Home / Bunga Rampai / Dari Sepotong Roti, Oleh: Purnimasari
Foto : Pinterest

Dari Sepotong Roti, Oleh: Purnimasari

Lebih berat jadi guru atau jadi ustadz? Guru belum tentu bisa jadi ustadz. Tapi ustadz in syaa Allah juga adalah seorang guru.

Rasanya kita semua akur, menjadi cikgu di pondok pesantren tetap jauh lebih berat daripada berkhidmat di sekolah pada umumnya. Tanggung jawabnya lebih besar karena harus mengurus anak-anak hampir 24 jam. In syaa Allah pahalanya tentu juga lebih banyak.

Maka tersebutlah Pak Inu, wali kelas di lokal XI IPA A. Nama lengkap beliau adalah Zaenul. Tapi anak-anak lebih akrab memanggilnya Pak Inu. Masuk Universitas Gadjah Mada tahun 1991. Beliau memang membahasakan dirinya kepada anak-anak dengan sebutan “Pak Inu”. Bukan “Ustadz Inu”. Mungkin karena beliau menjadi pengampu mata pelajaran biologi, bukan agama. Pak Inu sudah berkhidmat di pondok sejak tahun ‘90-an. Berayahkan orang Madura, ibunda dari Lumajang dan besar di Probolinggo, Pak Inu ibarat paket lengkap arek Jawa Timur.

Karena pandemi Covid-19 masih meruyak, pondok menerapkan maklumat tidak ada penjengukan dan bahkan sempat melarang penerimaan kiriman. Telepon hanya boleh sekali seminggu dengan durasi yang cukup singkat. Kondisi yang cukup membuat orangtua terutama para ibu dilanda rindu kelas berat yang susah dicarikan penawarnya.

Di sinilah sungguh terasa betapa pentingnya peran Pak Inu. Ada saja caranya untuk melipur lara para emak. Beliau rajin membuat video dan mengirimkan foto-foto. Video anak-anak ketika di kelas, sedang berolahraga, makan, dan kegiatan lainnya. Juga mengirimkan foto para bujang dengan caption : “Ibu-ibu, dapat salam nih dari anak-anak ganteng”. Bahkan kadang beliau iseng. Anak-anak tengah tidur pun difoto. Ikhtiar Pak Inu di grup WA kelas sungguh obat rindu paling mangkus bin mujarab buat para ibu. Benar-benar tipe wali kelas idaman.

Tapi namanya juga emak-emak, memang susah mau puas hati. Ada yang mengeluh putranya tak kelihatan. Ada yang komplain anaknya gaya punggung alias cuma tampak belakang. Padahal, qaddarullah ketika sesi foto, si anak sedang permisi ke kamar mandi. Atau, ada anak yang karena sudah akil baligh, mulai enggan difoto. Emaknya rindu, anaknya malu. Ibarat jualan godok bagulo dan sala lauak, maka emak-emak hampir dipastikan akan masuk Tim Sala. Semua sala(h) di mata emak, tiada yang benar.

Sampailah pada suatu hari, Pak Inu memposting sebuah video tentang pembagian roti untuk para santri. Ternyata, roti itu hadiah pribadi dari beliau. Usut punya usut, rupanya Pak Inu punya usaha rumah tangga menjual roti. Salah satu ciri khasnya adalah roti bluder dengan aneka isi. Roti kuno zaman dahulu yang tetap lezat dinikmati hingga hari ini.

“Mohon doanya, in syaa Allah saya akan memberikan roti gratis sekali sebulan.”

Akibat pandemi, pondok memang semi lockdown. Para santri yang dulu tiap libur Jumat boleh belanja di kedai-kedai sekitar pondok, kini harus cukup puas dengan kantin dan minimarket di dalam pondok. Pilihan makanan pun jadi terbatas. Karena itu, roti pemberian Pak Inu sungguh terasa sangat beharga.

Namun ada juga wali santri yang jadi kepikiran. Kalau murid membeli dagangan guru, tentu jamak terjadi. Tapi murid diberi gratis jualan cikgu, ini boleh dikata jarang. Bisa jadi, Pak Inu hidup bersahaja. Tetapi beliau tetap semangat untuk berbagi.

Anggaplah harga roti itu Rp5.000. Di kelas ada 25 anak. Berarti tiap bulan Pak Inu sedekah Rp125 ribu. Bukan jumlah yang wah bagi sebagian orang. Tapi ini bukan soal besar dan kecilnya nilai rupiah. Ini soal kemauan. Perkara niat baik. Azam berdonasi. Kecil tapi rutin. Sedikit tapi konsisten.

Roti gratis Pak Inu agaknya telah menyentuh syaraf sedekah wali santri. Efek sampingnya, anak-anak tiba-tiba jadi sering terima kiriman paket makanan. Ada bakso, kebab, mie ayam, ayam geprek, soto ayam, martabak, bahkan pizza dan nasi Padang. Atau paket minuman seperti jus, dalgona, wedhang jahe, teh tarik hingga kopi. Siapa nama muhsinin tidak pernah diberi tahu. Juga tidak ada pilih kasih. Semua warga kelas menerima makanan dan minuman yang sama.

Pak Inu adalah dalang di balik semua itu. Berapapun dana yang diterima, beliau akan putar otak untuk memikirkan menu yang sesuai dengan budget, untuk semua anak. Maka hilir mudik lah video makan minum di grup kelas. Anak-anak yang jauh dari rumah, dari berbagai wilayah di Indonesia, tertawa ceria, bahagia menerima makanan ekstra. Apalagi anak bujang di masa pertumbuhan. Hobi makan lagi, makan lagi.

Semangat sedekah dari Pak Inu akhirnya kian menjalar. Sejumlah wali santri berinisiatif membuat donasi khusus untuk kelas. Bagi yang ada kelebihan rezeki, silakan menyumbang ke rekening yang ditunjuk. Daftar menu tambahan pun dibuat. Bahkan, anak-anak boleh ikut usul mau dibelikan apa. Senang tiada terkira.

Untuk itu Pak Inu bersedia dapat tugas tambahan : menerima transfer dana, menyusun jadwal pemberian, memikirkan menu yang sesuai dengan jumlah uang dan makanan itu disukai anak-anak, lalu mengurus pengantarannya hingga ke sekolah. Agar tidak mencolok, acara menjamu selera biasanya dilakukan di kelas atau di kamar di asrama.

Maka mulailah muncul bisik-bisik tetangga. Kelas lain pada studi banding. Kenapa anak IPA A sering sekali makan bersama? Bahkan ada emak-emak yang komen di grup WA angkatan, “Kelas IPA itu isinya orang kaya-kaya ya? Kok sering makan-makan?”

Pak Inu bukannya tak tahu. Ia sadar kelasnya jadi sorotan. Namun dengan nada lemah lembut beliau memberi tangkisan, “Makan-makan itu inisiatif para wali santri. Mereka yang berdonasi. Masa ada orang mau sedekah malah dilarang?”

Jawaban telak, singkat, padat. Tendangan penalti, duabelas pas.

Akhirnya, pelan namun pasti, wali santri yang lain menyadari. Proyek makan-makan itu adalah ujud dari kerja sama yang baik antara wali kelas dengan wali santri. Yang namanya sedekah, tak harus nunggu kaya. Betapa banyak orang berharta tapi dijahit saku-sakunya (baca : kikir). Uangnya susah keluar untuk berderma. Lokek bin kedekut. Dan banyak juga orang yang hidupnya pas-pasan tapi rajin memberi. Sedekah justru membuat hidup tambah indah dan berkah.

Virus sedekah kian menyebar. Satu angkatan kompak buka donasi untuk mentraktir para mujahid. Ada menu ekstra minimal dua kali seminggu. Para ustadz, musyrif, dan petugas keamanan juga dapat bagian.

Saat bulan Ramadhan, program sedekah kian menjadi-jadi. Merambah ke lintas semua angkatan dan jenjang. Wali santri kelas XI menjadi motor penggerak demi mewadahi sedekah untuk ribuan santri. Perkiraan perlu dana kurang lebih Rp45 juta, di luar kurma yang alhamdulillah sudah ada donaturnya. Jumlah itu untuk bantuan konsumsi mulai dari jenjang Tsanawiyah hingga Aliyah selama 10 hari puasa (karena setelah itu anak-anak libur). Hanya dalam waktu beberapa hari, donasi ditutup karena sudah terpenuhi. Para santri dapat tambahan menu berbuka dan kudapan setelah sholat Tarawih.

Tak hanya itu, karena pandemi, beberapa wali santri jadi kesulitan keuangan. Maka dibukalah donasi Teman Asuh, rutin untuk membantu membayarkan uang sekolah bagi yang memerlukan. Ada juga pengumpulan dana tidak terduga bagi yang ditimpa musibah.

Ketika pandemi kian mengganas, gairah sedekah kian menyala-nyala. Merajalela. Bahu-membahu para muhsinin mengirimkan donasi. Tidak hanya dalam bentuk uang tunai, ada juga yang dalam bentuk barang. Juragan kurma, saudagar madu, dan bandar herbal seakan berlumba memberikan produk terbaiknya. Sebagai ikhtiar meningkatkan imunitas, anak-anak diberi tambahan vitamin, susu, minuman rempah dan rimpang serta thibbun nabawi. Pak Inu pun lagi-lagi bersedia dapat tugas tambahan. Beliau menyalurkan donasi ke kelas-kelas yang lain. Mendokumentasikan keceriaan para lelaki kecil.

Atas izin Allah, roti kecil Pak Inu kini terbukti punya dampak gergasi. Raginya mengembang, membuahkan semangat berbagi. Tepungnya menjalarkan bulir-bulir donasi. Airnya menguatkan akar-akar, yang menyebar, beranak-pinak di kalangan wali santri.

Tapi, tentu saja niat baik ini tak mulus selamanya. Banyak juga nada-nada sumbang tapi mungkin enggan menyumbang. Ada yang sinis, kenapa kita harus sibuk membantu anak kelas lain, lain angkatan, lain kelas, lain jurusan, dan banyak lagi lain yang lain. Hidup sekarang saja sudah makin susah. Padahal, tak ada yang mengharuskan. Kalau mau, ya sile. Kalau tidak, ya monggo. Ada pula yang mencibir, menilai target sedekah ini muluk-muluk karena itu berarti membiayai anak satu pondok.

Ketika jam menelepon mulai dikurangi, Pak Inu berbaik hati meminjamkan handphonenya agar anak-anak tetap bisa berkomunikasi dengan orangtuanya. Siang hari, di antara jeda waktu mengajar, beliau rehat di kamar anak-anak dan membolehkan gadgetnya jadi handphone bergilir. Saat malam hari, beliau rajin main-main ke asrama, walaupun ketika itu hujan. Semua itu demi memantau anak-anak meski sudah ada wali asrama dan para musyrif.

Sungguh, bukan perkara senang mendidik anak zaman sekarang. Apalagi mengajar anak yang tinggal di rantau, nun jauh dari orangtuanya. Para ustadz tak hanya dituntut pintar mengajar tapi sekaligus berperan menjadi orangtua. Menyelami jiwa yang kadang dilanda puber dan rindu rumah. Emosi dan energi susah beriringan.

Pak Inu juga kreatif membuat berbagai program kegiatan untuk anak-anak. Ada acara nonton bersama, hadiah bagi yang setoran hapalannya lebih cepat, kuis berhadiah kado-kado istimewa dan lain-lain. Semua kegiatan ini disponsori oleh wali santri dan selalu diakhiri dengan makan bersama. Hadiahnya pun tak pernah mewah. Untuk santri yang sudah hapal 30 juz, dikalungkan ‘medali’ dari tali rafia yang diikatkan sejumlah makanan kecil di sekelilingnya. Terlihat remeh, namun ananda menerima dengan paras berseri-seri. Kado istimewa yang dibungkus dengan kertas padi biasanya berisi kaleng biskuit atau makanan (lagi). Ujung-ujungnya, semua kue-mue ini nantinya tetap saja akan dinikmati beramai-ramai dengan kawan-kawan.

Tiap pembagian raport, beliau selalu bersikap bijaksana. Pak Inu paham betul bahwa mustahil ada anak yang cemerlang dalam segala hal. Karena itu ketika ditanya, “Bagaimana si Fulan?” Jawabannya sungguh menyejukkan hati. “Alhamdulillah si Fulan baik dan santun. Saya bangga bisa menjadi wali kelasnya.” Padahal, bisa jadi si Fulan tidak persis seperti itu benar. Tetapi perkataan yang positif ibarat sebuah doa. Kalimat-kalimat penuh prasangka baik itu punya kekuatan yang mengetuk pintu langit.

Ketika balik kampung ditiadakan karena pandemi, beliau menghibur hati anak-anak dengan caranya yang jenaka. “Ummu, ini anak-anak pada minta difotoin dengan judul ‘Efek Tidak Pulang’.” Di video, beliau menghibur para santri, “Jangan sedih ya tidak boleh pulang. Kan ada saya di sini.”

Komunikasi intensif yang dirajut Pak Inu di grup WA kelas telah membuahkan crochet yang indah. Kata-kata dan video serta foto yang rajin diunggahnya laksana lem yang merekat kuat jalinan ukhuwah. Kasih sayang dan perhatian yang tulus dari Pak Inu telah mengukir tempat spesial di hati kami semua.

Tiada pernah bersua wajah, namun rasanya seperti saudara dekat. Sebuah keluarga. Istri beliau pun insan yang luar biasa. Ketika pandemi mengakibatkan banyak kedai yang tutup, beliau menawarkan diri untuk jadi juru masak anak-anak. Sayur kelor buatan Ummu Ukasyah mendapat pujian. Pasangan suami istri ini bersedia mengurus barang-barang berharga anak-anak ketika mudik Lebaran. Mencintai mereka seperti buah hatinya sendiri.

Kasih sayang pun balas membalas. Ketika salah seorang putra Pak Inu diterima magang di Turki, anak-anak berinisiatif membantu abang angkatnya. Mereka iuran dengan menyisihkan uang jajan. Orangtua pun tak mau ketinggalan. Terkumpul lah sagu hati untuk merantau ke Negeri Muhammad Al Fatih.

Melihat pribadi yang istimewa ini, Emak pernah berkata bahwa sampai kapan pun rasanya kami takkan pernah sanggup membalas kebaikan budi beliau. Tapi Pak Inu cuma menjawab, “Umm, mereka juga anak saya. Sudah sewajarnya kita saling membantu.”

Ma syaa Allah. Jawaban yang datar saja. Inilah sosok insan yang rendah hati. Beliau hanya ingin, ada kontribusi terhadap anak didiknya, sekecil dan seremeh apapun itu. Andil yang mungkin dapat menjadi amal jariyah baginya. Bantuan yang bisa jadi mengangkat derajatnya kelak di akhirat. Menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat untuk insan lainnya. Pertolongan yang diberikannya di atas pondasi iman dan aqidah. Mencintai karena Allah dan hanya berharap balasan-Nya.

Beliau juga tak mau disanjung puja. Jika ada anak yang berprestasi, Pak Inu selalu mengatakan bahwa itu semata karena karunia dari Allah dan doa para orangtua yang melapangkan jalan mereka. Setiap anak itu istimewa, sesuai dengan kelebihan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Juli ini, anak-anak sudah naik kelas. Sedih benar rasanya harus berpisah dengan wali kelas seelok beliau. Penuh perhatian, penyemangat, baik hati, berbudi, menjiwai profesi, penuh dedikasi dan menginspirasi. Tentu saja ada guru yang jauh lebih hebat dari Pak Inu. Tapi bagi kami, beliau lah yang terbaik, berkah dari Allah. Canggung rasanya jika nanti tak ada lagi kabar dari beliau di grup kelas.

Di penghujung kebersamaan, beliau menulis pesan, “Kelas IPA A adalah kelas yang terbaik. Berisi santri terbaik karena mereka tumbuh dari orangtua yang terbaik. Jika nantinya ada pergantian wali kelas, itu berarti Yang Maha Baik memberi kelas A yang jauh lebih baik dari yang sekarang. In syaa Allah, saya akan tetap membersamai mereka dan tetap berusaha mendampingi belajar mereka. Saya hanya ingin mencintai mereka seperti saya mencintai anak saya sendiri. Semoga kita selalu dipersatukan baik di dunia maupun di jannah-Nya nanti, in syaa Allah. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan baik sengaja ataupun tidak.”

Jazaakallah khayr Pak Inu. Semoga Allah melimpahkan berkah dan rahmatnya untuk Pak Inu beserta keluarga. Kami senantiasa bersyukur Allah telah mempertemukan kita. Semua nasehat, foto dan video yang pernah Pak Inu kirim sudah Emak beri tanda bintang agar tidak hilang. Sudah Emak download dan simpan dalam folder khusus.

Nasehat Pak Inu yang paling diingat adalah, “Jangan pernah lupa mendoakan ananda. Karena doa orangtua itu mustajab.” ***

Check Also

Buku Santapan Rohani Ramadhan, Oleh: Purnimasari

Anak milenial mungkin tak pernah tau buku ini. Jangankan tau, mendengar namanya saja pun mungkin …

10 Komentar

  1. Barokallahu fiik pak Inu dan keluarga, solgant2 ICCB IPA.A

    • Wa fiik baraakallah. Indahnya ukhuwah karena Allah. Semoga tetap jalin komunikasi di manapun nanti berada…

  2. Lilis /ummu yanuar

    Maa syaa alloh ..tabarokalloh umm ..jd terharu..satu tahun kita lewati sdh menjadi keluarga kecil di kelas XI ipa a..semoga beliau selalu dl penjagaan alloh dan perjuangan beliau dibalas dengan sebaik2 balasan dr alloh subhanahu wata’ala ..aamiin allohumma aamiin

    • Aamiin allahumma aamiin. Jazaakunnallah khayr untuk semua ummu yang telah bersedia menjadi Tim Rempong. Membuat laporan keuangan, memikirkan dan memesan menu demi anak-anak. Belum pernah kami rasakan eratnya kekeluargaan seperti di kelas ini. Baraakallahu fiikum…

      • Hermin Marliana

        Maa syaa Allah jazakillah khayran Ummu Purnimasari, tak kenal orangnya namun tulisannya membuat air mata menetes..yg mewaili perasaan para ummahat santri icbb khususnya kls XI A IPA, Jazakumullah khayran utk pak inu dan keluarga yg sdh membersamai anak2 mjadi pengganti ortu bagi mrk.rasa2nya 1 thn blm ckp pak inu mnjadi wali kls anak2 kami, utk Ummu yannuar dan Ummu ardian Jazakunallah khayran yg sdh berlelah lelah dlm mengkoordinir anak2 kami Smoga Allah Subhanahuwata’alla yang membalas kebaikan Para muhsinin sekalian Aamiin Yaa Mujibasa’iliin

        • Aamiin Allahumma Aamiin. Indahnya persaudaraan atas dasar pondasi iman. Semoga di kelas XII nanti anak-anak tetap bisa dekat dengan Pak Inu dan kita juga tetap jalin komunikasi dengan beliau. Duet Ummu Yanuar dan Ummu Ardian adalah salah satu berkah terbesar lainnya untuk keluarga IPA A. Mudah-mudahan nanti anak-anak bisa membaca tulisan ini dan ada ibrohnya bagi mereka…

  3. Masya Allah tabarokallah, tak terasa air mata ini menetes, merasakan betapa ukuwah ini begitu indah.
    Sebuah karunia besar dari Allah, anak-anak kita mendapatkan sosok ustadz dan orangtua sekaligus.
    Semoga pak inu sekeluarga selalu sehat dan selalu dilindungi Allah, segala jerih payah beliau dicatat Allah sebagai amal Sholih dan dibalas Allah dengan keberkahan yang berlimpah. Aamiin

    • Aamiin ya Rabbal Alamiin. Semoga kelak anak-anak dapat meneladani beliau dan mendoakannya selalu. Jazaakumullah khayr untuk para muhsinin yang telah bermurah hati serta segenap keluarga besar IPA A yang saling mencintai karena Allah…

  4. Iwin rinthiany

    MasyaAllah, tak terasa 1 tahun kita lewati bersama, alhamdulillah kebersamaan kita karena dilandasi keikhlasan lillahi ta’ala menjadikan kita bagaikan saudara yang saling menguatkan, saling bahu membahu, semoga ini berlanjut hingga anak2 sudah tidak lagi di binbaz, jazakumullah khoyr utk pak inu yang ikhlas membimbing anak2 kami, smg ini menjadi amal jariyah pak inu dan keluarga, dan terimakasih juga pada ummu yanuar dan ummu ardian yg selama ini ikut sibuk mengurusi konsumsi kls, serta ibu purnimasari sangat telaten sekali merangkai untaian2 yg indah sebagai kenangan sejarah kelak utk anak2 kita

    • Aamiin Allahumma Aamiin. Ummu Yanuar dan Ummu Ardian tak hanya mengurus anak-anak IPA A, tapi juga seluruh kelas XI dan santri-santri yang lain. Kami bersyukur menjadi bagian dari keluarga besar IPA A, bertemu dengan insan-insan yang luar biasa. Semoga ukhuwah kita tetap terjaga, walau di manapun berada…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *