semua jawaban dicatat dengan cermat. Lalu segala perangkat kerja Kasin di dalam Rumah Gula difoto satu per satu. Sambil mendengarkan Ayahnya bebual dengan Kasin, dia mencicipi air nira yang disuguhkan Kasin. Amboi lezatnya. Melihat dia sangat suka nira, Kasin pun menghadiahkan sebotol lagi untuk dibawa pulang.

Sekali-sekala, dia dibawa ke percetakan buku. Bertemu dengan seorang lelaki jenius yang menguasai banyak bahasa. Yang kadang dengan senang hati pula memangkunya, seperti anaknya sendiri. Lalu bermain sondok-sondokan alias petak umpet di antara gulungan kertas yang berim-rim banyaknya.

Hampir lulus Sekolah Dasar, baru lah dia tahu bahwa ternyata Ayahnya itu mengajar di perguruan tinggi. Karena setelah dilihatnya dalam rapor, ditulislah di situ bahwa pekerjaan ayah adalah : Dosen Unri.

Dan bodohnya lagi, dia tidak tahu kalau Ayahnya itu pegawai negeri. Sebab, dia tak pernah melihat Ayahnya pakai seragam KORPRI. Ayahnya hampir tidak pernah pakai jas dan setelan safari. Ayahnya juga tak pernah ikut upacara bendera.

Dia baru tahu kalau Ayahnya itu pegawai negeri setelah dia bersekolah di perguruan tinggi. Itu pun dengan cara yang sungguh memalukan.

Syahdan, datang lah seorang perjaka yang mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang pegawai negeri.

“Apa yang salah dengan pegawai negeri? Memangnya kenapa kalau pegawai negeri?”

“Ada perempuan yang tak mau bersuamikan pegawai negeri karena gajinya sedikit.”

“Ooohhh, hmmm.”

“Tanyalah pada Ayahmu. Kan Ayahmu pegawai negeri.”

“Iya gitu? Aku taunya Ayahku penulis buku.” (Nada pasti dengan emoticon berkacamata hitam).

Ketika percakapan ini diceritakannya pada sang Ibu, perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh.

Alangkah bahlulnya anak itu.***

Catatan kaki : Bilik Kreatif ditaja pada tahun 1980. Tulisan ini dibuat sempena mengenang ingatan akan bermetamorfosisnya web bilikkreatif.com pada 17 Agustus 2016. Sebelumnya, Bilik Kreatif hadir dalam bentuk blog yakni bilikkreatif.wordpress.com yang dibina sejak tahun 2013.

Check Also

Dari Sepotong Roti, Oleh: Purnimasari

Lebih berat jadi guru atau jadi ustadz? Guru belum tentu bisa jadi ustadz. Tapi ustadz …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *