Home / Bunga Rampai / Selamat Berkat Menyamar Pakai Nama Nabi Muhammad, Oleh: Purnimasari
Hamparan rawa bigau alias kumbuh tepat sebelum kebun getah Haji Harun di Guloan, Kenegerian Siberakun, Kuantan Singingi, Riau. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Selamat Berkat Menyamar Pakai Nama Nabi Muhammad, Oleh: Purnimasari

* Tulisan ini adalah kisah nyata. Seperti diceritakan oleh UU Hamidy kepada Purnimasari. Dituliskan kembali oleh Purnimasari.

Dalam agresi Belanda tahun 1948, terjadilah perlawanan masyarakat Melayu di Rantau Kuantan, Riau terhadap Belanda. Para gerilyawan yang lebih tepat disebut mujahidin, melawan Belanda dengan teknik perang gerilya. Mereka memakai persenjataan tradisional seperti pedang, tombak, keris dan bedil kuno blansa.

Sebelum berangkat ke medan jihad, sering dibacakan kepada mereka ‘’Kayat Porang’’ (Kayat Perang), yakni kisah peperangan Hasan dan Husin di Padang Karbala melawan orang yang berkhianat kepada pimpinan mereka, untuk membakar semangat jihad.

Ada dua medan jiahd yang penting. Di hulu Batang Kuantan, Belanda dihadang di medan jihad Lubuk Jambi. Sedangkan di hilir Batang Kuantan, Belanda dihadang pada medan jihad Cerenti. Komandan gerilya dewasa itu ialah Marah Halim, yang jadi Gubernur Sumatera Utara setelah pengembalian kemerdekaan.

Karena para mujahid ini tidak punya kendaraan darat, maka pergerakan mereka sesuai dengan sifat perang gerilya, melintas daerah kebun getah dan hutan belantara antara lubuk Jambi di mudik dan Cerenti di hilir. Jalan pintas ini ternyata amat bagus mengatur lalu-lintas mujahidin, antara kedua medan jihad tersebut.

Antara medan jihad Cerenti dan Lubuk Jambi, mereka punya pos yang strategis yakni panggung atau pondok Haji Harun di Guloan, yang terletak di pertengahan antara Cerenti dan Lubuk Jambi. Panggung Haji Harun dengan kebun getahnya berada di pinggir hutan, sehingga sangat baik menjadi pos persinggahan oleh para mujahidin. Guloan ini tak jauh dari Gunung Kasiangan. (Baca http://bilikkreatif.com/gunung-kasiangan-dalam-mitos-dan-perang-gerilya-di-kuantan-bagian-1-oleh-uu-hamidy)

Panggung Haji Harun telah memainkan peranan sebagai pos persinggahan, tempat menyimpan senjata dan yang paling penting ialah peranan Haji Harun sebagai mata-mata yang memantau gerak tentara Belanda baik dari hilir maupun dari mudik Batang Kuantan. Di sini juga disediakan persediaan bensin ukuran botol kecil untuk bumi hangus markas bila melakukan serangan malam hari.

Peranan Haji Harun sebagai mata-mata mujahidin ini amat menguntungkan bagi keamanan dan keberhasilan para mujahidin yang akan turun menjadi kurnia dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berkat niat dan tekad mereka membela kebenaran Islam yang sudah mendarah daging bagi orang Melayu di rantau itu. Maka akhirnya Belanda juga melalui mata-matanya yang berasal dari penduduk negeri yang berkhianat, karena mencari dunia, juga berhasil mendeteksi keberadaan Haji Harun dengan kebunnya.

Setelah perhitungan Belanda cukup matang dengan keterangan dari mata-matanya, maka diaturlah serangan. Mula-mula Belanda menyerang dari jarak jauh. Belanda mencari tempat pada negeri Siberakun, kira-kira di mana di tepi hutan itu posisi panggung Haji Harun.

Maka dari arah kampung Siberakun itu Belanda telah melakukan serangan dengan menembakkan berbagai persenjataan (meriam dan tomong kata orang Melayu Kuantan) yang diharapkan akan menghancurkan panggung serta mencederai Haji Harun serta mujahidin yang singgah di situ.

Tapi hasil serangan yang dilakukan lebih dari tiga kali itu, ternyata tidak berkesan. Perlawanan mujahidin malah makin hebat, sehingga kapal motor Belanda sangat sulit sekali menempuh perjalanan dari Rengat ke Teluk Kuantan melalui Batang Kuantan.

Akhirnya Belanda menyiapkan satu regu tentara keturunan Ambon untuk menyeberang Batang Kuantan menuju panggung Haji Harun. Maka berjalanlah tentara satu regu ini menuju panggung Haji Harun, setelah menyeberang Batang Kuantan di Tepian Pauh ke Gunung Kasiangan. Mereka minta seorang pembawa peralatan bernama Maddin menuju panggung itu.

Alhamdulillah, manusia membuat tipu daya, sedangkan Allah adalah pembalas tipu daya yang tidak akan terkalahkan. Maddin dapat firasat dari Allah untuk menyelamatkan Haji Harun. Kurang lebih 2 Km lagi sampai ke panggung, Maddin menyuruh tentara Belanda Ambon itu menembak burung kuntul (bangau) yang berada di tepi rawang tempat mereka melintas.

Tentara dengan sigap menembak burung itu, sehingga d e n t u m a n bedilnya terdengar oleh Haji Harun. Tapi yang lebih menarik, dentuman bedil itu kedengaran lebih dekat oleh anaknya Marsuman (panggilan UU Hamidy semasa kecil) dengan cucunya yang bernama Janit.

Marsuman dan Janit main kelopak jantung mandi-mandi pada anak sungai yang sebentar lagi akan dilalui oleh regu tentara itu. Begitu kedua anak kecil ini mendengar letusan bedil, langsung pucat mukanya, lalu berlari dengan cepat sehingga hampir tak sempat memasang celana karetnya. Mereka lari menuju panggung bagaikan cigak bugil.

Sampai di panggung langsung mereka katakan ada letusan bedil kepada bapak atau datuknya. Haji Harun segera pergi ke dapur mengambil tempurung lalu menggiling arang diberi air. Kemudian arang bercampur air itu dia lumarkan ke mukanya, sementara mengubah penampilannya sebagai orang sakit. Berselang hanya sekitar 10 menit, regu tentara itu sampai. Mereka tidak menyentuh panggung Haji Abdullah yang lebih dulu mereka lewati. Ini memberi bukti hebatnya akurasi mata-mata Belanda membuat peta keberadaan Haji Harun.

Komandan regu segera naik panggung sedangkan anak buahnya mengitari dan mengawasi panggung. Begitu tiba di depan pintu, Komandan itu berkata, ‘’Ini panggung Haji Harun, bukan?’’

Haji Harun menjawab: ‘’Ya Tuan!’’
Komandan: ‘’Mana Haji Harun itu?’’
Haji Harun: ‘’Dia pergi Tuan.’’
Komandan: ‘’Kamu ada apa ini?’’
Haji Harun: ‘’Saya sakit Tuan.’’
Komandan: ‘’Nama kamu siapa?’’
Haji Harun: ‘’Ahmad Tuan!’’

Dia berkisar kepada Marsuman dan Janit yang berada di samping Haji Harun. Mula-mula ditanyanya Marsuman.

Komandan: ‘’Bapak kamu mana?’’
Marsuman: ‘’Tidak ada Tuan’’

Lalu dia pun bertanya pula pada Janit.

Komandan: ‘’Bapak kamu mana?’’
Janit: ‘’Tidak ada Tuan.’’

Setelah itu mereka makan sepuasnya hasil kebun Haji Harun berupa nenas masak, pisang, dan apa saja yang mereka tampak enak dimakan. Setelah kenyang makan hasil kebun, mereka memeriksa keadaan panggung. Lalu sampailah ke dalam reban ayam yang di situ tersimpan persenjataan para mujahidin. Mereka mengambil semua senjata itu lalu pulang.

Maka banyak anak negeri di Rantau Kuantan yang mendapat pensiunan veteran. Yang tidak ikut perang pun bisa dapat, asal pernah berjasa seperti ikut mengumpulkan senjata untuk para mujahidin. Tapi ada seorang mujahid bersama Muhammad Sudin (dipanggil Mad Sudin) yang tidak mau menerima uang pensiunan veteran.

Ketika ditanya oleh adiknya Marsuman mengapa dia tak mau terima uang itu, Mad Sudin menjawab dengan ringan, ‘’Kalau saya ambil uang veteran itu, lalu apa n i a t saya dulu ikut perang? Saya ikut perang melawan Belanda itu dengan niat ikhlas mencari pahala di sisi Allah.’’

Padahal kalau Mad Sudin mau menerima pensiunan veteran, dia adalah tangan kanan Marah Halim, komandan perang gerilya di medan Cerenti, Rantau Kuantan. Barangkali dia cukup kirim surat (tidak pakai surat permohonan) kepada Marah Halim memberitahukan bahwa dia belum mendapat pensiunan veteran. In syaa Allah niscaya akan segera dibantu oleh Marah Halim, karena hampir tak masuk akal dia melupakan tangan kanannya Mad Sudin dalam tiap pertempuran di Cerenti.***

Check Also

Pergam Disangka Harimau, Oleh: Purnimasari

Allah Yang Maha Pencipta Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana menciptakan bumi dan langit serta seisinya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *