Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Teknik Bercerita (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy
Foto: brightcove.com

Teknik Bercerita (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

2.  Beberapa Teknik Bercerita

  1. Teknik Bercerita Tradisional

Teknik bercerita sesungguhnya bukanlah hal yang baru sama sekali. Leluhur atau tetua kita juga telah lama mengenal cerita, sehingga juga mempunyai beberapa teknik atau cara bercerita. Malah pada zaman dahulu, sebelum kita mengenal tulisan dan lembaga pendidikan formal seperti sekarang ini, cerita merupakan alat pendidikan budipekerti yang amat penting. Sebab itu, tidak heran jika kehidupan tradisional atau budaya lisan itu juga telah mengenal beberapa teknik bercerita.

Teknik bercerita tradisional, pertama bisa kita ketahui sebagai teknik yang bias disebut sebagai teknik percakapan biasa. Dengan teknik ini, cerita muncul dalam percakapan biasa antara tukang cerita dengan khalayak atau pendengar. Cerita sebelum dimulai sering dibuka dengan pertanyaan misalnya : Apakah kalian pernah mendengar cerita gergasi? Pernahkah kalian mendengar burung merbah pacu minum dengan kancil? Sudah kalian ketahuikah apakah sebabnya kucing dan anjing berseteru?

Kalau khalayak atau pendengar (anak cucu tetua itu) menjawab “Belum” maka cerita pun segera dimulai. Adakalanya cerita dimulai dengan penggambaran ujud fisik para tokoh cerita yang menakutkan seperti patar (berduri-duri). Bisa pula menyebutkan ketampanan seorang tokoh lelaki atau kecantikan tokoh perempuan dalam cerita, Ada pula cerita yang dibuka dengan menyebutkan watak tokoh, misalnya cerdik, bebal, lurus hati, dengki, penakut dan berani. Tetapi yang juga sering pembukaan cerita jadi menarik karena tukang cerita menyebutkan lebih dulu beberapa motif cerita, misalnya kesaktian, pembuangan, kutukan dan sebagainya.

Cara atau teknik berikutnya —yang mungkin lebih menarik dari cara pertama— ialah bercerita dengan mempergunakan suara yang merdu. Jika cara pertama dipakai untuk cerita yang berbentuk prosa, maka cara kedua ini sering dipakai untuk bentuk hikayat, syair dan nazam, yang mempergunakan bahasa dalam bentuk puisi. Karena rangkaian cerita tersusun dalam rangkaian puisi, seperti pantun dan syair, maka tukang cerita tidak hanya membacakan cerita dengan suara datar atau memakai teknik percakapan biasa yang mendekati bahasa sehari-hari, tetapi baris dan untai puisi dalam syair, hikayat dan nazam itu dilagukan dengan suara yang indah.

Suara yang indah itu ialah ucapan yang mengalun, panjang pendek, lembut dan ornamentik, yang semuanya dirangkai dalam irama yang indah. Agar pendengar tidak jemu mendengarkan, maka tukang cerita juga memakai beberapa lagu, sesuai dengan babak atau suasana cerita yang disyairkan. Jika tokoh sedang ditimpa bencana atau penderitaan, tukang cerita biasanya memakai lagu yang mengalun, tempo yang lambat dan bernada sedih. Sedangkan pada bagian tokoh dalam cerita sedang bertarung, berperang, tukang cerita cenderung menaikkan suaranya serta tempo yang cepat dalam pengucapannya.

Dengan teknik cerita yang memakai suara yang merdu ini, tukang cerita tidak hanya sekadar mampu menguasai liku-liku cerita dan sifat sang tokoh tetapi juga harus menguasai beberapa teknik irama dan intonasi, yang semuanya menyatu ke dalam teknik lagu syair dan pantun yang mengandung cerita. Disamping itu masih dipakai lagi berbagai bunyi-bunyian, seperti talam, gendang dan rebana, untuk mengiringi pembacaan cerita, sehingga penampilan cerita semakin totalitas.

Ketika diadakan jeda (istirahat) antara bagian cerita yang satu dengan yang lain, para pendengar dapat minta penjelasan pada tukang cerita (tukang kayat) tentang hikayat (cerita) yang telah ditampilkan. Penjelasan itu tentu amat berguna untuk menambah pemahaman dan apresiasi pendengar (khalayak) terhadap hikayat atau syair tersebut.

Masih ada lagi cara lain tentang teknik bercerita tradisional. Cara ketiga ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari cara pertama dan kedua, sehingga kelihatan jauh lebih sempurna. Cara ketiga itu ialah menampilkan cerita dengan teknik melalui perbuatan dan percakapan (dialog) para tokoh cerita (seniman).

Dengan cara ini tokah-tokoh dalam cerita dapat disaksikan oleh khalayak, yakni berupa para seniman yang memainkan peranan sebagai para tokoh dalam setiap cerita yang dipertunjukkan. Dengan teknik ini para penonton (khalayak) tidak lagi menikmati cerita sebatas mendengar, tetapi juga menyaksikan kehidupan para tokoh cerita yang ditampilkan melalui pertunjukan tersebut. Inilah yang telah ditampilkan oleh orang Melayu, yang lebih terkenal dengan berbagai nama, seperti mendu, makyong, mamanda, randai dan sebagainya.

Bercerita adalah menyampaikan atau mengungkapkan kembali teks cerita (baik teks tertulis maupun lisan) kepadak halayak (pendengar) oleh tukang cerita dengan ucapannya, baik dibantu dengan gerak dan bunyi-bunyian, maupun tidak. Karena itu yang amat penting dalam bercerita adalah kemampuan berbahasa lisan tukang cerita.

Kemampuan itu dipertajam atau diperbaiki lagi oleh beberapa teknik bercerita sehingga cerita dapat ditampilkan dengan mengesankan, indah dan bermakna bagi khalayak. Maka, disamping beberapa teknik bercerita tradisional yang dibentangkan terdahulu, dapat lagi ditaja beberapa teknik bercerita yang relatif baru. (bersambung)

(Bahasa dan Kreativitas Sastra, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *