Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Raja Ali Haji; Tokoh Bahasa Melayu, Perintis Bahasa Indonesia, Oleh: UU Hamidy

Raja Ali Haji; Tokoh Bahasa Melayu, Perintis Bahasa Indonesia, Oleh: UU Hamidy

1.      Pengantar

Peranan Raja Ali Haji dalam bidang bahasa serta budaya Melayu telah diteliti di Riau, paling kurang sejak tahun 1973. Beberapa kajian atau penelitian telah berlaku. Saya telah membicarakan tokoh ini dalam beberapa buku atau hasil penelitian. Kajian tersebut dapat disenaraikan sebagai berikut:

Pertama, Bahasa Melayu Riau dengan sub titel ‘’Sumbangan Bahasa Melayu Riau kepada Bahasa dan Bangsa Indonesia’’ terbitan BPKD Riau 1973 dan 1981. Buku ini membicarakan sejarah bahasa Melayu, sejak zaman Sriwijaya, Aceh, Melaka sampai Riau serta berakhir dengan Sumpah Pemuda 1928.

Kedua, Pengarang Melayu dalam Kerajaan Riau dan Abdullah Munsyi dalam Sastra Melayu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta 1981. Buku ini membentangkan peranan Raja Ali Haji serta pengarang Riau lainnya membina dan memelihara Bahasa Melayu. Juga ada perbandingan Raja Ali Haji dengan Abdullah Munsyi sebagai tokoh bahasa dan sastra Melayu.

Ketiga, Riau Sebagai Pusat Bahasa dan Budaya Melayu, Bumi Pustaka, Pekanbaru, cetakan pertama 1981, cetakan ke empat 2005. Buku ini menggambarkan Bahasa Melayu Riau, kegiatan Raja Ali Haji dan para pengarang Riau serta berbagai budaya Melayu lainnya.

Keempat, Naskah Kuno Daerah Riau, The Toyota Foundation, 1985. Hasil penelitian ini merekam kitab-kitab karya Raja Ali Haji serta pengarang lainnya, yang telah menjadi naskah kuno. Tercatat ada 137 naskah kuno Riau, dengan karangan Raja Ali Haji yang paling banyak.

Kelima, Bahasa Melayu dan Kreativitas Sastra di Riau, Unri Press, Pekanbaru 1994 dan 2003. Membicarakan enam macam dialek Melayu di Riau. Di antaranya dialek Melayu Riau-Lingga yang dibina Raja Ali Haji menjadi bahasa Melayu yang terbaik.

Keenam, Dari Bahasa Melayu sampai Bahasa Indonesia, Unilak Press, Pekanbaru, cetakan pertama 1995 cetakan kelima 2003. Buku ini menampilkan Bahasa Melayu sebagai ibu Bahasa Indonesia serta memperlihatkan kelebihan Bahasa Melayu Riau daripada Bahasa Indonesia.

Ketujuh, Teks dan Pengarang di Riau, Unri Press, Pekanbaru 1998 dan cetakan kedua 2005. Buku ini menyajikan karya-karya pengarang Riau serta memberi kesan Raja Ali Haji sebagai pengarang yang cemerlang.

Kedelapan, Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau, Bilik Kreatif Press, Pekanbaru, cetakan pertama 2003, cetakan ke enam 2010. Buku ini menampilkan beberapa aspek budaya Melayu, satu di antaranya Bahasa Melayu yang telah dibina dan dipelihara oleh Raja Ali haji.

Dari delapan buku atau kajian di atas, sebenarnya telah tergambar dengan panjang lebar, bagaimana penting serta begitu beharga, peranan Raja Ali Haji sebagai tokoh Bahasa Melayu serta perintis Bahasa Indonesia. Sebab itu, makalah yang sederhana ini, hanya menyajikan beberapa pokok kesimpulan, untuk memberi penegasan sekali lagi, betapa besarnya jasa Raja Ali Haji dalam bidang bahasa di Riau khususnya serta di Indonesia umumnya.

2.      Tokoh Bahasa Melayu

Raja Ali Haji adalah seorang ulama, ahli bahasa, pengarang sastra, penulis sejarah, lagi bangsawan pula. Sebagai seorang ulama, tentulah dengan kekuatan imannya yang bersandar kokoh pada akidah Islam, telah menimbulkan semangat baginya untuk memelihara bahasa. Sebab, agama Islam telah dibuka risalahnya dengan pesan membaca. Tokoh kita ini, niscaya memahami benar pesan Khalifah Ali bin Abi Talib, yang mengatakan bahwa kerusakan negeri dapat dilihat dari bahasanya. Bahasa yang tidak baik dapat merusak budi pekerti, sehingga dalam ikat gurindamnya beliau berkata, ‘’Jika hendak tahu orang yang berbangsa, lihat kepada budi bahasa’’.

Raja Ali Haji telah menulis sejumlah kitab, mungkin ada sekitar 15 buah. Karangan beliau meliputi bidang bahasa, sastra, sejarah, hukum serta agama Islam. Hampir semua karya Raja Ali Haji diwarnai oleh ajaran Islam. Pengarang ini, sebagai ulama telah mempergunakan karangannya sebagai media dakwah, dalam bingkai amar ma’ruf nahi mungkar. Pesan-pesan ajaran Islam itu amat kental sekali dalam Gurindam Dua Belas, Mukaddimah fi Intizam dan Tsamarat al Mukimmah.

Raja Ali Haji tak diragukan lagi adalah pelopor dan tokoh pembina serta pemelihara Bahasa Melayu. Dengan kitabnya Bustan al Katibin (yang dapat diterjemahkan sebagai Perkebunan atau Taman Para Penulis) tokoh kita ini telah menampilkan satu-satunya kitab tatabahasa Melayu yang terpenting, yang ditulis tahun 1859. Kitab ini memberikan dasar pelajaran bahasa Melayu, pedoman ejaan dan huruf Arab-Melayu. Inilah tatabahasa Melayu pertama dengan model tatabahasa Arab. Kitab ini dipakai pada madrasah yang berada di Riau, Singapura dan Johor. Pembahasan secara linguistik terhadap kitab ini, telah dilakukan oleh Harimurti Kridalaksana (pakar linguistik Universitas Indonesia) dengan tulisannya yang bertajuk, ‘’Pandangan Raja Ali Haji tentang Kelas Kata’’ dan satu lagi tulisannya, ‘’Bustanul Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa – Sumbangan Raja Ali Haji dalam Ilmu Bahasa Melayu’’.

Setelah Raja Ali Haji meletakkan pedoman dasar tatabahasa Melayu, beliau menulis lagi Kitab Pengetahuan Bahasa, tahun 1858. Kitab ini merupakan kamus ensiklopedi Bahasa Melayu yang pertama. Isinya tentang arti kata, tapi juga ada unsur tatabahasa bercampur dengan uraian agama.

Perhatikanlah logika urutan kegiatan Raja Ali Haji. Beliau mulai dengan menulis tatabahasa, yakni upaya untuk memberi pedoman memelihara bahasa, yang amat diperlukan oleh setiap pengarang. Setelah pedoman itu dibuat, dilanjutkan dengan kamus. Kamus juga amat diperlukan, bukan hanya oleh para penulis atau pengarang, tapi juga kalangan terpelajar lainnya. Maka, dengan tatabahasa dan kamus, bahasa dapat terbina dan terpelihara. Ini memberi bukti bahwa Raja Ali Haji memang punya kesadaran dan perhitungan serta strategi yang baik dalam membina dan memelihara Bahasa Melayu di Riau.

Jerih payah atau amal Raja Ali Haji memelihara Bahasa Melayu diteruskan lagi oleh para pengarang Riau yang bergabung dalam perkumpulan cendikiawan Riau bernama Rusydiah Klab. Raja Ali Kelana menulis kitab Bugiat al Ani fi Huruf al Ma’ani, terbit tahun 1341 (1922 M) yang membahas ilmu bunyi (fonologi) Bahasa Melayu. Di samping itu Raja haji Abdullah alias Abu Muhammad Adnan menulis pula dua kitab mengenai bahasa. Pertama tentang bentuk kata Bahasa Melayu dengan tajuk Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama yang Mudah, terbit tahun 1345 H atau 1926 M. Kemudian kitab kedua tentang kalimat dengan judul Penolong Bagi yang Menuntut akan Pengetahuan yang Patut juga terbit 1345 H atau 1926 M.

3.        Perintis Bahasa Indonesia

Peranan Raja Ali Haji membina dan memelihara Bahasa Melayu sejak tahun 1850-an telah melapangkan jalan terbentuknya Bahasa Indonesia. Perjalanan terbentuknya Bahasa Melayu hasil jerih payah Raja Ali Haji menjadi Bahasa Indonesia pada tahun 1928, telah memerlukan waktu lebih kurang 75 tahun. Perjalanan riwayat itu dapat diringkas melalui lima babak perkembangan sejarah melalui ruang dan waktu.

1. Tahun 1799 Serikat Dagang Hindia Timur (VOC) berakhir. Belanda berubah dari pedagang menjadi penjajah. Sebagai penjajah diperlukan bahasa resmi untuk menjalankan roda pemerintahan. Belanda menghadapi lima pilihan: Bahasa Belanda, bahasa daerah dan Bahasa Melayu. Ternyata pilihan pertama dan kedua tidak bisa ditempuh, terlalu besar resikonya. Tahun 1860 Gubernur Jenderal Ruchussen mengelilingi pulau Jawa, lalu mengambil kesimpulan, Bahasa Melayulah yang harus dipakai sebagai bahasa resmi dan bahasa pengantar. Maka pada tahun 1871, Belanda mengeluarkan surat keputusan (koninklijk besluit) yaitu K.B. No 104, yang memutuskan pengajaran dalam sekolah bumi putra diberikan dalam bahasa rakyat, jika tidak dapat dipakai diberikan dalam Bahasa Melayu.

2. Pada masa itu menurut Umar Junus ada tiga macam Bahasa Melayu, yakni Bahasa Melayu Pasar, Bahasa Melayu Dialek dan Bahasa Melayu Riau. Dari tiga macam itu, maka pilihan jatuh pada Bahasa Melayu Riau. Sebab inilah bahasa yang memenuhi syarat untuk dipakai bahasa resmi atau bahasa pengantaar. Umar Junus juga mengatakan Bahasa Melayu Riau terpakai sebagai bahasa resmi. Sedangkan C A Mees mengatakan bahasa resmi yang dipakai dalam penjajahan Belanda itu berpokokkan Bahasa melayu Riau. Sejalan dengan itu, H von de Well dengan Haji Ibrahim dari Riau membuat kitab bacaan huruf Arab-Melayu bernama Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu Johor tahun 1868, yang juga berarti Bahasa Melayu Riau, sebab Johor dan Riau merupakan satu kerajaan dewasa itu. Sementara itu karya-karya Raja Ali Haji seperti Syair Abdul Muluk, Gurindam Dua Belas dan Kitab Perkebunan Juru Tulis (Bustanul Katibin) diterjemahkan kedalam Bahasa Belanda, sebab sudah banyak sarjana Belanda mempelajari Bahasa Melayu Riau.

3. Snouck Hurgronje (penasehat pemerintah Belanda) dalam suratnya 28 Februari 1895 kepada Direktur Pengajaran, Ibadah dan Kerajinan, menganjurkan agar mempelajari sepenuhnya Bahasa Melaka dan Riau, sebab inilah bahasa yang beradab. Inilah barangkali yang menyebabkan Van Ophuysen untuk membuat tatabahasa Melayu yang bernama Logat Melayu telah memilih Bahasa Melayu Riau sebagai dasar kajiannya. Alasan Van Ophuysen memilih Bahasa Melayu Riau, antara lain: ada perpustakaan tertulis yang besar jumlahnya, sastra lama masih terpelihara, terpakai di istana serta surat-menyurat golongan berpendidikan serta paling sedikit mendapat pengaruh dari bahasa lain. Kitab Logat Melayu karya Van Ophuysen terbit 1901. Setelah Bahasa Melayu Riau dipakai sebagai bahasa resmi dan juga bahasa pengantar di sekolah-sekolah bumi putra, maka bahasa ini disebut juga Bahasa Melayu Tinggi. Disebut demikian, karena bahasa inilah yang lebih tinggi kualitasnya daripada bahasa Melayu pasar atau daripada bahasa Melayu dialek. Lagi pula bahasa inilah yang terpakai oleh kalangan orang yang berpendidikan, yang dipandang lebih tinggi derajatnya daripada orang kebanyakan.

4. Bahasa Melayu Tinggi yang berasal dari Bahasa Melayu Riau itu kemudian dipakai oleh kalangan pemuda yang terpelajar sebagai alat perjuangan menentang penjajahan Belanda. Mereka merasa bersatu dan bersaudara oleh bahasa ini daripada memakai Bahasa Belanda, walaupun mereka bisa memakainya. Beberapa perkumpulan pemuda seperti Yong Sumatra, Yong Islamieten, bahkan juga Budi Utomo memakai bahasa tersebut dalam setiap pertemuan mereka. Hal ini langsung mendesak pemakaian Bahasa Belanda, sehingga Politik Bahasa Kolonial yang dirancang oleh Prof Nieuwenhuis untuk melestarikan Bahasa Belanda di Indonesia, tidak berhasil.

5. Pergerakan kebangsaan di Indonesia ternyata semakin kuat dan pemakaian Bahasa Melayu tersebut. Semangat itu mencapai titik klimaks pada Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Pada Sumpah Pemuda itu disadari adanya satu bangsa, satu Tanah Air serta satu bahasa yang mempersatukan mereka. Bahasa yang mempersatukan itu ialah Bahasa Melayu Riau yang telah menjadi bahasa pengantar atau bahasa Melayu tinggi. Karena bahasa itu sudah berisi semangat kebangsaan yakni semangat Indonesia, maka dipandang perlu mengganti namanya dengan Bahasa Indonesia. Dengan demikian Bahasa Melayu Riau yang dibina dan terpelihara oleh Raja Ali Haji telah mencapai matlamat yang tertinggi dalam sejarah perkembangan dan Bahasa Indonesia perjuangannya. Bahasa Melayu Riau yang bermuara pada itu menjadi rahmat Allah Swt kepada Bangsa Indonesia, semoga menjadi amal saleh terhadap Raja Ali Haji tokoh Bahasa Melayu serta perintis Bahasa Indonesia.***

 Tulisan ini dibawakan oleh UU Hamidy pada seminar internasional di Universitas Maritim Raja Ali Haji di Tanjung Pinang, 9-10 Oktober 2009

 

 

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *