Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Semangat lslam dalam Tradisi Melayu, Oleh: UU Hamidy
Foto: Getty Images

Semangat lslam dalam Tradisi Melayu, Oleh: UU Hamidy

Allah Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Pengatur lagi Maha Pemelihara yang punya 99 nama-nama indah telah menurunkan Alquran petunjuk bagi orang yang bertakwa, agar manusia hanya beribadah dengan benar kepada-Nya saja. Allah tidak perlu sekutu. Dialah yang awal Dialah yang akhir. Dialah kekal abadi yang maha hidup serta menghidupkan dan mematikan. Dialah yang berhak membuat hukum, bukan manusia yang lemah, yang punya ilmu sedikit serta lagi mudah tertipu oleh setan lalu diperkuda oleh nafsunya.

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam adalah Utusan Allah untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia dan juga jin. Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam menyampaikan kebenaran Alquran kepada para sahabat meliputi segala penjuru kehidupan. Alquran telah menegaskan hanya agama Islam yang diterima di sisi Allah. Islamlah agama yang benar, bebas dari syirik, punya ajaran yang lengkap lagi sempurna. Setelah para sahabat berhasil ditempa oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dengan nilai-nilai Alquran, maka mereka punya akidah yang benar lagi kokoh sehingga terpancarlah cahaya iman dari mereka sebagai generasi umat yang terbaik di muka bumi.

Maka puak Melayu di Riau sebagai bagian dari umat Islam telah berusaha pula melarutkan nilai dan semangat ajaran Islam itu dalam berbagai sudut kehidupan. Penampilan orang Melayu dengan tradisinya yang Islami adalah kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan hidup tidak melampaui norma-norma kehidupan yang berlaku dari adat bersendi syarak. Para pelampau diyakini akan menampilkan sifat serakah, egois (zalim), ujub dan sombong sehingga merusak pergaulan sosial.

Hutang bukan hanya dipandang sebagai beban material, tetapi lebih-lebih sebagai beban moral. Sebab itu dalam pandangan tradisi Melayu yang islami, hutang dipandang buruk. Jika terpaksa juga berhutang hendaklah lansai semasa hidup. Jangan mati dalam keadaan berhutang. Martabat atau harga diri dipandang berada di atas nilai kebendaan. Orang besar, kata Raja Ali Haji–tetua Melayu yang alim lagi terpandang–ialah orang yang memelihara budi pekertinya. Karena itulah orang Melayu yang taat Syariah Islam, akan tabu berbuat zina, judi dan minuman keras, sebab akan jadi pangkal bala jatuhnya martabat.

Harta itu yang utama berkahnya bukan jumlahnya. Harta yang didapat dengan kekerasan, rebut-rampas, tipu-tepok dan sebagainya dengan jalan curang tidak akan memberi berkah dan keselamatan. Malah diyakini oleh orang Melayu yang beriman teguh, akan mendatangkan malapetaka. Jika tidak di dunia akan diterima di akhirat. Karena itulah penyakit dipandang bukan hanya disebabkan oleh kuman tetapi dapat disebabkan oleh perbuatan maksiat. Maka semboyan ‘’empat sehat lima sempurna’’ dapat menyesatkan orang dalam minum-makan, karena tidak ada unsur halal, sebagai yang utama daripada makanan dan minuman.

Kejujuran adalah penampilan harga diri yang utama. Sebab sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Kejujuran adalah taruhan harga diri sebab di sini akan teruji antara yang benar imannya dengan yang munafik. Karena itulah persaudaraan akan terbukti dalam kebersamaan. Tanda persaudaraan itu ialah harta, tenaga dan pikiran. Jika tak dapat menolong dengan harta, tolonglah dengan tenaga. Jika tak dapat juga menolong dengan tenaga maka bantulah dengan pikiran. Maka kebersamaan atau tali persaudaraan itu hendaklah berada dalam budi pekerti yang mulia yang disampaikan oleh bahasa yang mengenal alur dengan patut. Sebab bahasa ialah pancaran budi pekerti. Bahasa harus memperlihatkan yang batin yakni hati. Itulah sebabnya Raja Ali Haji sampai membuat ikat gurindam ‘’Jika hendak melihat orang yang berbangsa lihat kepada budi bahasa’’.

Orang Melayu yang berjalan mengikuti tradisi Melayu yang islami itu punya keseimbangan lahir dan batin. Keseimbangan lahir dan batin adalah tajuk mahkota kehidupan. Inilah hidup yang bernilai. Sebab berguna pada yang fana (dunia) dan bermakna di alam yang baka (akhirat). Jika yang zahir kurang baik (penampilan fisik kurang baik), imbangilah dengan batin (budi pekerti) yang baik. Jika yang batin jauh lebih baik dari yang zahir, itulah manusia yang mulia. Sebab yang batin itu lambang abadi sebagaimana di akhirat akan terbukti.

Orang Melayu yang punya semangat dari akidah dan iman yang kokoh akan menghindari perselisihan. Perselisihan dihindarkan bukan pertama-tama karena mengganggu ketentraman, tetapi terlebih lagi karena akan menjatuhkan martabat sarta mendatangkan bencana. Karena itulah menonjolkan diri dipandang sebagai akhlak yang tidak baik. Jika ada peluang, orang Melayu dengan tradisi yang islami ini akan jarang mau menampilkan dirinya, meskipun sebenarnya dia mampu. Ini ada hubungannya dengan tanggung jawab dan harga diri yang lebih suka merendahkan sayapnya. Dia khawatir jangan-jangan ada orang yang baik daripada dia. Dia tidak suka meminta jabatan sebab dia memandang dari sudut Islam, jabatan itu diminta bukan meminta.

Gambaran tradisi Melayu dengan semangat dan ruh Islam itu memberi bukti betapa para ulama dunia Melayu masa silam telah berdakwah demikian rupa sehingga sampai memberi berkas pada berbagai segi kehidupan orang Melayu. Jika masih banyak berbagai ilmu Islam yang belum dapat mereka sematkan kepada kehidupan, hal itu bukanlah aib bagi mereka. Itulah bengkalai yang ditinggalkan agar dilanjutkan oleh ulama masa kini. Ini memberi bukti, ulama masa itu menyadari bahwa hanya Islamlah yang dapat membuat orang Melayu jadi mulia dan terhormat, bukan jalan hidup orang banyak di muka bumi yakni demokrasi. Meninggalkan Islam dengan membuang Syariah Islam sebagai panduan kehidupan hanyalah mendatangkan bencana dan kehancuran, sebagaimana sekarang sudah menjadi kenyataan.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *