Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Surau Makin Redup, Oleh: UU Hamidy
Surau Sabilal Muhtadin di Kenegerian Siberakun, Kuantan Singingi, Riau. Sabilal Muhtadin adalah kitab karangan Syech Arsyad Banjar, satu di antara kitab penting oleh para ulama di Riau pada abad ke-19. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Surau Makin Redup, Oleh: UU Hamidy

Mengapa agama Islam begitu membekas (dominan) dalam dunia Melayu, terutama puak Melayu Riau khasnya, barangkali tak semua orang paham dengan baik. Begitu membekasnya agama yang tinggi daripada semua agama ini dalam masyarakat Melayu, sehingga orang Cina yang masuk Islam, disebut oleh saudaranya “masuk Melayu”. Kunci jawaban pertanyaan itu dapat dijelaskan oleh surau. Surau adalah lembaga pendidikan Islam yang cukup panjang riwayatnya. Kehadirannya tentulah berkelindan dengan kerelaan masyarakat Melayu memeluk Islam.

Islam telah memberi cahaya kehidupan bagi orang Melayu dari alam kepercayaan karut animisme-Hinduisme ke jalan lurus terang benderang, menuju kehidupan bahagia dari dunia sampai akhirat. Setelah masyarakat Melayu dapat cahaya iman dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mereka dengan sendirinya tersentak oleh pertanyaan, “bagaimana agama Islam satu-satunya jalan hidup yang membuat hati jadi tentram dapat terpelihara sampai pada suriat anak cucu di belakang hari”. Tantangan itu ternyata telah mereka sambut dengan mendirikan surau di kampung mereka. Surau ternyata mampu memainkan peranan penting untuk menampilkan masyarakat Melayu yang islami.

Membicarakan surau di depan cermin kehidupan Melayu masa kini, ada baiknya dibentangkan dengan sederhana tiga macam surau yang pernah berjaya dalam masyarakat Melayu. Pertama, surau untuk belajar mengaji atau membaca Alquran. Surau ini khusus untuk budak-budak Melayu baik lelaki maupun perempuan.

Pada tiap gugus perkampungan Melayu dengan penduduk sekitar 20-30 rumah tangga (kepala keluarga) punya surau untuk belajar mengaji. Pelajaran mengaji diberi selepas Maghrib sampai datang waktu Isya. Para murid duduk melingkar, lampu berada di tengah atau di atas agar cahaya dapat menerangi. Tiap kelompok murid diajar seorang guru. Kegiatan mengaji diawali dengan membaca bersama bacaan salat.

Mengaji dibagi atas tiga tingkat. Pertama, tingkat pemula yakni belajar mengaji dan merangkai bunyi huruf Arab, disebut juga tingkat Alib Ba Ta. Tingkat dua, membaca kalimat Alquran dalam Surah Al Baqarah, disebut juga tingkat Quran Kecil. Ketiga, tingkat Quran Besar, yakni belajar membaca Quran dengan lagu dan tajwid. Pelajaran mengaji dapat berlangsung (tamat) antara 1-3 tahun. Setelah khatam, sering diadakan upacara khatam Quran.

Surau tempat mengaji atau membaca Alquran ini, masih punya peranan lagi dalam kehidupan kemasyarakatan. Surau juga digunakan tempat tidur anak lelaki yang sudah akil baligh. Dengan tidur di surau, anak lelaki dapat tidur terpisah dengan saudaranya yang perempuan dan ibu-bapaknya. Jadi mereka mulai mengenal adab bergaul antar jenis kelamin dalam panduan syariah Islam.

Dengan tidur di surau, mereka dapat pula mengenal sisi kehidupan lainnya. Lelaki yang bercerai atau sedang beranjur (pisah tempat tidur dengan isterinya) juga tidur di surau. Dari lelaki serupa ini, anak remaja dapat mengenal dunia hidup berumahtangga. Anak remaja ini masih dapat lagi mengenal beberapa sektor kehidupan lain seperti dunia pekerjaan dan ekonomi. Mereka dapat pengetahuan tentang kebun getah, seluk-beluk menakik getah, hubungan tauke dengan anak semang dan lain sebagainya.

Bahkan, jika di surau itu tidur pula orang tua yang alim, mereka dapat pula tambahan pengetahuan mengenai Islam. Dengan demikian, di samping tempat mengaji sebagai peranan utama, surau juga memainkan peranan sebagai media komunikasi serta sosialisasi bagi generasi muda.

Jenis surau yang kedua untuk kalangan lelaki dan perempuan dewasa yang kebanyakan berumur lebih dari 40 tahun untuk dapat pengetahuan tentang Islam. Surau jenis ini dihuni seorang ulama yang bertindak sebagai guru. Pelajaran agama diberi sesuai keperluan peserta. Kegiatan berlangsung biasanya sekali seminggu. Yang sering jatuh pada malam Jumat.

Para peserta datang menjelang Maghrib sambil membawa nasi dan mengkanan. Setelah selesai salat Magrib berjamaah, mereka makan bersama. Selepas Isya barulah benar-benar berlangsung pengajian sampai tengah malam. Pengajian itu meliputi ajaran pokok Islam yakni rukun Islam dan rukun iman serta berbagai aspek lainnya.

Satu di antara pokok kajian yang cukup terkenal ialah tentang sifat Allah, yang sering disebut sifat dua puluh. Semua peserta menginap di surau. Bangunan surau biasanya cukup besar sehingga surau jenis ini disebut juga surau godang. Setelah salat Subuh berjamaah, pengajian dapat lagi ditambah sampai matahari terbit. Setelah itu barulah mereka pulang ke rumah.

Surau jenis ketiga ialah surau sulup, yakni surau yang digunakan untuk melakukan sulup. Sulup merupakan perbuatan memisahkan diri dari pergaulan ramai, dengan cara mengasingkan diri tinggal di surau melakukan ibadah seperti salat dan puasa serta berzikir sebanyak-banyaknya. Sulup dibimbing seorang Tuan Guru (Syaikh Mursyid) dibantu muridnya yang pilihan dengan gelar Khalifah. Murid atau peserta sulup biasanya orang tua-tua, baik lelaki maupun perempuan.

Melakukan sulup dipandang sebagai suatu cara membuat perimbangan hidup yakni kepentingan hidup dunia yang fana dengan kehidupan akhirat yang kekal. Pandangan ini dapat terbaca dalam wasiat Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan, tokoh Tarekat Naksyabandiyah Babussalam di wasiatnya yang ketiga yang mengatakan, “Dan apabila cukup nafkah kira-kira setahun maka hendaklah berhenti mencari itu, dan duduk beramal ibadat hingga tinggal nafkah kira-kira 40 hari, maka barulah mencari”. Sulup berlaku kapan saja. Tapi lebih sering dilakukan bulan puasa.

Demikianlah tiga macam surau telah berperanan begitu baik dalam masyarakat Melayu di Riau. Meski mereka tak dibentengi kerajaan Melayu dengan syariah Islam, tapi ada yang menaungi yakni adat bersendi syarak, yaitu hukum buatan manusia yang tunduk pada hukum Allah. Karena itu akhlak mereka dapat terpelihara dari berbagai fitnah dunia.

Sekarang dengan negara yang bersandar pada hukum buatan manusia yang sekuler (hukum jahiliyah) adat bersendi syarak jadi tersingkir, sehingga masyarakat Melayu yang islami jadi tertindas. Mengharapkan pemimpin (pejabat) yang punya minat pada kejayaan Islam, hampir tak ada. Pemegang teraju dan negara dewasa ini boleh dikatakan mulkan jahiliyah, sebab membenci hukum Allah yang disampaikan Rasul-Nya. Begitu pula mendapat ulama yang zuhud (tak cinta dunia) juga amat langka. Pejabat dan pewaris nabi ini kebanyakan munafik, sehingga dibenci rakyat.

Berbagai media memandang sinis syariah Islam diikuti tayangan TV yang selalu mencabar akhlak mulia, membuat masyarakat Melayu masuk perangkap sistem kufur, yang oleh Nabi Saw disebut lubang biawak. Sementara itu gaya hidup materialis sekuler melanda berbagai sektor kehidupan akibat penjajahan ekonomi kapitalis. Hutang tak lagi dipandang aib, sebab negara sendiri memberi contoh bagaimana hidup bersandar pada hutang.

Untuk menjaga harga diri, istilah hutang diganti dengan kata kredit. Ini semuanya memberi pukulan telak terhadap keberadaan surau di perkampungan Melayu. Surau yang pernah begitu cemerlang jadi redup oleh selera hidup yang mengikuti millah orang kafir. Karena itu perlu kesadaran yang mendalam bagi orang Melayu bahwa jalan hidup yang terbaik itu tak lain daripada Islam. Inilah yang akan memberi bahagia di dunia dan surga di akhirat serta memberi martabat dan kehormatan dengan bersandar pada syariah Islam.***

Dimuat di Harian Riau Pos, Jumat 15 Juli 2011

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *