Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Teroris dan Lanun, Seligi Tajam Bertimbal, Oleh: UU Hamidy

Teroris dan Lanun, Seligi Tajam Bertimbal, Oleh: UU Hamidy

Satu-satunya kata yang paling menakutkan, bahkan dapat mengundang maut sekarang ini adalah kata teroris. Kata ini begitu mengerikan, sebab hampir tak ada tulisan yang jujur menjelaskannya. Pernyataan tentang teroris selalu cuma dari pihak yang berkuasa yang memegang bedil.

Perhatikanlah tindakan Amerika Serikat dan sekutun yang mempergunakan senjata dan siasatnya. Mereka mengatakan perang melawan teroris. Tetapi tindakan yang terjadi ternyata lebih terror lagi daripada teroris. Karena itu teroris telah menjadi seligi tajam bertimbal.

Perjalanan sejarah akhirnya membuktikan bahwa kata teroris dan lanun, telah menjadi medan kebencian dan sekaligus menjadi pertarungan martabat umat manusia. Pihak Barat pendukung demokrasi sekuler dan kapitalis, telah mengarahkan ‘mata tombak’ ini paling kurang kepada tiga macam umat Islam.

Pertama, umat Islam yang menentang penjajahan dan penindasan Barat dengan kekuatan bersenjata. Inilah yang paling ditakuti sehingga menjadi sasaran tembak yang utama.

Kedua, yang dibidik pihak yang tidak mau menerima idiologi liberal Barat seperti demokrasi dan kapitalis. Inilah pihak yang paling memusingkan pikiran Barat.

Yang ketiga yang juga ikut terseret ialah yang tidak mau menerima gaya hidup Barat. Inilah pihak yang menjengkelkan.

Dengan disematkannya kata teroris sebagai penjahat terhadap lima macam penampilan umat Islam tersebut, pihak Barat dan juga orang Islam yang mencari keuntungan bendawi di bawah ketiaknya, mengharapkan dapat mematikan semangat dan tindakan mereka untuk menegakkan syariat Islam dengan kekuatan khilafah. Barat yakin, syariat Islam dengan kekuatan khilafah akan menumbangkan kekuatan Barat yang terasa mulai goyah.

Pencitraan serupa itu benar-benar suatu tipu daya yang licik. Benarlah seperti tertera dalam Alqur’an, bahwa orang-orang munafik itu membuat tipu daya. Mereka menjadikan kata-kata sebagai perisai untuk melindungi maksud jahat dalam hatinya. Mereka tidak tahu bahwa Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Munculnya kata teroris untuk menyudutkan umat Islam dewasa ini menarik sekali kalau dibandingkan dengan kata lanun, yang pernah berlaku di Riau. Riau telah mempertahankan martabatnya dengan tiga babak peperangan lawan Belanda, dalam rentang waktu 1783-1784. Setelah itu pada tahun 1786 Sultan Riau minta bantuan pada Raja Tempasuk (di Sabah Malaysia, sekarang) untuk mengusir Belanda di Riau.

Raja Tempasuk, yakni Raja Ismail dan tiga putranya menyiapkan 30 perahu perang dengan pasukan orang Iranun, Jolo, Sulu, Belangingi dan lainnya. Tahun 1787 sampailah lascar bantuan Tempasuk di Riau. Di Riau pasukan laut ini terkenal dengan sebutan lanun, berasal dari nama suku Iranun yang diucapkan Ilanun di Riau. Raja-raja lanun dan anak buahnya dengan gagah berani mendarat di Tanjung Pinang. Benteng Belanda dilanyau, serdadu Belanda diamuk, sehingga tak ada lagi orang Belanda di Riau.

Pihak Belanda yang menjajah (dan juga pihak penjajah Barat lainnya) tak mampu melumpuhkan serangan laut dari pasukan lanun tersebut. Belanda kehabisan peluru dan mesiu, namun perlawanan lanun tak kunjung surut.

Maka timbul akal culas, disematkanlah kata perompak atau bajak laut kepada lanun, sehingga wajahnya diharapkan menjadi penjahat yang menakutkan. Padahal, sebenarnya Belanda itulah yang sejatinya perampok. Rampokan hasil kekayaan Nusantara yang dibawa berkapal-kapal ke negerinya oleh Belanda melalui perairan Riau, amat ditakuti dapat serangan lanun.

Umat Islam yang memandang negeri akhirat sebagai negeri terbaik bagi orang yang bertakwa, yang rindu bertemu dengan Tuhannya, yang bersandar pada ridha Allah bukan ridha manusia (tagut) seyogianya mengambil pelajaran dari kata teroris dan lanun ini.

Umat Islam harus sadar, bahwa mereka diakali. Perhatikan kelicikan Barat serta agennya yang lihai sekali lagi. Mereka hanya melihat terror terhadap diri mereka. Dan teror yang muncul itu sesungguhnya adalah akibat yang disebabkan oleh teror Barat itu sendiri.

Kata teroris dan lanun telah dipakai sebagai senjata ampuh, bagaikan panah beracun. Kata ini sudah menjadi fitnah sehingga lebih tajam daripada pedang. Kata-kata itu diarahkan untuk menghancurkan tauhid umat Islam yang murni. Bahwa tidak ada yang berkuasa siang dan malam di jagad raya ini selain Allah. Semuanya terjadi dengan kehendak Allah, bukan kehendak manusia. Sebab, segala urusan kembali kepada Allah.

Mukmin sejati harus yakin bahwa tidak ada yang keliru menimpa dirinya. Dan yang keliru tidak mungkin menimpa dirinya. Karena semuanya berlaku atas kebijaksanaan dari Yang Maha Bijaksana. Karena itulah kita menyerahkan hidup dan mati hanya kepada Allah. Tidak ada pilihan lain, suka tidak suka semuanya kembali kepada Allah untuk mengetahui siapakah di antara kita yang benar jalannya.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *