Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (2)
Foto: wikimedia.org

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (2)

Pekanbaru, 19 November 1983

Bung TA Sakti,

Saya kembali menerima surat Bung pertengahan bulan ini. Meskipun saya cukup sibuk; pertama menyiapkan bahan-bahan untuk pembahasan Tradisi Johor Riau dalam Hari Sastera ‘83 nanti di Johor Baharu 10-13 Desember, tugas akademis yang rutin, menulis kreatif dan mempersiapkan penelitian mengenai Hutan Kepungan Sialang Suku Petalangan di Riau, namun saya tergoda untuk menulis secepatnya kepada Bung. Saya khawatir kalau ditunda, saya lupa.

Pasal Hang Tuah yang dikatakan Sayed Husein Alatas sebagai bajingan agung, itu adalah hasil kajiannya sendiri. Jika Bung mau sedikit berpikir dan menyimak sejarah, hal itu tidaklah mengherankan. Jika Hang Tuah akan dinilai dari segi kebenaran mutlak–tanpa melihat lenturan kebenaran itu dalam kehidupan sosial–maka tak ada salahnya Sayed Husein Alatas mengatakan demikian.

Perhatikanlah bagaimana Hang Tuah berusaha mendapatkan Puteri Gunung Ledang. Hang Tuah menjeratnya dengan pura-pura mencintai puteri itu, tetapi setelah putri itu jatuh hati, dibawanya ke Melaka, lantas diserahkannya kepada Sultan Mahmud.

Kemudian, setelah Sultan Mahmud dapat melepaskan nafsunya terhadap puteri jelita itu, maka Hang Tuah dituduhnya berbuat zina dengan puteri-puteri lainnya (yang tentulah juga difitnahkan orang atas sejarah Hang Tuah menjerat Puteri Gunung Ledang itu sendiri).

Lantas apa hanya yang dilakukan Hang Tuah? Ia menerima pembuangan atas hukuman Sang Raja. Untunglah Hang Jebat cukup tahu, bahwa antara raja Melayu dan rakyatnya pernah ada persetihan (sumpah seranah) yang dibuat semasa Demang Lebar Daun. Yakni “pantangan bagi rakyat mendurhaka kepada pemimpinnya, tetapi terkutuklah sang pemimpin yang menghina rakyatnya’’. Nah, Hang Tuah tetap berpegang kepada kerat pertama persetihan itu, sedangkan Jebat memegang bagian yang kedua.

Dari keadaan itu, maka Hang Tuah dapat saja disebut sebagai bajingan, seorang yang telah melakukan tipu daya begitu rupa kepada Puteri Gunung Ledang, demi pemimpin yang rupanya bejat. Tetapi kita hendaklah membaca sejarah, bukan hanya atas kebenaran yang sudah begitu saja, meskipun kebenaran yang mutlak, semisal kebenaran Ilahiah (dari agama kita Islam).

Sebagai bandingan Bung, lihatlah kasus Husin anak Ali (cucu Nabi) di Padang Karbala. Semua sahabatnya yang terpercaya telah memberi nasehat agar jangan pergi ke Kufah (Irak) karena rakyat di sana curang. Namun Husin tetap memutuskan berangkat. Malah akhirnya ia tahu utusannya ke Irak telah dibunuh dan para sahabat sekali lagi menganjurkan balik belakang. Bahkan, Panglima Al Hur sendiri dari pihak Yazid yang menjadi Khalifah, memandang kasihan kepada Husin dan menyuruh kekasih Nabi itu mengambil jalan lain kembali ke Yaman.

Namun Husin tetap keras kepala. Dan hasilnya ia dipenggal, dan kepalanya diinjak-injak oleh orang Irak. Dari gambaran itu saja (an sich) tidaklah Husin terlalu bebal? Bukankah dengan gambaran itu saja kita bisa mengatakan Husin itu bodoh?

Pandangan semacam itu jugalah Bung Sakti yang berlaku atas pribadi Hang Tuah. Dan kalau ada orang membaca sejarah serupa itu, Bung tak perlu gusar. Sejarah bukan harus dibaca dengan cara otoriter, yang hanya harus dibaca dengan satu tafsir semacam tafsiran UUD ‘45 dan Pancasila di Indonesia.

Sejarah akan tetap dibaca dan bagaimanapun juga tidak dapat diharapkan bacaan yang senada. Lantas apakah ini maknnya? Itu bermakna, kebenaran sebagai suatu konsep tidak akan selalu sejalan dengan kebenaran dalam keadaan realitas.

Nah, itulah yang dapat diulas. Dengan ini saya kirimkan sebuah kitab saya kepada Bung, yang agaknya dapat mendorong semangat Bung untuk menulis lebih banyak mengenai alam Melayu.

Wassalam

UU Hamidy

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *