Home / Siapa UU Hamidy / Saya Hanya Siapa, Oleh: UU Hamidy

Saya Hanya Siapa, Oleh: UU Hamidy

Tanpa taufiq, rahmat dan hidayah Allah Swt, saya tidak dapat berbuat apa. Saya hanyalah siapa. Tak ada yang patut dibanggakan apalagi disombongkan. Saya diciptakan Allah dari setetes air yang hina, yang tidak dapat disebut dengan redaksi apa. Lagi bumi saja tidak sampai sebesar titik dalam jagad raya penciptaan Allah. Lalu di situ saya hanyalah apa. Memperlambat aliran darah saya sendiri, saya tak mampu. Saya juga tak berdaya mengatur detak jantung saya sendiri.

Tanpa Allah Yang Maha Kuasa, mencipta, memelihara dan menguasai jagad raya ini saya hanya siapa atau apa. Semuanya milik Dia, bertasbih kepada-Nya, bergantung kepadanya-Nya siang dan malam. Dia-lah Yang Maha Bijaksana yang segalanya, baik yang di langit maupun di bumi berada dalam genggaman-Nya. Tiada petunjuk dan pertolongan selain daripada petunjuk dan pertolongan Allah. Sebab, tiada daya dan upaya kecuali dengan kudrat dan iradat Allah Yang Maha Perkasa.

Saya pada awalnya tiada punya keinginan apa-apa, selain jadi petani yang hidup di tepi rimba belantara bersama ibu-bapa. Saya bersekolah saja pun tidak berminat, karena lebih suka hidup bagaikan alam. Namun ibu-bapa saya menyuruh saya masuk sekolah, agar pandai berhitung dan tulis-baca.

Benarlah, Tuhan menciptakan kita dan juga tindakan kita. Begitulah, lintasan hidup saya tak pernah dapat saya bayangkan. Saya meneliti kehidupan orang Melayu, bahasa, budaya dan sekaligus agamanya, dalam rentang waktu sejak 1970-an sampai 1990-an Dari kajian itu telah diterbitkan lebih dari 50 buku. Tiga di antaranya merupakan sari kajian yang bersifat teoritis atau konseptual, yakni Nilai, Suatu Kajian Awal, Kebudayaan sebagai Amanah Tuhan dan Estetika Melayu di Tengah Estetika Islam.

Saya mendapat semangat melakukan kajian ini karena menjadi semacam cara membaca dan memahami kebesaran A1lah Swt. Kemudian kajian itu saya niatkan sebagai suatu jalan berbuat kebajikan. Karena itu ada, maksud tujuan saya menulis tentang Melayu:

1. Untuk memberikan gambaran yang relatif benar tentang orang Melayu. Sebab, banyak tulisan tentang Melayu tidak dibuat dengan jujur, tetapi atas sudut pandang yang subyektif penulisnya.

2. Agar pendekatan terhadap orang Melayu oleh Pemerintah, sesuai dengan aspirasi kehidupan mereka yang berpijak kepada nilai-nilai luhur ajaran Islam. Banyak program pembangunan dari Pemerintah tidak mempertimbangkan nilai-nilai luhur orang Melayu, sehingga program itu bukan memberikan kelapangan, tetapi malah bencana.

3. Agar orang Melayu dapat membaca apa-apa yang menjadi kebaikan mereka dan apa pula yang menjadi kelemahan. Banyak zuriat generasi muda Melayu tidak memahami sepenuhnya keunggulan budi pekerti mulia yang pernah memberikan kejayaan pada masa silam. Mereka menjadi peniru yang buta dalam arus budaya dunia yang sesat.

4. Supaya para ulama mengetahui bagaimana kualitas Islam dalam kehidupan orang Melayu. Bagaimana Islam dilarutkan dalam budaya serta alam pikiran Melayu. Perjalanan dakwah Islam masih banyak meninggalkan bengkalai. Bahkan dalam beberapa segi kehidupan terjadi kemunduran, karena para pemimpin mereka lebih suka mengikuti jalan hidup demokrasi sekuler yang bersifat materialis. Perlu diperhitungkan atau dirancang suatu jalan dakwah yang mangkus, sehingga mereka benar-benar cemerlang oleh agama yang menjadi rahmat bagi segenap alam itu.

5. Agar berbagai kelemahan orang Melayu yang terbaca dalam gambaran kehidupan mereka, tidak digunakan untuk menindas mereka. Tetapi justru seyogianya dipakai untuk mencari jalan menolong mereka, asal kehidupan dapat berlaku dengan harmonis serta saling menghargai.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *