Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Tafsir ALEGORI MELAYU, Oleh: UU Hamidy
Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat Indera Sakti, Kepulauan Riau. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Tafsir ALEGORI MELAYU, Oleh: UU Hamidy

Riau punya jalan hidup bagaikan mimpi

Kecantikannya ibarat penampilan Siti Mahdewi
>> (Siti Mahdewi adalah tokoh utama dalam lakon Mendu di Natuna)

Ketampanannya seperti Sutan Nan Garang
>> (Sutan Nan Garang adalah tokoh silat Rantau Kuantan, di atas Ji Usu dan Baromban)

Lemah gemelainya bak Serampang Dua Belas
>> (Serampang Dua Belas adalah tari Melayu yang terkenal, yang pernah menjadi tari nasional sampai tahun 1950-an)

Suaranya laksana Sri Mersing dan Sri Siantan
>> (“Sri Mersing” dan “Sri Siantan” adalah dua judul lagu tradisional Melayu)

Romantisnya bagaikan Perkawinan di Atas Gelombang
>> (Perkawinan di Atas Gelombang adalah upacara perkawinan Suku Laut)

Dulu bahasanya menjadi mantera
>> (Mantera adalah puisi magis orang Melayu)

Puisinya jadi pasung terbang
>> (Pasung terbang adalah bacaan sihir jarak jauh)

Gurindamnya jadi azimat
>> (Gurindam adalah pesan Raja Ali Haji dalam “Gurindam Dua Belas”)

Tapi setelah angin berkisar

Bono Batang Kampar dan badai datang…
>> (Bono Batang Kampar adalah keajaiban alam di muara Batang Kampar yang kini dikenal dengan aktivitas selancar bono)

Harapan dan kenyataannya jadi ironi

Hidupnya kalah limau oleh benalu
>> (“Kalah limau oleh benalu” maksudnya anak negeri terdesak oleh perantau)

Tragedinya konyol bagaikan Pak Pandir
>> (Pak Pandir adalah tokoh tragedi cerita Melayu)

Jasanya berbalas bagaikan Singapura Dilanggar Todak
>> (“Singapura Dilanggar Todak” adalah tragedi Melayu dalam “Sejarah Melayu”)

Pertolongan yang didapatnya umpama Nujum Pak Belalang
>> (Nujum Pak Belalang berarti pertolongan yang tidak sungguh-sungguh atau kebetulan seperti dalam kisah “Pak Belalang”)

Upayanya membela kebenaran menjadi kisah Lancang Kuning
>> (“Lancang Kuning” adalah tragedi pergantian kekuasaan dalam membela kebenaran)

Perhitungan hidupnya telah jadi Dagang Pak Kasab
>> (Dagang Pak Kasab maknanya dagang yang tidak tahu untung rugi)

Ratapannya telah dilukis oleh Tudung Periuk
>> (“Tudung Periuk” adalah ratapan nasib dalam lagu tradisional Melayu)

Lamunannya menjadi Kutang Barendo
>> (“Kutang Barendo” adalah lamunan romantis dalam lagu Melayu)

Riau memang tak hilang…

Bak kata Hang Tuah “Tak Melayu Hilang di Bumi

Riau memerlukan Nenek Kebayan
>> (Nenek Kebayan adalah tokoh cerita Melayu)

Pelayan masyarakat berhati mulia dan tidak serakah

Punya panggilan kemanusiaan untuk berbakti

Berbuat baik setulus mungkin kepada siapapun

Dia tidak mendongeng untuk masa depan

Tapi menawarkan apa yang dapat dilakukannya

Kalau tidak

Riau tetap jadi Padang Perburuan
>> (http://bilikkreatif.com/riau-kisahmu-sebagai-padang-perburuan-bagian-1-oleh-uu-hamidy)

(Cakap Rampai-rampai Budaya Melayu di Riau, UU Hamidy)

* Untuk keterangan lebih lanjut tentang Alegori Melayu, silakan baca buku Jagad Melayu, UU Hamidy, Bab 17 tentang ”Ragam Seni Budaya dan Peninggalan Sejarah”.

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *