Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Sariamin Ismail dalam Horison Sastra dan Budaya Indonesia (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy
Inilah rumah yang pernah ditempati Sariamin Ismail di Pekanbaru, Riau. Semasa hidupnya, pekarangan rumah ini penuh dengan tanaman hias yang dirawat Sariamin. Kebanyakan di antaranya adalah jenis kaktus. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Sariamin Ismail dalam Horison Sastra dan Budaya Indonesia (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy

5. Kegiatan dalam Organisasi dan Politik

Suatu tujuan, akan tetap tinggal tujuan bila dibiarkan tanpa ada suatu strategi dan badan yang mau bekerja untuk mencapainya. Sariamin Ismail juga telah lama paham apa artinya suatu organisasi. Dia melihat organisasi sebagai tali pengikat bagi sejumlah potensi, sehingga dapat diperoleh suatu kekuatan yang memadai untuk mencapai suatu tujuan. Karena itu, perhatian tokoh ini juga cukup besar terhadap organisasi dan politik dalam zamannya.

Tahun 1925 semasa masih berumur 16 tahun, dia sudah memangku sekretaris Serikat Dagang Bengkulu, bahagian kaum ibu. Tahun 1927 menjadi sekretaris Serikat Kaum Ibu, Lubuk Sikaping. Tahun 1982 menjabat ketua Jong Islamiten Bond Dames Afdeling (JIBDA) di Bukittinggi.

Di samping itu telah dijabatnya pula pengurus Keputrian Indonesia Muda (KIM), Persatuan Guru Indonesia (PGI) dan sekretaris Kaum Ibu Sumatera. Setelah pindah ke Padang Panjang, tahun 1930 dia menjadi ketua Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS) cabang Padang Panjang, juga kemudian menjadi pengurus PGI Padang Panjang dan Persatuan Normaal School (PNS). Tahun 1937 diangkat menjadi Gewestelyister NPS seluruh Sumatera Barat, pengawas daerah, sampai tahun 1941.

Setelah pindah ke Payakumbuh, tahun 1939 menjadi ketua SKIS cabang Payakumbuh. Juga pengurus PGI. Dalam zaman Jepang tidak ikut dalam organisasi Jepang, seperti Hokanokai dan Fujinkai. Ini tentulah atas penilaian Sariamin, bahwa organisasi lebih banyak dikerahkan untuk tujuan-tujuan Jepang daripada untuk kemaslahatan bangsa Indonesia. Masa Jepang dia bergerak kembali dalam bidang budaya. Bersama guru-guru lainnya mereka mengadakan sandiwara dan tari.

Setelah pindah ke Riau, maka tahun 1945 dia menjadi ketua Persatuan Kaum Ibu Riau (PKIR) di Teluk Kuantan. Tahun 1949 menjadi Ketua II Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) di Pekanbaru. Tahun itu juga naik menjadi Ketua I Perwari sampai tahun 1956.

Pada tahun 1956 juga diangkat lagi menjadi ketua Yayasan Ibu Pekanbaru yang membawahi 14 organisasi. Tahun berikutnya, tahun 1957, menjadi ketua Sesi G Dewan Banteng seluruh Indonesia. Selepas itu Sariamin benar-benar merasa tua dan mencoba membatasi diri dalam organisasi yang kekeluargaan sifatnya.

Keterlibatan Sariamin dalam politik berpangkal dari keanggotaannya dalam Jong Islamieten Bond (JIB) atau Perhimpunan Pemuda Islam dan KMI. Di Padang Panjang masa itu, pemuda-pemuda selalu berbicara bagaimana hendaknya kemerdekaan yang telah diikrarkan tahun 1945 itu benar-benar menjadi kenyataan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kesadaran akan hal itu telah menyebabkan Sariamin melalui organisasi berusaha memajukan pendidikan, memperbaiki keadaan sosial. Bahkan dia sampai menjadi anggota Dewan Rakyat Riau tahun 1947 di Pekanbaru.

6. Simpul

Tulisan mengenai Sariamin dengan nama samaran Seleguri dan Selasih ini telah dibuat pada penghujung bulan April 1983. Tidak lama lagi dengan kehendak Allah Subhanahu Wata’ala tentulah tokoh ini berusia 74 tahun. Anda bayangkanlah panjangnya tahun. Anda lihat dengan mata hati betapa panjangnya nafas yang telah diucapkan. Tetapi yang lebih penting daripada itu, ialah Anda lihat apa-apa yang telah dibuat oleh Sariamin untuk pengisi usianya yang begitu rupa.

Jika dia seorang yang sombong yang tidak melihat ke langit dan tunduk ke arah kiblat dengan karyanya yang demikian rupa, dia boleh berteriak ke mana-mana, agar dunia sekitarnya mentasbihkan kembali kehebatannya. Dia boleh menderetkan segala karangannya, segala macam surat yang memberi petunjuk akan suksesnya.

Tetapi ternyata, Sariamin terhadap masyarakat, bangsa, manusia dan terhadap Tuhannya, tidak memandang kepada pujian dan sanjungan. Dalam saat-saat manusia memuja dan mengumpulkan piagam, tanda penghargaan dan tanda terima kasih untuk membesarkan diri egois yang kerdil, Sariamin membiarkan kertas-kertas macam itu pergi dan hilang sesuka hatinya. Tak sedikit pun membayangkan rasa bangga dengan cara serupa itu.

Sariamin memang telah berkarya dan berbuat, bukan hendak mengharap tanda-tanda yang formal serupa itu, meskipun dia tahu hal itu suatu cara yang dilakukan manusia untuk menghargai seseorang. Beberapa badan dan lembaga memberi penghargaan kepadanya.

Beberapa yang diingat: Persatuan Gonjong Limo Bandung (1976), Dewan Kesenian Jakarta (1976), Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU) (1981), Tim Sejarah Kota Pekanbaru (tak ingat lagi) dan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Tingkat I Riau (1982).

Dalam dunianya pada usia lanjut dewasa ini, tokoh kita membagi waktunya dengan baik. Shalat menurut waktunya, menulis pada malam hari seberapa yang dapat dilakukan, dan siang hari merawat tanaman hias di pekarangan rumahnya yang sederhana.

Ketika ditanyakan kepadanya, apakah yang masih menjadi pemikiran baginya dewasa ini, dia menjelaskan dengan nada sederhana, bagaimana hasratnya ingin memberikan sesuatu yang berharga dari sisa kemampuannya. Dia ingin sekali mendapatkan sebidang tanah dengan sebuah bangunan yang sederhana.

Pada tempat itu, dia ingin memberikan bermacam latihan dan bimbingan kepada kaum wanita yang dipandang baik, dan tetap dalam batas martabat mereka. Pengarang, dan tokoh pendidik yang organisatoris ini, dengan rela hati ingin memberikan sumbangan jiwa dan raganya, dalam berbagai hal yang masih dapat dilakukannya, sampai kepada hidup dunianya yang final.

Begitulah Anda, bagaimana seorang warga bangsa Indonesia telah mencoba melakukan segala sesuatu yang patut dilakukannya, sebagai jalan baginya untuk mengisi jalan sejarah bangsa ini. Benarlah, hidup ini bukan murah seperti telah disampaikan oleh baris pantun di bawah ini:

Seri Menanti bandar dirajo
Menuai padi tigo serangkai
Jika hidup indak bajaso
Ibarat huntang nan dak lansai

***

(Bahasa Melayu dan Kraetivitas Sastra di Riau, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *