Home / Bunga Rampai / Orang Tanah, Oleh: Purnimasari
Foto : id.depositphotos.com

Orang Tanah, Oleh: Purnimasari

Namanya yang sebenarnya sungguh sangat Melayu : Muhammad Sudin. Orang di kampung memanggilnya dengan ‘’Mad Sudin’’.

Itulah salah satu nama orang Melayu kebanyakan, pada zaman dahulu. Di masa mudanya, dia adalah seorang mujahid. Tangan kanan Marah Halim, komandan perang gerilya di medan pertempuran Cerenti, Rantau Kuantan, Riau.

Gelarnya yang lain adalah “Pokiah Mad Sudin”. Itu karena dia pernah lama belajar agama di rantau orang. Dia juga imam di surau Tok Seng (Atap Seng) yang tak jauh dari rumahnya di Kenegerian Siberakun. Kenapa disebut surau Tok Seng? Sebab inilah surau pertama di kampung yang menggunakan atap seng.

Bagi keluarga besar kami, beliau lebih akrab disapa dengan panggilan ‘’Pak Tuo Kicing’’. Pak Tuo karena memang dia lah abang Ayah yang paling tua. Disebut Kicing karena qaddarullah mata kanannya mengecil sehingga dia selalu seperti orang yang sedang memicing.

Jangan tanya kenapa huruf M (micing) bisa berubah menjadi K (kicing). Di kampung, orang tak perlu banyak alasan untuk mengubah nama seseorang. Cukup hanya dengan sekilas melihat tampilan fisik, nama julukan pun bermunculan. Banyak orang punya nama alias atau gelar antropologis. Kadang terkesan rasis, tapi sebenarnya niatnya bukanlah demikian.

(Untuk lebih tahu tentang gelar antropologis, silakan simak https://bilikkreatif.com/gelar-antropologis-cara-unik…)

Lahir di penghujung tahun 1920-an, Pak Tuo bekerja sebagai penakik getah. Tapak lapan (ragam mata pencaharian)-nya yang lain adalah sebagai tukang apar alias pandai besi. Produk andalannya adalah pisau getah. Pak Tuo ahli merancang pisau getah yang paling sesuai digunakan ketika itu yang istilahnya disebut “pisau getah pakai lidah”. Banyak penyadap karet di kampung yang memesan pisau getah kepadanya.

Pekerjaan ini jugalah yang qaddarullah menjadi sebab matanya rusak sebab sering terkena percikan api. Ibarat mengelas tanpa kacamata pelindung. Karena tuntutan pekerjaan, Pak Tuo sering menghembus besi panas dan meniup salung untuk menghidupkan api.

Pak Tuo juga belajar otodidak sehingga bisa memperbaiki jam dinding buatan manapun. Dia mampu mereparasi jam tanpa onderdil. Jika ada komponen yang rusak, dia akan membuatnya sendiri, kadang dari kayu.

Pak Tuo Kicing bukan main sayang pada Ayah walaupun Ayah adalah saudara tirinya. Sebapak tapi lain emak. Ketika Ayah sudah menjadi yatim, Pak Tuo sering menyantuni adiknya ini. Di saat Ayah masih Sekolah Dasar, Pak Tuo sudah berumahtangga. Bahkan, usia putra tunggalnya, Mustafa, hampir sebaya dengan kakak Ayah yang nomor dua.

Dia paham benar Ayah tak kan pernah mau mendagu-dagu (meminta sesuatu) kepadanya. Sebab itu, tiap kali Pak Tuo ada di kedai dan nampak Ayah sedang melintas, dia akan segera bergegas memanggil keluar, ‘’Man, sini, ambil dulu goreng pisang.’’

Ketika Ayah akan berangkat merantau ke Malang, Pak Tuo lah salah seorang di antara rimbunnya anggota di pohon keluarga yang memberi sagu hati, bekal menuntut ilmu. Rp125, bukan uang yang sedikit di tahun 1963. Pemberian yang takkan pernah Ayah lupakan.

Kelak, ketika ada saudara tiri Ayah yang lain, yang berani studi banding perihal apakah sama jumlah kiriman yang dia terima dengan Pak Tuo Kicing, jawaban Ayah ringan saja, ‘’Bang Mad Sudin bagiku adalah istimewa. Takkan pernah aku sanggup membalas jasanya.’’

Tiap balik kampung, kami selalu diajak Ayah berkunjung ke rumahnya. Ketika mudik tidak bersama Ayah, kami pun senang hati menjenguknya. Kediamannya adalah rumah panggung Melayu dari kayu dan bertangga batu. Bersih macam dijilat. Selalu saja ada juadah yang dia hidangkan. Jika kebetulan tidak ada apa-apa, dia meminta kami menanti sebentar. Lalu, ibarat juru masak andalan, kami menontonnya memasak di tungku di atas kungkung di dapur.

Kungkung adalah tempat memasak pakai kayu. Kungkung terbuat dari papan, panjang lebih kurang satu setengah meter dan lebar satu meter. Dasarnya juga dari papan. Sedangkan tinggi tanah dalam kungkung lebih kurang setinggi kepingan papan, kita-kira 30 Cm. Di atas tanah dalam kungkung itulah dipasang tungku yang tahan api seperti besi dan batu. Kungkung dapat dibuat pada lantai dapur. Tapi lebih baik diberi empat tiang sehingga orang memasak berada dalam posisi yang kreatif. Karena kungkung ini tak dapat dipindahkan ke mana-mana, atau karena tanah dalam kungkung itu tak dapat tertumpah ke luar, maka inilah asal kata ‘’terkungkung’’ yang dipakai dalam bahasa Indonesia.

Lantas hadirlah tambul godok pisang, pisang rebus atau goreng ubi kayu ditemani teh hangat. Walaupun ketika itu kami hanyalah budak salemo alias bocah ingusan, Pak Tuo senang mengajak kami bebual. Ada saja hal yang ditanyakannya. Padahal, sejatinya, dia adalah orang yang tidak banyak cerita.

Karena kami tak pernah bertemu Datuk sebab dia sudah lama meninggal, maka menurut Ayah, lihat sajalah Pak Tuo. Sebab Pak Tuo itulah anak lelaki yang paling mirip penampilan fisiknya dengan Datuk. Cetak birunya Datuk. Ketika dia tinggal dengan kami, banyak orang menyangka bahwa beliau adalah bapaknya Ayah.

Pak Tuo adalah lelaki yang gagah. Posturnya lampai (tinggi dan ramping). Tingginya paling tidak 175 Cm. Kulitnya kuning. Hidungnya mancung dengan tulang hidung yang bengkok seperti orang Barat. Rambutnya lurus. Wajahnya oval cenderung lonjong. Penampilannya sederhana. Celana kain belacu dan baju kaos saja sudah cukup. Jari jempol pada tangan kanannya sudah putus karena membelah buluh.

Pak Tuo juga sanggam berbicara. Lidahnya tidak liar. Tapi, jika melihat sesuatu yang tidak benar, dia takkan segan-segan memberi peringatan tegas. Kalau dia berbicara, jarang ada yang berani melihat matanya.

Seperti halnya Datuk dan Ayah, Pak Tuo juga adalah tipe suami yang suka ke pasar, betanak menggulai demi istri. Sudah ternama di kampung bahwa Mak Tuo Ruda (Raudah) adalah istri yang senang. Bukan karena bergelimang uang. Tetapi karena punya laki yang suka menolong dan penyayang. Boleh jadi, karena itulah Mak Tuo awet muda. Badannya terawat karena tak pernah kerja berat. Air dari sungai sudah diangkatkan. Pak Tuo bahkan tak segan menyuci bajunya sendiri.

Kata Ayah, Pak Tuo adalah orang yang hebat. Tapi aku baru berkesempatan melihat langsung kehebatannya itu setelah dia tinggal bersama kami. Tahun 1988, ketika Ayah dan Ibu naik haji, Pak Tuo lah yang dipercayai menemani kami di rumah. Masa itu masih zaman SD.

Ada empat orang dewasa yang menjaga kami. Bang Yendi, sepupu yang sudah kuliah dan memang tinggal di rumah. Tugas utamanya adalah antar jemput sekolah. Kak Rena, orang yang biasa membantu di rumah tapi dia juga disekolahkan. Tanggung jawabnya adalah memasak dan mengurus rumah. Pak Tuo, perwakilan dari pihak Ayah. Dan Tino (Nenek) Muna (Maimunah), adik dari ibunya Ibu.

Selama tinggal di rumah, Pak Tuo tidur di kamar bujangan yang pintunya langsung menghadap ke teras belakang. Kamar ini tidak ‘menyatu’ dengan rumah. Beliau diberi kunci serep pintu dapur agar bisa masuk ke rumah. Untuk memudahkannya ambil wudhu saat hendak sholat Subuh, disediakan air seember di atas teras. Setiap malam, dua kali dia patroli keliling rumah sambil membawa senter. Amanah sebagai penjaga memang benar-benar beliau tunaikan.

Pagi-pagi sekali, saat fajar baru menyingsing, dia sudah ‘dinas’ membersihkan halaman. Caranya sungguh sangat unik. Sebilah bambu kecil yang telah diruncingkan ujungnya, digunakan sebagai pengganti sapu lidi. Bambu runcing ini kemudian ditancapkan satu per satu ke daun cempedak dan daun jambu yang berserakan di pekarangan. Jika sudah banyak, tinggal ditanggalkan di tempat sampah. Cepat dan praktis.

Selesai sarapan, Pak Tuo pindah ‘dinas’ ke tanah kosong di samping rumah. Semak tak tentu arah punah diungkal hingga ke akar-akarnya. Setelah itu mulailah dia tunak berkebun. Lahan seluas 35 kali 25 meter dia penuhi dengan berbagai macam tanaman. Ditata rapi sesuai dengan kelompoknya dan dipisahkan oleh galangan air yang sama besarnya.

Ada kacang panjang, rimbang, peria, pitulo (gambas), tomat, dan cabai. Ada terung ungu dan terung asam yang sedap untuk ulam. Ada ubi kayu, ubi jalar serta keladi. Juga ada pepaya, nenas, tebu, dan labu. Dulunya, tanah ini memang bekas lahan para perantau Jawa menanam bayam. Sebab itu, tanahnya gembur dan subur.

Untuk menghalau hewan pengganggu, Pak Tuo membuat beberapa orang-orangan dari kayu dan baju bekas. Beliau juga mengikatkan banyak kotak bekas minuman dengan tali yang kemudian diikatkan melalui jendela rumah. Sekali sentak tali itu, berhamburanlah kawanan burung yang ingin merusak tanaman. Petang-petang hari, Pak Tuo menyiram tanaman dengan air di kolam ikan dengan menggunakan kaleng bekas susu yang dipakukan pada sebilah kayu.

Betapa indahnya kebun itu. Tanaman yang merambat dan menjalar, dibuatkan penyangga dari ranting-ranting kayu dan tali-temali. Kami boleh dikata hampir tak pernah beli sayur lagi. Kalau mau, tinggal petik. Sebagian bahkan dihadiahkan kepada tetangga. Kadang pula, ada jiran yang bertandang demi dapat melihat. Banyak yang kisok (iri bercampur kagum) melihat kebun hasil tetak tangan Pak Tuo.

Pejuang veteran ini benar-benar menampakkan ketangguhan dirinya. Padahal, ketika itu, tubuhnya sudah mulai agak bungkuk. Setelah makan tengah hari, dia paling-paling hanya istirahat sebentar. Berbekal topi pak tani dari anyaman mengkuang dan sepatu boot, dia kembali bercucuk tanam. Cangkul diletakkan di atas pundak dan lading dijinjing. Dia mengisi waktunya secermat mungkin. Tak pernah ada ruang untuk bual-bual kosong. Penat berkebun, dia mengaji. Walaupun kondisi matanya demikian, Pak Tuo tetap mampu baca Al-Qur’an tanpa kacamata meski usianya sudah lanjut.

Kebun itu juga bersih. Rumput liar dan daun kering dienyahkan hampir tiap hari. Melihat kebun yang seelok itu, kadang kami jadikan tempat makan tamasya. Dengan gelar tikar di bawah batang rambutan, kami mengunyah sambil ditiup angin sepoi-sepoi. Senang rasanya makan dengan melihat pemandangan sayur-mayur yang buahnya rampak bergelantungan.

Pulang haji, Ayah terpana melihat kebun Abangnya. Kurang lebih tiga bulan di rumah telah diisinya membuat sesuatu yang berharga. Bak kata Ayah, Abang kesayanganya itu memang “orang tanah”. Atas izin Allah, dengan ketunakannya mengolah tanah, apapun yang ditanam banyak menjadi. Tangannya ‘sejuk’ sehingga tetumbuhan bahagia dirawat olehnya. Kebun getahnya pun demikian. Sering dia dapat menakik getah 10 Kg sehari. Setelah Pak Tuo kembali ke kampung, kebun yang molek itu pun redup. Tak ada yang sanggup merawatnya sebaik tuannya yang pertama.

Cerita Ayah, banyak anak negeri di Rantau Kuantan yang mendapat pensiunan veteran. Yang tidak ikut perang pun bisa dapat, asal pernah berjasa seperti ikut mengumpulkan senjata untuk para mujahidin. Tapi Pak Tuo tidak mau menerima uang pensiunan veteran. Ketika ditanya oleh Ayah mengapa dia tak mau terima uang itu, Pak Tuo hanya menjawab dengan ringan, ‘’Kalau aku ambil uang veteran itu, lalu apa niat aku dulu ikut perang? Aku ikut perang melawan Belanda itu dengan niat ikhlas mencari pahala di sisi Allah.’’

Inilah jawaban ‘orang tanah’ sejati. Berbuat tulus, ikhlas, dari lubuk hati. Tidak perlu puja-puji. Tak silau oleh godaan materi. Hidupnya tetap membumi. Berbuat apa yang bisa untuk negeri. Sebab dia paham makna pahala yang hakiki.

Padahal, kalau Pak Tuo mau, tentu dia berhak menerima pensiunan veteran. Barangkali dia cukup kirim surat, tidak perlu pakai surat permohonan, kepada Marah Halim memberitahukan bahwa dia belum mendapat pensiunan veteran. In syaa Allah akan segera dibantu oleh Marah Halim. Karena hampir tak masuk akal dia melupakan tangan kanannya Mad Sudin dalam tiap pertempuran di Cerenti.

Di masa gerilya dulu, sebelum para mujahidin berangkat, maka dibacakanlah hikayat Perang Hasan dan Husin untuk membakar semangat. Mirip seperti pembacaan hikayat Prang Sabi dalam perang Aceh. Ketika perang berkecamuk, banyaklah kabar burung yang memberitakan bahwa Mad Sudin telah mati. Setelah tertangkap Belanda dan dibawa ke Rengat, Mad Sudin menjadi korban kerja paksa. Setelah itu baru dia mendapat pekerjaan yang agak enteng, yakni menjadi tukang jemput bahan makanan untuk Belanda di lapangan kapal terbang Japura.

Pada 19 Desember 1949, saat pengembalian kemerdekaan oleh Belanda, sejumlah pemuda ditawarkan masuk tentara oleh pemerintah Republik Indonesia. Marah Halim langsung menjadi tentara tetap reguler yang bertugas menyeleksi calon tentara. Di antara yang diterima adalah Abbas Jamil yang sampai meraih pangkat kolonel. Namun Mad Sudin tak menaruh minat. Jika dia mau, barangkali takkan sampai hati bekas komandannya itu memberikan pangkat prajurit pahit kepadanya.

Agaknya, satu-satunya penghargaan yang dia terima adalah dimainkannya kesenian rakyat tradisional randai Rantau Kuantan tentang pengkhianatan mata-mata Belanda, perdana, di halaman rumah Mad Sudin. Randai ini memberitahukan bahwa Belanda telah kalah dan mujahidin perang gerilya telah menang. Pesan moral lainnya adalah jangan sampai ada lagi anak negeri yang sampai hati berkhianat, mau menjadi mata-mata suruhan kompeni.

Kini, setelah lebih 20 tahun sejak kepergiannya, nama Pak Tuo Kicing masih kerap hadir dalam perbualan kami di rumah, anak-beranak. Terkenang dengan kebunnya yang indah. Terkenang dengan ‘sapu lidi’-nya yang unik. Terkenang dengan sosok penuh kharisma dan melindungi. Terkenang jasanya, pemberiannya di saat susah. Terkenang pribadi tanpa pamrih.

Insan yang baik dan budiman memang selalu hidup dalam ingatan.***

Check Also

Dari Sepotong Roti, Oleh: Purnimasari

Lebih berat jadi guru atau jadi ustadz? Guru belum tentu bisa jadi ustadz. Tapi ustadz …

2 Komentar

  1. Vivo siberakun.pak. Mad Sudin adalah seorang tipologi akar beliau tdk terlihat ke permukaan tp semua bisa merasakannya. Baik daun.ranting.dahan dan batang serta kambiunnya. Biarlah dia mnjadi lilin yg dpt menerangi org lain.kalau beliau berada dlm gelap mk hasil jerih payahnya inilah yg akan memeranginya.jk bebannya berat mk usahanya tsb lah yg meringankannya. Krn beliau ikhlas sekiranya beliau terima pensiun veteran apa artinya niat tulus ikhlasnya selama ini. Luar biasa dlm makna filosofisnya. Slmt jln p.Mad Sudin semoga damai di alam sana.namamu akan selalu terukir Krn keikhlasanmu. Semoga!!!!!

    • Aamiin Allahumma Aamiin. Semoga Allah berikan tempat terbaik untuk Pak Mad Sudin (rahimahullah). Mudah-mudahan banyak muncul Mad Sudin-Mad Sudin lainnya di Siberakun dan Rantau Kuantan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *