Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Surau; Jejak Adat Bersendi Syarak Masyarakat Melayu, Oleh: UU Hamidy
Foto: Bilik Kreatif

Surau; Jejak Adat Bersendi Syarak Masyarakat Melayu, Oleh: UU Hamidy

Allah Maha Suci, Maha Kuasa, Maha Bijaksana lagi Maha Perkasa telah menciptakan langit dan bumi serta seisinya dengan tujuan yang benar, tidak main-main. Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, bertasbih memuji Allah sepanjang waktu, taat dan patuh kepada-Nya dengan rela maupun terpaksa. Maka, manusia dan jin telah diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya untuk semata beribadah kepada-Nya.

Pesan penciptaan itu ternyata dipahami dengan baik oleh orang patut Melayu yakni para datuk pemangku adat dan ulama, orang malin dan orang siak. Akal sehat mereka menyadari adat sebagai hukum buatan manusia hanya dapat dipakai untuk hidup dunia. Tidak dapat ditumpangi untuk menghadapi maut. Hanya Syariah Islam yarg dapat menjawab dengan tegas lagi sempurna, tuntutan hidup dan mati yang dihadapi_umat manusia. Sebab, Syariah Islam dapat mengatur kehidupan manusia dengan sempurna sehingga dapat ditumpangi untuk kehidupan serta_dapat dipakai untuk menghadapi kematian.

Itulah sebabnya orang patut Melayu, dengan akal sehat membetulkan dasar adat Melayu dengan bersendi kepada Syarak, yakni agama Islam. Adat harus bertumpu –mendapat tempat berpijak yang kokoh– kepada aqidah dan iman yang disampaikan oleh Al-Qur’an dan as-Sunnah. Inilah yang mewujudkan pandangan hidup yang sejati, yang terkandung dalam rangkai kata yang piawai: ‘’adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah’’.

Maka, inilah sebenarnya sasaran nilai surau dalam dunia Melayu yang beragama Islam. Surau telah memainkan peranan yang unik atau istimewa –seperti yang berlaku di Rantau Kuantan, rantau nan kurang oso duo puluah— yang sekarang menjadi bagian daerah Kuantan Singingi.

Surah telah punya nilai, guna, peranan dan hakikat. Nilai guna surau yang utama ialah untuk tempat belajar mengaji (membaca) Al-Qur’an, kitab panduan hidup umat manusia. Kemudian nilai peranan surau yang utama menjalin persaudaraan seiman dengan aqidah Islam, sehingga dapat diharapkam memberikan kesejahteraan lahir dan batin. Sedangkan nilai hakikat surau, dengan mengaji Al-Qur’an kitab rahasia alam semesta, niscaya dengan akal sehat akan timbul kesadaran untuk beribadah hanya kepada Allah semata sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Jalinan persaudaraan dengan aqidah yang benar itu telah terjadi karena surau telah dipelihara dengan ikhlas oleh pemangku adat sebagai pemegang teraju kekuasaan dengan ulama sebagai pewaris Nabi. Nilai bendawinya yakni tanah dan bangunan surau disediakan oleh para datuk pemangku adat. Sedangkan nilai ruh atau hakikatnya diberikan oleh ulama dengan menyampaikan ilmu mengaji Al-Qur’an, kitab yang tiada diragukan kebenarannya, pedoman hidup bagi orang yang bertakwa.

Dengan bingkai serupa itu, surau sebenarnya telah menjadi amal saleh dalam dunia Melayu. Sebab dengan surau inilah orang patut Melayu meninggalkan jasa kepada_anak cucunya, agar terpelikara hidup dan mati oleh agama Islam, agama yang sempurna yang diridhai di sisi Allah Rabbul Alamiin.

Surau berjaya atau_cemerlang semasa masyarakat Melayu hidup dengan panduan adat bersendi syarak sebagai nama lain daripada Syariah Islam. Setelah orang Melayu mengikuti panduan sistem demokrasi, jalan orang banyak di muka bumi, maka surau jadi redup sejalan dengan_digerogotinya Syariah Islam oleh demokrasi yang kufur, menyimpang lagi menentang kebenaran Allah Tuhan Seru Sekalian Alam.

Mudah-mudahan hal ini akan menyentak kelalaian masyarakat Melayu untuk mempertimbangkan kembali dengan panduan iman, bagaimana surau dapat dipelihara untuk menjaga jejak amal saleh orang patut Melayu. Orang patut Melayu telah menyampaikan hidayah Islam melalui belajar mengaji Al-Qur’an, kitab yang berisi perintah dan larangan, sehingga tersingkap cahaya kebenaran Allah Yang Maha Bijaksana. Surau telah menampilkan jejak adat bersendi syarak untuk melestarikan ajaran Islam dalam masyarakat Melayu.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (12)

Pekanbaru,  Jum’at  10 Agustus 2007 Bung TA Sakti, Surat Bung tanggal 5 Agustus telah saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *