Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Puasa dan Orang Bagak, Oleh: UU Hamidy
Silat Melayu. Foto: flickr.com

Puasa dan Orang Bagak, Oleh: UU Hamidy

Banyak orang memandang silat hanyalah semacam olah raga bela diri, tidak punya nilai ruhani yang memadai. Anggapan itu tidak berlaku dalam dunia Melayu di Riau. Silat pada awalnya bukanlah dirancang oleh seorang ahli bela diri atau olah raga, tapi ditaja oleh ulama. Silat dirancang oleh ulama Melayu di Riau sebagai alat islamisasi terhadap orang bagak, yakni orang yang menghandalkan ilmu sihir serta kekuatan tubuh. Dengan menampilkan budaya silat maka budaya syirik dapat digeser kepada budaya tauhid.

Pada awal kehadiran Islam, dunia Melayu karut oleh budaya animisme sehingga alam pikiran berada dalam gelap gulita. Medan hidup dihadapi dengan kepercayaan dan kekuatan makhluk halus sehingga timbullah ilmu sihir yang amat bertentangan dengan akidah Islam. Orang bagak dengan ilmu sihirnya sering berbuat zalim demi kepentingan hidup dan hawa nafsunya. Mereka dalam bulan puasa bukan pergi ke surau dan masjid, tetapi mondar-mandir sepanjang kampung dengan kelakuan jahat.

Menghadapi kenyataan ini ulama Melayu merancang permainan silat. Dengan silat orang jadi pendekar, tidak dapat dicederai dengan senjata apapun juga. Dia terhindar dari berbagai malapetaka karena bersandar pada perlindungan Allah. Dia mempercayai sepenuhnya, hanya Allah sajalah yang dapat mendatangkan petaka maupun keberuntungan, bukan manusia apalagi makhluk halus. Inilah dasar akidah yang ditanamkan kepada anak (murid) silat.

Melihat kenyataan para pendekar yang tidak dapat dikalahkan oleh orang bagak dengan sihirnya, maka orang bagak ini tersentak jadi sadar. Mereka paham bahwa kekuatan makhluk halus yang mereka andalkan dalam sihir, rupanya tidak berdaya sedikitpun juga menghadapi kekuatan dan kehendak Allah Yang Maha Gagah lagi Maha Perkasa.

Dengan diadakannya kegiatan silat pada malam bulan puasa, maka orang bagak ini mula-mula hanya jadi penonton. Tapi akhirnya mereka tertarik sehingga bersedia menjadi murid. Setelah mereka masuk silat, langkah-langkah islamisasi segera dimulai oleh guru silat yang sebenarnya juga seorang alim.

Hatta, rangkaian pencerahan iman dan pendalaman tauhid berjalan melalui lambang-lambang dalam kegiatan persilatan. Semua murid yang akan jadi anak silat, lebih dahulu harus meracik limau. Kemudian mereka mandi dengan air limau itu sebagai tanda mereka bersuci untuk menghadap kepada Allah Yang Maha Suci. Kemudian dimulailah bersilat. Diawali lebih dahulu dengan duduk di tanah seperti duduk di antara dua sujud, menghadap kiblat seraya berdoa kepada Allah minta selamat dunia akhirat.

Gerak silat mulai dengan langkah empat. Empat melambangkan jumlah malaikat yang melaksanakan perintah Allah, di samping juga empat orang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang menjadi khalifahnya. Langkah pertama dengan kaki kanan adalah langkah Jibril (pembawa wahyu) diikuti dengan telunjuk ke atas sebagai tanda keesaan Allah di samping tanda sebagai pedang Jibril.

Langkah kedua kaki kiri sebagai lambang langkah Mikail (pengatur rezki serta cuaca). Langkah ketiga kembali kaki kanan, yakni langkah Israfil (peniup sangkakala). Terakhir langkah ke empat dengan kaki kiri sebagai langkah Israil (pencabut nyawa) diikuti dengan telunjuk turun sebagai tanda tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Langkah keempat dengan perlambangannya itu telah memberi petunjuk dengan mudah lagi sederhana kepada orang bagak, betapa sebenarnya jagad raya ini berada dalam genggaman Allah sebagaimana Arasy-Nya meliputi bumi dan langit. Maka diharapkan akan timbul kesadaran betapa kecilnya manusia di hadapan Allah serta betapa tidak ada daya dan kekuatannya.

Sementara segala kekuatan dan iradat hanya dari Allah karena semua urusan akan kembali pula kepada-Nya. Dengan demikian buat apa memakai sihir yang hanya tipu daya syetan. Lebih baik menghandalkan silat yang bersandar kepada pertolongan Allah. Maka dikuncilah permainan silat dengan rangkai kata:

pendekar di dunia, terhindar dari malapetaka fitnah dunia
pendekar di akhirat, terlepas dari pada azab kubur.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *