Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Tempua Bersarang Rendah, Oleh: UU Hamidy

Tempua Bersarang Rendah, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Perkasa telah menegaskan, hanya amal yang dilakukan dengan ikhlas serta sesuai pelaksanaannya dengan tuntunan Nabi Muhammad Saw yang hanya akan diterima di sisi-Nya. Amal tanpa niat ikhlas dan menyalahi Sunnah Nabi Saw hanya akan jadi fatamorgana atau debu yang beterbangan.

Inilah bukti yang mendasar, bagaimana Syariah Islam mengatur begitu baik lagi sempurna tentang cara berbuat dan bertindak, sehingga segala tingkahlaku umat manusia itu tidak ada yang terbuang sia-sia. Semuanya harus berlaku dalam bingkai taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Hidup tanpa patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, hanyalah hidup yang percuma, tidak bernilai.

Sekarang, perhatikanlah bagaimana perbuatan dan perilaku munafik berjangkit dalam perikehidupan umat manusia, karena tak mau dipandu oleh Syariah Islam dengan pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tingkahlaku manusia jadi liar sebab hanya mengikuti kehendak hawa nafsu yang tak terkendali.

Jika kebenaran telah mengikuti hawa nafsu maka niscaya binasalah langit dan Bumi. Orang yang haus kekuasaan mendapat jalan yang lapang oleh sistem demokrasi sekuler, yang menolak kehidupan manusia diatur oleh hukum Allah Yang Maha Bijaksana. Mereka menempuh berbagai cara untuk merebut kekuasaan, meskipun mengaku beragama Islam, yang seyogianya berpegang kepada Syariah Islam.

Mereka tampil dengan membanggakan amalnya kepada orang banyak sehingga terkesan sebagai orang baik-baik jujur dan dapat dipercayai. Penampilan itu ditambah lagi dengan berbagai janji yang menarik bagi rakyat, jika mereka diberi kesempatan berkuasa. Mereka meminta jabatan, bukan diminta untuk menjabat.

Sikap yang menyimpang dari Syariah Islam ini telah lama dibidas oleh pepatah Melayu, ”kalau tak ada berada, takkan tempua bersarang rendah”. Tempua itu biasanya bersarang tinggi, agar tidak mudah diganggu oleh manusia atau musuh lainnya. Sarangnya yang indah amat menggoda orang untuk mengambilnya.

Tapi pada suatu ketika tempua bersarang rendah, seakan tidak takut kepada gangguan dan ancaman. Ada apa ini? Tempua bersarang rendah rupanya karena ada sesuatu yang dapat diandalkannya menjaga sarangnya. Rupanya, pada pohon kayu tempat tempua bersarang, ada pula sarang penyengat dan tabuhan.

Inilah taruhan tempua mengapa berani bersarang rendah. Begitu ada orang atau musuh yang berani mengganggu sarang tempua, maka padahnya adalah sengatan tabuhan dan penyengat yang mengerikan. Dalam sekejap, kening dan badan akan teruk ditikam sengat tabuhan dan penyengat.

Mengapa tempua bersarang rendah setali tiga uang dengan orang yang haus kekuasaan yang memakai berbagai cara agar dapat duduk pada kursi kekuasaan? Mengapa para calon gubernur, calon bupati dan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat berani memberikan berbagai bantuan dan uang kepada penduduk desa, masjid, kelompok masyarakat sampai dusun terpencil?Rupanya, dapat dijawab dengan mudah oleh ungkapan “mengapa tempua bersarang rendah”.

Berbagai desa, kampung dan dusun tiba-tiba dikunjungi oleh para calon pejabat ini, sehingga penduduk negeri tercengang, mengapa mereka datang ke kampung mereka. Dan lebih aneh lagi mengapa mereka tiba-tiba memberikan bermacam bantuan dan uang yang begitu besar jumlahnya dalam ukuran rakyat jelata.

Dalam keadaan yang biasa, hal ini tak pernah terjadi, Sebagaimana burung tempua biasanya bersarang tinggi, sehingga tak mudah dipanjat begitu saja. Tiba-tiba, para pemburu jabatan atau kekuasaan itu bersedia mengurbankan uang dan harta lainnya.

Rupanya, karena ada yang dapat diandalkan yakni suara yang akan diberikan oleh pihak yang menerima bantuan itu. Jika tak ada jaminan serupa itu, niscaya tidak akan terjadi perbuatan baik hati yang demikian. Suara dari penerima bantuan bagaikan serangan tabuhan dan penyengat yang akan membela calon pajabat untuk mendapat kursi kekuasaan. 

Demikianlah ketika umat manusia mengikuti jalan hidup demokrasi sekuler, tidak mau memakai Syariah Islam yang mengatur kehidupan dengan benar sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Tujuan hidup mereka hanya mencari dan mengumpulkan harta benda lalu hidup bersenang-senang mengikuti keinginan hawa nafsu yang rendah.

Mereka lupa kepada dirinya sehingga lupa pula kepada Allah oleh tipu daya dunia yang palsu. Mereka tergoda oleh kemegahan dunia yang menipu dan lupa kepada kemegahan yang abadi di akhirat. Mereka lebih suka mengambil kesenangan hidup dunia sebagai ganti kesenangan hidup di akhirat. Inilah yang dibidas oleh Alquran orang yang membeli dunia dengan akhirat, sehingga perdagangan mereka tidak beruntung.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *