Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Rahasia Penciptaan dalam Cerpen ‘’Menjadi Kutu’’ Karangan Muhammad Amin MS, Oleh: UU Hamidy
Foto: petwave.com

Rahasia Penciptaan dalam Cerpen ‘’Menjadi Kutu’’ Karangan Muhammad Amin MS, Oleh: UU Hamidy

1. Kutu dalam Budaya Melayu

Kutu sepintas lalu hanya sejenis serangga yang sepele. Kutu bukanlah makhluk perkasa seperti binatang buas, yang harus dihadapi dengan tenaga yang kuat. Dengan memakai kuku, kita dapat menindasnya dengan mudah. Banyak orang yang tidak tahu, sebenarnya kata tindas telah berasal dari perbuatan manusia, menekan kutu dengan kukunya yang keras. Ketika kutu kena tindas oleh kuku, maka perutnya pecah, lalu mati. Dari situlah asalnya perbuatan melakukan kekerasan terhadap rakyat kecil disebut penindasan.

Sementara itu, kutu punya peranan yang unik dalam sejarah orang Melayu. Kata kutu merupakan perbendaharaan bahasa yang sangat tua dalam bahasa Melayu-Polinesia. Kata kutu adalah satu di antara sepuluh kata tua lainnya yang disebut dalam ilmu bahasa dengan istilah basic vocabulary. Dengan mempergunakan sepuluh kata tersebut, para ahli bahasa dapat mengetahui bagaimana perpindahan nenek moyang bangsa Melayu-Polinesia (Austronesia) sehingga sampai mendiami daerah Melayu Nusantara serta daerah Polinesia.

Pada masa dulu, paling kurang 100 tahun yang silam perempuan Melayu punya tradisi memelihara rambut yang panjang. Rambut panjang malah menjadi satu di antara tanda kecantikan perempuan masa itu. Tetapi rambut panjang telah memberi peluang kepada kutu membuat sarang dan berkembang biak. Sedangkan alat untuk memberantas kutu belum dijumpai.

Maka ketika ada waktu senggang, telah digunakan oleh perempuan Melayu untuk mencari kutu. Mereka duduk berjejer, yang di belakang mencari kutu perempuan yang di depan. Mereka menindas kutu dengan geram. Ditindas dengan geram, karena kutu sulit sekali diambil di antara sela-sela rambut yang halus. Apalagi telurnya. Tapi yang lebih menjengkelkan lagi ialah, karena gangguan kutu yang membuat rasa gatal-gatal, sehingga amat mengganggu ketenangan perempuan.

Begitu hebatnya gangguan kutu zaman dahulu. Akibatnya perempuan kaya yang banyak punya tanah peladangan minta carikan kutu kepada perempuan lain yang sedikit tanah ladangnya. Imbalan atau upahnya bukan uang atau barang lainnya. Upahnya adalah tanah peladangan. Itulah sebabnya dalam dunia Melayu masa dulu, adalah lumrah orang miskin jadinya punya peladangan yang lumayan luas, karena didapatnya sebagai upah mencari kutu.

2. Rahasia Penciptaan

Cerpen karangan Muhammad Amin MS dengan tajuk ‘’Menjadi Kutu’’, dimuat dalam kumpulan cerpen pilihan Riau Pos tahun 2008. Kumpulan cerpen itu bernama Pipa Air Mata, diambil dari judul cerpen M Badri. Cerpen ini menarik disimak, karena sedikit banyak telah menyingkapkan bagaimana perilaku manusia dengan tabiatnya di medan dunia yang fana ini.

Rupanya kehidupan manusia seperti dibayangkan oleh cerpen itu, tidak selamanya dikemudikan oleh akal sehatnya. Apalagi akan memperhatikan panduan iman mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Orang bisa tidak menyadari, dia hidup melalui jalan yang tidak benar. Hidup bagaikan dalam lamunan setengah sadar.

Begitulah barangkali kehidupan sang tokoh yang berlaku dalam cerpen ‘’Menjadi Kutu’’. Kegalauan tiba-tiba menerpa tokoh cerita, lalu dia terfana. ‘’Ada apa ini ? Pandanganku masih nanar dan kabur. Kukejap-kejapkan mata, kubelalakkan. Namun pandanganku tak juga lebih jelas. Hanya tampak bayangan-¬bayangan yang tak begitu jelas. Kuperhatikan sekelilingku. Jangan-jangan aku tak di alamku lagi’’.

Keberadaan sang tokoh dan alam sekitarnya semakin tak wajar. Sang tokoh merasa semakin kecil, sementara bends-benda lain semakin besar bagaikan raksasa. ‘’Aaah! Aku menjerit. Ini bukan aku. Kaki ini, kulit ini, semuanya bukan milikku yang dulu. Ukuranku juga makin kecil. Aku sudah berubah menjadi makhluk yang sama sekali tak kuinginkan. Aku telah berubah. Sudah berubah menjadi… kutu. Binatang yang hina, diumpat’’.

Lantas untuk bertahan demi hidup, orang telah melakukan spa saja, sesuai dengan keadaan dirinya serta medan kehidupan yang dihadapinya. Kutu juga demikian. Dia harus hidup mengisap darah orang. Siapa saja tak pandang bulu. Darah isteri, darah anak-anak bahkan darah ibu bapaknya. Ya, siapa saja yang darahnya dapat dihisap.

Maka, bilakah orang baru dapat sadar, bahwa jalan hidup yang ditempuhnya baik atau buruk, diridhai atau dikutuk? Pintu kesadaran bisa terbuka jika orang dapat mengetahui rahasia penciptaan dari Allah SWT. Begitulah dalam cerpen ini, sang tokoh bagaikan terbangun dari mimpinya yang panjang ketika Ustad Romli menyinggung kekuasaan Tuhan serta ciptaan-Nya. ‘’Bapak-bapak dan ibu-ibu sebenarnya sangat beruntung, karena dilahirkan sebagai manusia. Coba, kalau dulu terlahir dari sapi, tentu sekarang jadi sapi juga. Makanya syukuri tuh, sudah jadi manusia, tidak jadi sapi yang siap disembelih kapan saja’’.

Manusia dapat melihat betapa kekuasaan Allah melalui rahasia ciptaan-Nya. Tidak ada yang berubah pada penciptaan itu. Sapi diciptakan, tetap akan jadi sapi sampai hari kiamat. Begitu pula manusia, akan tetap jadi manusia sampai kiamat. Sapi tidak akan menjadi manusia dan manusia tidak akan menjadi sapi. Dan manusia adalah sebaik-baik bentuk yang diciptakan Allah.

Kata-kata Ustad Romli yang mengutip Surah At-Tin bahwa manusia diciptakan sebaik-baik bentuk (ingat, bukan sebaik-baik sifat) akhirnya membuka hijab sang tokoh untuk mengenal dirinya yang sebenarnya. ‘’Ayat itu seolah ditujukan kepadaku. Aku, yang dulu mulia, dihormati, disanjung dengan gelar akademis gagah den elok rupa, tiba-tiba berubah menjadi kutu. Makhluk yang dihina lagi menjijikkan. Mungkin ini takdir. Namun juga mungkin hukuman dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha berkehendak. Siapa yang kuasa menolak? Tak terasa air mataku menetes’’.

3. Harga Diri

Gambaran yang terbentang dalam cerpen ‘’Menjadi Kutu’’ dapat disimpulkan bahwa tema cerita sebenarnya bicara tentang harga diri manusia. Manusia harus punya harga diri, bukan pertama-tama harga diri di mata manusia, yang dapat dibeli bahkan dipermainkan, seperti yang dilakukan oleh para politisi busuk serta manusia sekuler yang munafik. Tetapi harga diri di hadapan Allah. Itulah harga diri yang sejati.

Maka, pertama-tama manusia harus sadar, dia adalah hamba Allah, yang semata¬-mata diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya, tidak menuhankan manusia apalagi benda lainnya. Itulah sebabnya manusia diciptakan sebaik-baik makhluk, agar punya kemampuan yang memadai untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi. Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Rahasia penciptaan ini benar-benar harus direnungkan oleh manusia, agar tidak terperangkap tipu daya setan serta bunga-bunga kehidupan dunia yang melalaikan. Sebab kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di akhirat di sisi Allah rabbul alamin.

Manusia jangan hidup dengan sifat seperti kutu, yang akan mencemarkan harga dirinya. Cerpen ini telah membidas, betapa banyaknya orang yang telah menjadi aktor kehidupan bagaikan kutu. Sebagai seekor kutu, memang terkesan kerugian materi (bendewi) tidak seberapa. Tetapi bayangkan jika begitu banyak dan begitu lama manusia ‘’menjadi’’ kutu, berapa ribu liter darah darah manusia yang dihisapnya sepanjang waktu.

Sifat dan perilaku sebagai kutu, berlaku di mana-mana serta meliputi seluruh lapisan masyarakat. Baik para pejabat yang menyebut dirinya pemimpin maupun orang kebanyakan, orang kaya maupun orang miskin. Orang biasa (kebanyakan) betapa banyak yang hidup menumpang pada orang lain, bagaikan kutu, tanpa sadar orang yang ditumpanginya tidak hanya menderita tapi juga telah benci kepadanya. Para pejabat yang telah dipilih dengan menghamburkan uang, betapa banyak merampas hak rakyat. Kekayaan negeri ini semestinya dinikmati bersama, tapi nyatanya hanya dihisap oleh kutu negara dan orang kaya pemilik modal.

Orang kaya juga banyak menjadi kutu. Pertama, dia memang jadi kaya karena menghisap milik atau hak orang lain dengan tidak halal. Kedua, dia menghisap lagi sedekah dan zakat, yang semestinya dia berikan kepada fakir miskin. Juga tidak terhindar, orang miskin juga dapat memainkan peranan sebagai kutu. Caranya juga bermacam-macam. Di antaranya, mereka memang lebih suka memelihara kemiskinan, dengan cara lebih suka menjadi pengemis daripada hidup dengan jerih payah sendiri. Sedangkan preman dan orang bagak, tidak lagi tampil seperti kutu, tapi malah menjadi tabuhan dengan sengat yang berbisa.

Sekali lagi memang Maha Benarlah Allah melalui firman-Nya dalam Alquran Suci, bahwa manusia akan melalui jalan hidupnya masing-masing. Dan Allah-lah yang Maha Tahu, siapa jalan hidupnya yang benar.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *