Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Siak Sri Indrapura; Bacaan Sejarah di Kala Senja, Oleh: UU Hamidy
Peti nyanyi Komet di Istana Siak Sri Indrapura, Riau. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Siak Sri Indrapura; Bacaan Sejarah di Kala Senja, Oleh: UU Hamidy

Kata SIAK tidak asing lagi bagi kita, terutama dalam kehidupan bumi putera Riau. Kata itu telah menjadi perbendaharaan kata bahasa Melayu yang cukup PENTING. Paling kurang dia dapat menunjuk kepada DUA maksud. Pertama, menunjukkan sebuah KERAJAAN, yang paling kurang berawal semenjak pemerintahan sultannya yang pertama bernama Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Ramad Syah (1723-1748) sampai sultannya yang terakhir Tengku Sulung Sayed Qasyim dengan gelar Assaidis Syarif Qasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1915-1949). Dalam makna kedua, kata itu menunjukkan seorang yang ALIM, penganut agama Islam yang cendekia –yang sering mengabdi kepada agamanya setelah mengambil mesjid sebagai tempatnya berbakti melalui kehidupan yang amat sederhana.

Dalam perjalanan hidupnya selama tidak kurang dari 226 tahun, Kerajaan Siak telah diperintah atau dikemudikan oleh 12 orang sultan. Enam orang yang pertama boleh dikatakan berdarah Melayu asli, sedangkan enam orang lagi yang terakhir merupakan keturunan Arab. Dalam masa jayanya, kerajaan ini sampai memiliki 12 daerah takluk. Ke Utara kekuasaannya sampai ke Langkat, sedangkan ke Barat meliputi Kerajaan Sambas di Kalimantan.

Ada paling kurang 3 peninggalan sejarah Kerajaan Siak di Siak Sri Indrapura yang masih dapat dijumpai sampai hari ini, yang sedikit banyak mampu memberikan bacaan bagi masa silam kerajaan itu. Ketiganya adalah: mesjid Kerajaan Siak, Balai Kerapatan Tinggi dan istana Sultan Siak.

Mesjid terletak sekitar 250 meter dari istana. Sebelah sisi Barat mesjid ada 3 buah makam. Dua di antaranya ialah makam Sultan Syarif Qasyim (1915-1949) dengan permaisurinya yang pertama Tengku Agung yang berasal dari Langkat.

Balai Kerapatan Tinggi terletak di sebelah barat Mesjid Siak. Jarak antara balai dengan mesjid ada sekitar 300 meter, sedangkan dengan istana lebih kurang 500 meter. Balai juga terletak di pinggir sungai. Balai Kerapatan Tinggi digunakan untuk persidangan, di antaranya untuk sidang pengadilan yang menyangkut perkara yang besar. Balai ini dibangun demikian rupa; bertingkat dengan tiang-tiang besar atau pilar sebanyak 42 buah. Dia mempunyai tangga 3 buah. Pertama tangga masuk menghadap ke Sungai Siak, terbuat dari batu. Tangga yang kedua dan ketiga terletak di tengah balai, menghubungkan tingkat atas dengan tingkat bawah. Kedua tangga ini merupakan tangga putar; yang satu dari besi sedang yang satu lagi dari kayu. Kabarnya, pihak yang menang dalam pengadilan di balai itu akan turun melalui tangga besi, sebaliknya yang kalah turun melalui tangga kayu. Balai ini dibuat tahun 1886 dan pernah diperbaiki satu kali dalam zaman Belanda.

Balai Kerapatan Tinggi yang ada sekarang ini bukanlah peninggalan dari balai yang paling awal. Yang kita jumpai sekarang ini sudah merupakan balai dalam bentuk yang dibuat kemudian, sehingga tidaklah sama dengan bentuk balai yang mula-mula dibuat. Memang masih tampak beberapa persamaan sehingga sepintas lalu, tampak serupa. Pada sisi sebelah barat sebenarnya ada jil (jail), yaitu penjara tempat orang hukuman. Sekarang bangunan itu tak dijumpai lagi.

Dalam balai itu, pada bagian atas pintu masuk sebelah dalam, ada lambang kesatuan Siak Sri Indrapura. Lambang ini bernama MUHAMMAD BERTANGKUP. Bentuk lambang hampir menyerupai bulan sabit di mana tulisan ‘’Muhammad’’ diapit oleh dua ekor naga. Melihat gambar lambang yang demikian, ada kemungkinan tulisan ‘’Muhammad’’ memberi makna kepada dasar Kerajaan Siak yaitu agama Islam; dua ekor naga mungkin memberi maksud akan kekuasaan Kerajaan Siak yang meliputi lautan dan daratan, sedangkan bulan sabit besar kemungkinan cita-cita atau tujuan kerajaan ini yaitu kehidupan yang bermartabat tinggi dan mulia.

Di antara ketiga peninggalan tersebut, yang amat momentum ialah istana kerajaan yang bernama Assajarah Hasyimiyah. Istana dibangun selama masa 3 tahun, mulai 1864 dan selesai 1849. Ada beberapa peninggalan Kerajaan Siak dalam istana ini, di antaranya ialah: komet, kursi kebesaran kerajaan, meja dan kursi ruang makan serta tempat permaisuri menerima tamu, patung Ratu Wilhelmina dan patung Syarif Hasyim, gong dari Tiongkok, peti besi kas kerajaan, surat-surat 3 almari (ada yang berupa kitab-kitab), beberapa pakaian sultan, foto-foto dan beberapa benda lainnya.

Komet dengan paten nomor 95132 dibawa oleh Sultan Syarif Hasyim dari Jerman tahun 1889 untuk hiasan Istana Siak. Komet ini boleh dikatakan semacam gramofon atau peti nyanyi yang mempunyai 17 piringan terbuat dari baja. Tiap piring dapat memberikan lagu dalam bentuk instrumentalia. Benda budaya ini kabarnya hanya tinggal atau dapat dijumpai pada dua tempat saja di dunia ini: Jerman dan Siak Sri Indrapura di Riau, Indonesia.

Walaupun istana tampaknya masih mempunyai banyak harta peninggalan, tetapi jika dibandingkan dengan peninggalan yang pernah dimiliki oleh Sultan Siak, belumlah ada artinya. Pegawai istana yang pernah bertindak sebagai ketua yaitu Tengku Jaafar, hanya menaksir bahwa yang tinggal atau yang dijumpai dalam istana dewasa ini hanyalah sekitar 35 persen daripada kekayaan yang pernah dimiliki. Sedangkan budayawan Tenas Effendy (pengamat sejarah yang banyak mengetahui masalah Siak) hanya menaksir peninggalan itu sekitar 15 persen daripada yang pernah dimiliki oleh Kerajaan Siak.

Sungguhpun begitu, Allah berbuat sekehendak-Nya. Manusia mempunyai kemampuan hanya batas-batas yang telah ditentukan Tuhan, sehingga sejarah terjadi tetap atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa, yang sering diabsahkan melalui tindak perbuatan dan akal budi manusia. Maka dari fajar yang lembut, yang memberi semangat bagi segenap alam sekitarnya, lalu tengah hari yang memberikan cahaya terang benderang, sampai pulalah kerajaan Islam Siak kepada masa senja. Senja selalu memberikan kenangan kepada kita akan masa silam, bagaikan selendang pelangi di ufuk barat yang berwarna-warni. Namun, bagaimanapun juga, pelangi tetaplah pelangi juga, walaupun indah, tapi akhirnya juga akan pudar dan sirna.***

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Panji Masyarakat.

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *