Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Sariamin Ismail dalam Horison Sastra dan Budaya Indonesia (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Sariamin Ismail saat tampil memberikan tanggapan tentang sastra dan budaya dalam helat Sidang Sastra Pekanbaru '81. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Sariamin Ismail dalam Horison Sastra dan Budaya Indonesia (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy

‘’Saya bukan seorang yang ingin menonjolkan diri atau ditonjolkan, tetapi di akhir hidup saya ingin juga orang tahu siapa saya yang sebenarnya. Jangan ada yang menyangka, bahwa Sariamin Ismail itu hanya seorang penulis roman atau pengubah syair yang kuno, kolot dan lain sebagainya.’’ (Sariamin Ismail)

1. Dasar Pandangan

Seseorang sering dikesan dari sesuatu yang dilakukannya, yang dapat dipandang mata, atau yang dapat didengar telinga. Hal itu wajar, karena memandang dan mendengar merupakan cara yang diberikan oleh Tuhan, agar manusia dapat memulai penilaiannya.

Tetapi jika kita rela memperhatikan dengan saksama sesuatu hal demikian jauh, maka sering apa yang semula telah ditetapkan melalui pandangan mata atau pendengaran, ternyata tidak benar semuanya. Segala sesuatu yang ada pada permukaan tidak selamanya identik dengan bagian dasar yang terdalam.

Inilah yang dikejar oleh ujung tombak ucapan Sariamin Ismail di atas itu. Dia memberikan amaran, janganlah kita menilai dan memandang sesuatu secara kasar saja. Mohonlah Anda suka memperhatikan sesuatu seumpama manusia dengan pandangan yang teliti, karena nilai seorang manusia tidak lengkap hanya dengan memandang yang zahir serta sekadar mendengar bunyi cerita. Jika ingin mengetahui –apalagi menilai seorang manusia—hendaklah memperhatikannya secara utuh, jangan dalam kepingan-kepingan yang terpisah.

Kita boleh berkata, bahwa sebagian besar umat manusia telah mengatakan bahwa mereka telah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dalam pandangan mereka. Sebagian di antara mereka memang telah menikmati dalam keadaan yang maksimal, segala sesuatu yang menjadi buah perjuangan dan jerih payahnya. Sebagian hanya mendapatkan sedikit saja dari tetesan keringat dan daya upaya pikirannya. Tetapi masih ada lagi yang tidak mendapatkannya apa-apa, kecuali badai nasib pada dirinya.

Pada belahan lain, ada orang yang bekerja bukan dengan tenaga yang besar. Mereka bekerja dengan membagi perhatian dan arah, sehingga ada yang menjadi titik perhatian, dan ada pula lingkaran perhatian. Dan dengan ketetapan Tuhan Yang Maha Bijaksana, banyak pula yang mencapai sukses, bukan hanya terbatas pada titik perhatian saja, tetapi juga mendapat kemajuan yang besar dalam lingkaran perhatiannya.

Keadaan yang terakhir ini tampak berlaku pada diri dan kreativitas Sariamin Ismail. Dia tidak menjadikan kegiatan mengarang sebagai titik utama perhatian dan tujuan penting dalam hidupnya. Kegiatan mengarang baginya sebenarnya hanya sebagai lingkaran perhatian. Lingkaran itu digunakan untuk titik perhatiannya, yaitu kegiatan sosial dan budaya.

Dengan demikian, Sariamin memandang sesuatu sasaran kehidupan, bukan sebagai suatu pulau yang terpencil, yang harus direnangi dengan berjibaku. Sasaran kehidupan itu berupa serangkai nilai, setangkai ibadah yang indah, yang harus diperoleh dengan perhatian yang saksama, akan segala liku dan warnanya. Hanya dengan cara itu, kita mendapatkan apa yang disebut dengan cita-cita, dalam keadaan yang bersih, bening, suci, dan punya hikmah bagi harga dan martabat diri.

Itulah bagian-bagian penting dalam pandangan Sariamin Ismail ketika dia telah mencoba melalui dan berbuat dalam hidupnya. Itulah teras pandangan hidupnya, sehingga haluan dan arah kegiatannya telah menuju dan berakhir dengan gemilang dalam rangkaian cita-citanya. Inilah jalan pengabdiannya yang telah ditetapkannya. Yang dipandangnya benar dan bermanfaat, bukan sekadar untuk nama yang anggun di cakrawala, tetapi sebagai buah peluh yang titik pada bumi yang gersang.

Keadaan itulah yang menggoda, bagaimana Anda tidak akan saya bawa kepada gambaran yang lebih lengkap mengenai tokoh ini. Meskipun lukisan di bawah ini diberikan dalam dimensi dan kepingan, namun dalam harapan penulis, sukalah Anda memperhatikannya dalam bentuk sebuah gambar yang utuh.

2. Awal Kehidupan

Suatu yang lebih praktis dalam sejarah harus disebut 31 Juli 1909, merupakan hari kelahiran Sariamin. Pada awal kehidupan itu, Sariamin telah diberi nama Basariah oleh ayah dan bundanya. Nama itu mengandung saran arti, betapa masa depan anak ini akan merupakan sukses besar yang penuh makna.

Basariah telah memberikan tangis kehidupan yang pertama pada Desa Sinurut, Kecamatan Talu, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Ibunya yang bernama Sari Uyah dan sang ayah Laur Datuk Rajo Melintang, tentu saja menerima kelahiran anak kedua ini –dari lima bersaudara—dengan penuh kegembiraan, sebagai lambang bagi rahmat Tuhan Seru Sekalian Alam kepada mereka suami isteri.

Nama yang diberikan pada lambang pribadi yang awal itu, rupanya tidak sampai mendapatkan bentuk kepada nama timang-timangan. Betapa tidak demikian, kerana pohon kehidupan yang muda itu, tidak memperlihatkan pertumbuhan yang segar. Dia hidup dengan mengundang derita. Memandang nasib serupa itu, diduga nama yang diberikan tidak harmonis dengan jasad yang ada.

Jika demikian halnya, tentulah lebih baik dicari nama lain, yang seayun dengan pohon kehidupan yang baru tumbuh itu. Maka digantilah nama, sehingga sang anak akhirnya bernama Sariamin. Nama ini bagaimanapun juga, tetap mempunyai daya mitos yang bagus dalam pandangan keluarga. Bukankah ‘’sari’’ merupakan bagian yang terpenting dari sekuntum bunga, dan ‘’amin’’ merupakan kepercayaan yang bersih, harapan yang jauh meninggi, lurus dan jujur. (bersambung)

(Bahasa Melayu dan Kraetivitas Sastra di Riau, UU Hamidy)

Sariamin Ismail dalam Horison Sastra dan Budaya Indonesia (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *