Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Tun Sri Lanang, Pengarang Mutiara Segala Cerita, Oleh: UU Hamidy

Tun Sri Lanang, Pengarang Mutiara Segala Cerita, Oleh: UU Hamidy

1. Keistimewaan Sejarah Melayu

Sejarah Melayu karangan Tun Sri Lanang, adalah satu-satunya naskah Melayu lama yang paling terkenal dan paling besar peranannya di antara ribuan naskah Melayu yang ada di dunia ini. Dikatakan paling terkenal, sebab tak terhitung berapa jumlah kajian yang telah dilakukan, terutama oleh para pakar terhadap naskah tersebut. Kajian terhadap Sejarah Melayu yang ditulis Tun Sri Lanang tahun 1612 M itu, paling kurang dimulai oleh John Leyden dengan menerjemahkan Sejarah Melayu kedalam Bahasa Inggeris, lalu diterbitkan tahun 1821 setelah John Leyden meninggal dunia. Selepas itu sampai sekarang, bermacam kajian dilakukan, dengan memakai berbagai sudut pandang, seperti dari sudut sejarah, filologi, sastra bahkan juga gabungan dari berbagai sudut pandang tersebut. Kajian itu dilakukan sebagian besar oleh kalangan mahasiswa untuk membuat buku ujian (skripsi,tesis dan disertasi). Disusul oleh kepentingan penulisan sejarah, lalu kajian tentang versi teksnya (filologi) sampai pada kajian nilai sastranya.

Dikatakan paling besar peranannya di antara semua naskah Melayu yang ada, karena Sejarah Melayu-lah satu-satunya naskah lama yang begitu luas geografi cakupan teksnya, panjang rentangan waktu di dalamnya serta banyak sekali aspek kehidupan berbagai puak dan suku bangsa, yang telah direkamnya. Sejarah Melayu menghidangkan tulisan tantang Raja Iskandar Zulkarnain, seorang raja besar dunia yang tak ada tandingannya. Disusul oleh raja-raja besar seperti Raja Kida Hindia, Raja Cina, Raja Mojopahit, Raja Melaka dan Raja Pasai (Aceh). Diiringi oleh sejumlah raja kecil, seperti Raja Siam, Raja Campa, Raja Naru, Raja Makassar, Raja Kampar, Pahang dan Kelantan.

Teks Sejarah Melayu telah mencatat Negeri Makaduniah (kerajaan asal Iskandar Zulkarnain) anak benua India, Melaka dengan Asia Tenggara sampai benua Cina. Rentangan waktunya, paling kurang dari zaman Sang Sapurba sekitar abad dua belas tiga belas, sampai keruntuhan Melaka oleh Portugis 1511.

2. Kecemerlangan Tun Sri Lanang

Keistimewaan Sejarah Melayu tentu tak dapat dilepaskan dari pengarangnya yakni seorang Bendahara yang bernama Tun Muhammad dengan Tun Sri Lanang nama timang-timangnya. Kemampuan Tun Sri Lanang, ternyata bukan hanya sebagai seorang pengarang yang handal, tetapi lebih-lebih sebagai seorang penyunting yang ulung. Sebagai pengarang Tun Sri Lanang mampu menghidangkan kembali peristiwa dari dunia nyata, bukan hanya sebatas gambaran yang dibayangkan oleh imajinasi. Sementara sebagai penyunting, Sejarah Melayu disusun oleh Tun Sri Lanang, dengan menyunting sejumlah hikayat, lalu semuanya dibuat berpunca kepada Melaka.

Tun Sri Lanang, dalam Sejarah Melayu telah menyebutkan Melaka, Mojopahit, Pasai, Cina dan Portugis, yang semuanya tak diragukan lagi kesejarahannya. Juga tokoh-tokoh sejarah seperti Iskandar Zulkarnain, Patih Gajah Mada, raja-raja Samudra Pasai dan Kampar, dituliskan oleh Tun Sri Lanang dalam Sejarah Melayu. Lalu yang paling bagus lagi, keturunan raja-raja Melaka tertera secara jelas dan rinci. Bahkan juga daftar para pembesar seperti Bendahara dan Laksamana Kerajaan Melaka.

Memang bisa ada keraguan jika dihubungkan antara kerajaan yang satu dengan yang lain dari sudut sejarah, sebagai peristiwa nyata. Tetapi justru hal itu memperlihatkan kepiawaian Tun Sri Lanang sebagai penyunting. Ketika kita membaca Sejarah Melayu tak ada satupun yang terlukis tidak berhubungan. Bahkan dalam Sejarah Melayu oleh Tun Sri Lanang, telah tergambar suatu peristiwa yang berlaku sebagai sebab-akibat atau balas-membalas, sehingga Sejarah Melayu mampu memperlihatkan gambaran yang wajar pada pembaca.

Para pemerhati Sejarah Melayu telah menyimpulkan bahwa karangan ini telah mengandung tiga unsur penting, yakni sejarah, fiksi dan khayal. Kesimpulan ini kembali secara tidak langsung memberikan pengakuan betapa cemerlangnya pena Tun Sri Lanang. Betapa tidak. Bukanlah suatu yang mudah begitu raja merangkai peristiwa sejarah (sebagai peristiwa yang benar terjadi) dengan peristiwa fiksi (yang berasal dari peristiwa yang ada tapi dianggap tidak benar terjadi) lalu berkelindan lagi dengan khayalan (peristiwa yang tidak mungkin terjadi). Tetapi kenyataannya, ketiga aspek itu, di ujung mata pena Tun Sri Lanang dapat dikembar dalam suatu tulisan yang menarik. Terbaca semuanya sebagai peristiwa yang berlaku di atas muka bumi ini.

Meskipun Tun Sri Lanang telah menghidangkan tulisan lewat Sejarah Melayu dengan indah dan menarik, malah hampir memukau dalam beberapa bagian ceritanya, tetapi kerendahan hati Tun Sri Lanang sebagai seorang hamba Allah, tidak sampai luntur. Dengan 34 cerita dalam Sejarah Melayu, hampir semuanya (32 cerita) dibuka dengan redaksi ‘’kata sahibul hikayat’’ yang berarti, kata yang punya cerita. Jadi dipandang bukan cerita karangan Tun Sri Lanang, tetapi karangan orang lain. Hanya cerita pertama yang dimulai dengan ‘’I’lam, ketahui olehmu, kepada zaman dahulu kala dan pada masa yang telah lalu, kata yang empunya cerita…’’ dan cerita yang kesepuluh dibuka dengan ‘’Bermula diceritakan oleh orang yang empunya cerita ini’’. Pembukaan cerita yang pertama dan kesepuluh, meskipun tidak sama benar dengan 32 cerita lainnya, sebenarnya sama juga nadanya, yakni sesuai juga dengan kata yang empunya cerita. Dengan redaksi ini, pada satu sisi Tun Sri Lanang merendahkan dirinya sebagai pengarang, dengan maksud pada pihak lain dia menghargai orang lain, yakni yang telah membuat cerita atau hikayat, yang telah dipakainya untuk mengarang Sejarah Melayu.

Kepiawaian Tun Sri Lanang sebagai penyunting, dapat lagi diterangkan beberapa langkah. Pertama, Tun Sri Lanang adalah pengarang yang telah memperbaiki naskah awal hikayat Melayu yang dikabarkan berasal dari Goa. ‘’Pada antara itu ada seorang besar, terlebih mulianya dan terlebih besar martabatnya daripada yang lain, maka berkata ia kepada fakir, Hamba dengar ada hikayat Melayu dibawa oleh orang dari Goa, barang kita perbaiki kiranya dengan istiadatnya, supaya diketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian daripada kita, dan boleh diingatnya oleh segala mereka itu syahdan adalah beroleh faedah ia daripadanya’’. Jadi Tun Sri Lanang memperbaiki hikayat Melayu bukan untuk tujuan sejarah semata, apalagi demi hiburan dengan selera yang rendah. Maka bergeraklah pena Tun Sri Lanang membuat karangan, ‘’maka fakir namai hikayat itu Sulalatu’l Salatin, yakni peraturan segala raja-raja’’.

Untuk menampilkan Sulalatu’l Salatin (yang kemudian lebih terkenal dengan Sejarah Melayu) yang dapat bernilai kemudian hari terhadap anak cucu, Tun Sri Lanang memang telah bekerja sungguh-sungguh. Dia telah membaca dan mengumpulkan sejumlah hikayat di antaranya ‘’Hikayat Iskandar Zulkarnain’’, ‘’Hikayat Raja-Raja Pasai’’, ‘’Hikayat Hang Tuah’’ dan ‘’Kisah Nabi-­Nabi’’, baik agaknya yang tertulis maupun yang lisan.

Dengan hikayat Melayu dari Goa sebagai pangkal bertolak, Tun Sri Lanang telah melakukan penyuntingan terhadap sejumlah hikayat yang dapat dibaca didengar maupun yang dikumpulkannya. Penyuntingan itu telah melakukan ubah-suai serta membuat keselarasan demikian rupa, sehingga akhirnya dapat ditampilkan Sejarah Melayu yang cemerlang. Semua cerita dalam naskah itu tergambar sebagai peristiwa hidup dan bergerak, sehingga enak dan menyenangkan kepada pembaca.

3. Mutiara Segala Cerita

Tun Sri Lanang, sebelum mengarang Sejarah Melayu, lebih dahulu telah mohon taufik dan hidayah kehadirat Allah, Tuhan semesta alam dan harap kepada Nabi junjungan alam. Hasilnya setelah berikhtiar dengan segenap akal budi, kitab Sejarah Melayu dapat menjadi mutiara segala cerita dan cahaya segala perumpamaan. Kitab ini dapat menjadi mutiara segala cerita dan cahaya segala perumpamaan, pertama dari apa yang dituliskan oleh karangannya, yang kedua oleh apa yang digambarkan dalam kitab itu. Sejarah Melayu telah menegaskan bahwa raja jangan menghina rakyat sedangkan rakyat jangan durhaka kepada raja, Raja harus memakai syariat Islam dan syariat Islam yang dapat menghalalkan orang dihukum bunuh.

Kitab karangan Tun Sri Lanang ini telah membuat cerita bahwa raja Melayu punya hubungan dengan Raja Iskandar Zulkarnain. Dia adalah maharaja dunia yang menganut agama Islam menurut syariat Nabi Ibrahim. Iskandar menjelajah negeri Timur tempat matahari terbit. Tiap negeri yang dilaluinya telah menganut agama Islam. Dengan cerita ini Sejarah Melayu telah memberikan cahaya perumpamaan, betapa pentingnya menjaga martabat zuriat anak cucu dalam jalan lurus agama Islam. Raja-raja Melayu yang cuai dengan aturan agama Islam dalam pemerintahannya, niscaya akan mendapat malapetaka.

Meskipun Tun Sri Lanang dititahkan mengarang oleh pihak istana, tetapi nyatanya dia telah mengarang tidak dengan selera istana sentris. Sebab jika demikian, mana mungkin kitab karangannya dapat menjadi mutiara segala cerita dan cahaya segala perumpamaan. Karena itu, di samping memberikan cerita tentang kejayaan raja-raja Melayu, Tun Sri Lanang juga memberikan cerita tentang kelemahannya,

Dalam cerita yang kesepuluh Sejarah Melayu mendedahkan kehancuran negeri Singapura Bagaimana tidak akan hancur negeri Singapura, budak Melayu yang berhasil dengan kepintarannya mengatasi serangan ikan todak, malah dibunuh. Pembunuhan ini dilakukan karena hasutan pembesar kerajaan terhadap raja. Mereka sebagai pembesar atau pembantu raja ternyata tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga budak Melayu yang cerdas itu bagaikan membuka aib mereka.

Begitu pula kehancuran kejayaan Kerajaan Melaka. Ketika tiba serangan kafir Portugis, ternyata raja dan para pembesarnya tidak melakukan sesuatu yang semestinya, menghadapi serangan penjajah itu. Sultan Melaka dengan pembesar kerajaan semestinya mempersenjatai rakyat serta membangkitkan semangat jihad menghadapi kehadiran Portugis. Tapi nyatanya, rakyat hanya membaca ‘’Hikayat Amir Hamzah’’ dan ‘’Hikayat  Muhammad Ali Hanafiah’’. Mereka tidak meniru yang pernah dilakukan oleh Tun Perak menangkis serangan Siam dengan kemenangan yang jaya.

Apabila para pemegang teraju kekuasaan tidak lagi mengikuti peraturan yang benar menjalankan pemeritahan dengan arif maka dia akan kehilangan kesetiaan daripada rakyatnya. Itulah pangkal kebinasaan segara negeri dan kerajaan. Ini telah dibentangkan oleh Sejarah Melayu sehingga memang patutlah menjadi mutiara segala cerita dan cahaya segala perumpamaan.***

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Riau Pos, 26 April 2009

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *