Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Sesat Setelah Mendapat Petunjuk, Oleh: UU Hamidy
Foto: day-news.info

Sesat Setelah Mendapat Petunjuk, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Bijaksana telah menciptakan manusia dan segala sesuatu dengan kebenaran. Untuk membimbing manusia berjalan menurut kebenaran, Allah menurunkan Alquran sebagai pedoman hidup, pembeda yang haq dengan bathil, halal-haram serta yang berpahala dengan yang berdosa. Bahkan, untuk menyelamatkan manusia, Allah membalas kebajikan dengan 10 kali lipat sampai beratus kali dengan tiada batas. Sementara dosa hanya dibalas setimpal dengan kejahatan itu. Berniat baik saja sudah berpahala. Nabi Muhammad Saw memberi contoh tauladan memakai Alquran menjadi pedoman hidup dengan kata dan perbuatan kepada para sahabat, sehingga generasi sahabat menjadi generasi umat manusia yang terbaik di muka bumi. Mereka terhormat oleh Islam, bahagia dengan hidayah Islam, mulia oleh akhlak islami serta cemerlang berpikir oleh cahaya Alquran dan as-Sunnah.

Sungguhpun demikian, manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang tergesa-gesa, mudah sekali tergelincir oleh setan sehingga lebih suka memilih hidup dengan aturan yang dibuatnya sendiri daripada Syariah Islam dari Allah dan Rasul-Nya. Banyak manusia yang pintar mengenal alam semesta tapi tidak tahu kebenaran ciptaan Allah pada alam itu. Mereka hanya melihat kenyataan dengan panca indera, tidak bisa melihat kebenaran dengan mata hati. Mereka bernafsu untuk hidup tetapi tidak mengenal tujuan hidup yang sejati.

Demikianlah, banyak orang memilih jalan hidup demokrasi karena dengan aturan yang dibuat demokrasi dapat disalurkan hawa nafsu yang rendah. Demokrasi membuat manusia bergantung kepada manusia, bukan kepada Allah yang menentukan hidup dan mati. Demokrasi mengubah tujuan hidup manusia dari beribadah kepada Allah kepada hidup mencari jabatan, kekayaan dan kemashuran. Demokrasi hanya mencari kesenangan hidup yang palsu, bukan kebahagiaan yang kekal di akhirat. Dengan demikian, dari sudut kebenaran Allah, demokrasi itu tidak logis, sebab tak mampu membedakan mana yang lebih utama lagi beharga. Karena itu hidup dalam alam demokrasi sebenarnya hanyalah hidup dalam keadaan tertipu. Tertipu oleh angan-angan yang panjang.

Lihat manusia yang tertipu oleh angan-angannya. Tidak seorangpun yang mampu menahan kehendaknya. Maka rencana dan proyek susul-menyusul tanpa timbangan haq-bathil, halam-haram serta dosa-pahala. Manusia yang serakah itu menjadi kuman kanker merusak alam. Dia bertumpu kepada teknologi dan uang. Dia membayangkan nasibnya akan baik oleh penguasa yang dipilih dengan suara terbanyak dalam demokrasi. Dia juga membayangkan keadilan dan kebenaran akan tegak dengan peraturan yang dibuat manusia menurut kehendak orang banyak. Tetapi kenyataannya, untuk mendapatkan kesenangan dunia yang sedikit itu, mereka mendapat bencana dan penderitaan yang semakin besar dan semakin tidak kunjung berakhir.

Maka sesatlah umat manusia oleh demokrasi. Meskipun demokrasi membuat aturan sekuler (menolak aturan Allah) tetapi perbuatan manusia yang membuat aturan itu tetap menghalalkan segala cara. Untuk mendapat kekuasaan, dunia demokrasi bermain culas, menyogok dan membohongi rakyat, mengemis kepada pemilik modal (kapitalis). Untuk mendapatkan kekayaan, dunia demokrasi memainkan riba, monopoli pasar serta membuat berbagai penipuan seperti vaksin palsu. Untuk popularitas, mereka membuat permainan dan seni yang mengundang magis, sihir dan syirik.

Tetapi bagaimanapun juga, yang paling merugi ialah umat manusia yang mengaku beragama Islam, mendapat petunjuk Alquran beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi dalam kehidupan dunia mengikuti jalan hidup demokrasi, tidak mau hidup diatur oleh Syariah Islam yang sempurna. Sewaktu diangkat menjadi pejabat, mereka disumpah dengan Alquran, tetapi setelah berkuasa tak mau memakai hukum yang diturunkan Allah dalam Alquran. Padahal, dalam Surah al-Maidah telah ditegaskan, barang siapa yang memutus perkara tidak memakai hukum Allah maka orang itu bisa kafir, zalim dan fasik. Sebab sebenarnya, tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang yang yakin kebenaran risalah Islam. Demi kepentingan politik dan ekonomi, anak cucu Adam yang mengaku beragama Islam itu tidak segan-segan mengambil teman setia orang Yahudi dan Nasrani, bahkan bersedia mengangkat musuh-musuh Allah itu nenjadi penguasa. Mereka seakan tidak sadar, demokrasi yang menyamakan agama Islam dengan semua agama, sebenarnya telah memansuhkan hakikat kebenaran Allah yang termaktub dalam Alquran. Akibatnya, mereka tidak lagi malu apalagi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada makhluk. Mereka malah bergembira dan bermaksiat dengan sarana dunia yang disediakan oleh demokrasi yang menipu.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *