Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (5)
Foto: indiatimes.com

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (5)

Pekanbaru, 12 Jumadil Awal 1415

Bung  TA Sakti di Darussalam, Banda Aceh

Surat Bung yang dulu ditulis bulan Shafar sebenarnya sudah sampai kepada saya. Tetapi  setelah saya baca, saya tidak bisa menulis surat dengan segera, sebab ada kegiatan saya membuat kitab Kamus Antropologi Dialek Melayu Rantau Kuantan, Riau. 

Lalu kemudian saya lupa, karena banyaknya kegiatan saya. Kemudian tiba lagi sekarang surat Bung yang rupanya menyambung lagi minta balasan akan surat yang lalu itu.

Begini Bung, saya sudah menjelaskan kepada Bung dalam serangkaian tulisan saya kepada Bung, bahkan juga melalui buku yang saya tulis, betapa pentingnya strategi kebudayaan dewasa ini, sebagai suatu realitas kekuatan Islam. Jika Islam ini tidak kita beri bekas dalam budaya, hanya sebatas syariat yang kita harapkan untuk menuju kematian, maka agama itu tidak akan bersinar di dada insan.

Islam yang hadir melalui Nabi kita telah menjadi rahmat bagi segenap alam. Ini berarti segala sesuatu yang mendapat sentuhan Islam akan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan. Atas prinsip itulah ulama-ulama besar kita mulai dari Hamzah Fansuri, Nuruddin Arraniry, Samsudin al Sumaterany, Tun Sri Lanang, sampai kepada Raja Ali Haji dan Hamka, telah memberikan nafas Islam kepada karya sastra.

Sastra itu amat berbahaya jika tidak mendapat sentuhan Islam. Sebab agama-agama primitif sampai agama majusi, Hindu dan Konghucu, semuanya ujud ajarannya dalam bentuk teks sastra.

Bertolak dari situ, saya memandang Bung sebagai seorang di antara putra Aceh yang punya kesadaran tinggi betapa pentingnya meneruskan tradisi sastra yang islami, yang ternyata Aceh merupakan satu di antara gudangnya. Saya melihat Bung punya kemampuan yang memadai untuk meneruskan tradisi ini, dan sekaligus akan menjadi satu di antara keberadaan Bung yang akan diperhitungkan di belakang hari.

Bahwa orang sekarang kurang memperhatikan, hal itu tak perlu Bung hiraukan. Sebab Bung harus melakukan hal ini sebagai suatu cara melaksanakan amanah Allah. Kebudayaan Aceh hanya akan bisa unggul jika kadar Islam yang menjadi muatannya dipelihara terus, di samping dilanjutkan dengan karya-karya baru yang makin mampu menjawab tantangan zaman.  Dalam hal ini Bung seorang yang harus selalu merasa terpanggil.

Bung lihat saya, bagaimana saya melanjutkan budaya Melayu yang islami di Riau. Sampai dewasa ini buku saya tentang budaya Melayu sudah 35 buah. Dan hasilnya makin meyakinkan, sebab berbagai peneliti dari luar yang belum tentu beragama Islam, terpaksa membaca buku saya. Dengan cara itu, nilai-nilai budaya kita dapat dihindarkan untuk disalah-tafsirkan oleh peneliti asing, atau malah sengaja dipesongkan, sehingga arahnya yang islami kembali berbalik kepada Animisme-Hinduisme.

Maka bangkitkanlah semangat budaya yang Islami itu dalam rangkaian kajian Bung. Insya Allah Anda akan berhasil memancarkan kembali khazanah sastra Aceh yang pernah begitu agung semasa Hamzah Fansuri. Tetapi untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Bung, baiklah saya ulas secara singkat.

1. Tentang burung garuda, adalah satu di antara bahan cerita dunia Melayu. Burung ini telah menjadi mitos sebagai burung raksasa. Pada suatu cerita, burung garuda tampil sebagai penolong terhadap musafir yang terlantar, seperti ternukil dalam Kaba Puti Lindung Bulan. Pada cerita lain, burung raksasa ini tampil mengalahkan negeri yang zalim, sehingga terkenallah perumpamaan “seperti negeri dikalahkan burung garuda”. Maksudnya, tak ada satupun lagi yang mampu bertahan, jika telah tiba serangan burung ini, sebagai lambang daripada datangnya bala dari Tuhan.

Tetapi pada cerita lain, seperti yang Bung kisahkan, burung itu dipandang sebagai batu ujian yang paling menentukan. Hanya yang dapat mengalahkan burung garuda, yang bisa jadi digdaya. Dalam hal ini garuda adalah simbol hawa nafsu, sebab memang burung itu termasuk binatang juga. Maka siapa yang dapat menaklukkan nafsu yang kekuatannya bagaikan garuda, niscaya bisa menjadi pemenang terhadap kebenaran. Karena itulah garuda ini telah diambil sebagai simbol negara kita. Kita mengharapkan negara ini menjadi suatu negara yang berani, kuat dan jaya, sehingga tak ada kekuatan makhluk yang akan mampu menundukkannya.

Maka memuat hikayat tersebut tiada masalah dalam media apapun juga. Tetapi setelah Bung muat atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, alangkah baiknya Bung memberikan ulasan yang bisa bertolak dari teori lambang, seperti yang telah saya contohkan tadi. Dalam teori lambang, perhatikanlah hubungan antara lambang (misalnya garuda) dengan yang dilambangkan (misalnya nafsu, kekuatan tirani, kekuasaan Allah yang ujud dalam bentuk alam dan sebagainya).

Tidak ada unsur SARA dalam pembahasan mengenai karya sastra lama. Sebab semua karya itu telah berlalu, dan simbol-simbolnya tidak relevan lagi semuanya dengan simbol kita sekarang ini. Yang masih relevan ialah nilai-nilainya. Sebab itu arah pembahasan hendaklah terhadap nilai.

Saya meneliti cerita rakyat Aceh sebagai suatu sarana dalam masyarakat Aceh. Sebab itu, saya lebih mengutamakan bagaimana cerita rakyat ini telah mempengaruhi, mengubah pola tingkahlaku dan arah nilai kepada masyarakatnya. Jika saya membicarakan semua simbol termasuk burung garuda itu, maka kajian saya akan terlalu jauh melebar, sehingga akan sulit dipadatkan.

Karena itulah daripada kisah Malem Diwa mengalahkan garuda, jauh lebih baik saya perhatikan bagaimana Malem Diwa dikatakan menjadi guru mengaji di kayangan. Malem Diwa itu memang pantas saja mengalahkan garuda, sebab dia setelah memeluk Islam, tentulah harus terkesan sebagai orang yang mampu menaklukkan kekuatan duniawi (simbol kekuatan garuda).

Sementara itu berbagai hikayat banyak versinya. Jika kita lebih mementingkan kajian filologi, tentulah kita akan membandingkan segala macam versi. Tetapi jika kita lebih menekankan aspek antropologis (seperti kajian saya) maka cukuplah diambil salah satu versi saja.

2. Komentar teman Bung, bahwa hikayat Aceh tidak sampai sekadar diterjemahkan saja, tentulah benar. Jadi berbagai hikayat dan Haba Jamen itu hendaklah disegarkan dengan ulasan yang bisa merujuk kepada nilai-nilai masa lampau, yang jika ditapis bisa dilestarikan untuk masa kini.

Cobalah buat berbagai pertunjukan yang memakai bahan dari hikayat tersebut, sehingga seniman-seniman muda mendapat bahan inspirasi yang kaya. Kalau ada pelukis anak jati Aceh yang mengambil inspirasi lukisan dari hikayat, niscaya amat mencengangkan. Dia bisa membuat lintasan pertarungan Teungku Malem dengan Garuda, yang tentu dapat menandingi lukisan pertarungan antara Hanoman melawan Jatayu (garuda dalam Ramayana).

Betapa menakjubkan jika tupai Tengku Malem dibuat lukisannya, begitu pula mitos Pauh Janggi sebagai simbol dari muara segala kehidupan ini. Dan masih banyak lagi. Ini semuanya hendaklah Bung pasarkan melalui berbagai diskusi dengan teman-teman budayawan Aceh.

3. Kemungkinan saya untuk menulis pada Harian Serambi Indonesia amat tipis. Pertama, bahan-bahan mengenai Aceh meskipun masih saya simpan, tetapi sudah begitu lama mengendap, sehingga sulit dibangkitkan dengan segar dalam waktu yang relatif singkat.

Sementara itu saya telah meninggalkan Aceh 20 tahun, perubahan tentu sudah begitu jauh berlalu, sehingga tulisan saya akan kurang akrab dengan pembaca. Lain halnya semasa saya menjadi seorang penulis tetap untuk majalah Sinar Darussalam tahun 1970-an, yang saya ketika itu sedang kaya akan budaya dan masyarakat Aceh.

Bung TA Sakti, seperti telah saya ungkapkan juga dalam rangkaian tulisan terdahulu, supaya kajian mengenai  hikayat Aceh ini semakin marak, kiranya buku-buku tentang itu hendaklah diterbitkan. Edarkan buku-buku itu ke sekolah-sekolah dengan bekerjasama dengan pihak P dan K dan jadikan perguruan tinggi seperti mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia, Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin, sebagai basis sumber daya kajian.

Berbagai buku saya dewasa ini telah menjadi sangat penting bagi berbagai mahasiswa seperti di atas, ketika mereka akan membuat skripsi, bahkan untuk membuat tesis S2 dan S3. Cobalah berazam, bahwa Anda akan dikenal karena karya Anda yang khas mengenai Aceh, bukan oleh gelar-gelar yang hanya memberikan kesombongan, untuk mengundang penyesalan. Itulah jalan yang saya lalui selama ini TA Sakti, jalan yang mencoba memberi ruh kepada budaya, agar semangat Islam membara di dalamnya, sehingga kita berkarya dengan  rendah hati, tetapi dalam perjalanan menuju ridha dan keridhaan-Nya.

Wassalam

UU Hamidy

Catatan mutakhir dari TA Sakti :

1. Sekitar pertengahan tahun 1994, ada sebuah hikayat setebal 650 halaman Latin baru saja selesai saya transliterasikan. Judulnya “Hikayat Banta Keumari”. Mengenai salah satu sub-isi dari hikayat itulah, yakni yang di dalamnya ada sosok ‘burung garuda’ yang menimbulkan perbedaan pendapat.

2.  ”Teman Bung” dalam surat ini adalah Prof Dr Bahrein T Sugihen MA, yaitu seorang Guru Besar di Unsyiah yang mudah diajak “dialog kecil bersama”. Pada beliaulah saya sering mencari inspirasi dan semangat demi mendukung kegiatan sastra Aceh saya. 

3. Setelah sekitar 12  tahun berlalu –dari tanggal surat di atas, akhirnya harapan saya terkabul jua. Dalam tahun 2007 sampai dengan 2008, Bapak UU Hamidy telah menulis 5 artikel tentang hikayat Aceh dalam Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh. Selain di Serambi Indonesia, dua artikel mengenai hikayat Aceh juga masing-masing dimuat pada Harian Aceh dan Aceh Magazine, Banda Aceh.

Bale Tambeh, 29 Desember 2010, TA Sakti.

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *