Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Potret Dunia dalam Rarak Melayu Rantau Kuantan (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy
Kaum lelaki Rantau Kuantan memainkan rarak untuk menyambut mempelai dalam sebuah majelis nikah kawin. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Potret Dunia dalam Rarak Melayu Rantau Kuantan (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

3. Potret Dunia

Rarak digugua di balai nan godang
nan batiang tore jilatang
basondi garoman gaja
baporan si akar lundang
batabua si puluik-puluik
bagondang siliguri
bagotang jo jangek tumo
digugua jen ikuar moncik

(Rarak dimainkan di balai nan besar
yang bertiang teras jelatang
bersendi geraham gajah
berperan akar lundang
bertabuh si pulut-pulut
bergendang seleguri
bergetang dengan jangat tuma
dimainkan dengan ekor tikus
)

Balai nan godang adalah lambang daripada kehidupan dunia ini. Lantas bagaimana tabiat kehidupan dunia ini? Lukisan kehidupan dunia itu dapat dilihat dari apa-apa yang dimiliki oleh balai nan godang tadi. Dunia yang dilambangkan oleh balai nan godang batiang tore jilatang (bertiang teras jelatang).

Maknanya, dunia ini didukung oleh sifat-sifat ambisi, nafsu yang tak kunjung reda, keinginan yang tiada batas. Dengan sifatnya yang demikian maka dunia selalu menggelisahkan. Dunia bagaikan jelatang yang mengandung miang. Tidaklah dikatakan dunia jika tidak merisaukan.

Dunia atau balai nan godang basondi garoman gaja (bersendikan geraham gajah) itu memberi arti dunia ini menuntut kekerasan dan kekuatan. Etongan dunio du kore (hitungan dunia itu keras), kata orang Rantau Kuantan. Hampir semua orang bersedia mati untuk kepentingan dunia. Oleh ambisi duniawi, orang menghadang manusia yang lain. Manusia yang lemah menjadi mangsa oleh manusia yang kuat dan kejam atau tersingkir dan kelaparan oleh manusia yang serakah.

Kehidupan dunia terjalin satu dengan yang lain. Selalu ada dua pihak: yang satu ditinggikan, yang di sebelahnya direndahkan, sepihak diinjak sedangkan yang sepihak lagi disanjung-sanjung, yang buruk hendak mendekati yang baik, yang baik menjauhi yang buruk, atau sebaliknya. Yang miskin memerlukan yang kaya, yang bodoh memerlukan yang pandai. Keadaan itu dilambangkan dalam kata adat pusaka baporan si akar lundang.

Poran (peran) adalah bagian rumah yang mempertemukan (memisahkan) bagian rumah yang sebelah bawah dengan bagian atas. Peran membatasi atau memisahkan, tetapi juga menghubungkan antara bagian atap dengan bagian dinding. Tetapi pembatas atau penghubung dua bagian itu ternyata tidak kuat, sebab hanya berupa si akar lundang.

Akar lundang adalah sejenis akar yang amat rapuh, lemah dan mudah putus. Jadi, kalau dunia digambarkan berperan si akar lundang, maka berbagai hubungan yang tampak di dunia ini sesungguhnya amat rapuh sekali, sehingga mudah putus sewaktu-waktu. Cobalah perhatikan, jangankan hubungan dengan sesama kawan yang mudah putus, bahkan anak dengan ibu bapak mau memutuskan hubungan. Anggota satu kerabat, seibu sebapak, sering bertengkar sampai bermusuhan, sehingga hubungan mereka jadi rusak binasa.

Itulah peran dunia, peran yang rapuh. Demikian pula batas baik dan buruk, tidaklah tegas. Seseorang yang semula miskin, dengan tidak disangka-sangka menjadi kaya raya. Seorang yang tinggi dan disanjung, dengan tiada terduga menjadi rendah dan hina. Batas dunia memang tidak ada yang abadi.

Tabua sama artinya dengan tabuh. Kiasan untuk bunyi, suara dan perkataan. Puluik-puluik adalah sejenis belukar yang buahnya amat mudah melekat kepada apa saja yang menyentuhnya. Kata puluik-puluik itu memberi saran bunyi kepada muluik (mulut). Dengan demikian rangkai kata batabua si puluik-puiuik memberi petunjuk: dunia ini penuh dengan berbagai ucapan, percakapan, bual dan gunjingan.

Sebab inilah yang paling mudah dikeluarkan dari mulut. Ucapan kita itulah yang akan melekat atau singgah kepada orang lain, sebab ucapan itulah yang akan diperhatikan orang. Karena itu, siapa yang ingin mendapat keselamatan hendaklah menjaga mulutnya. Menjaga ucapannya. Menjaga perkataannya. Perkataan yang keluar dari mulut dapat lebih manis dari madu, tapi dapat pula lebih berbisa daripada ular yang paling bisa.

Maka untuk mendapatkan keselamatan itu berpesanlah orang tua-tua masa dulu bakato paliaroan lida, bajalan paliaroan kaki, mandongar paliaroan talingo, mamandang paliaroan mato, mamogang paliroan tangan. Sagalonyo itu sampai kapado utak jantuang kito, jangan sampai ta iktikad kapado kajahatan (berkata peliharakan lidah, berjalan peliharakan kaki, mendengar peliharakan telinga, memandang peliharakan mata, memegang peliharakan tangan. Segalanya itu sampai kepada otak jantung kita, jangan sampai teritikad kepada kejahatan)

Balai nan godang sebagai lambang dunia penuh dengan berbagai cerita, kisah dan perbualan. Dunia memang telah menghiasi dirinya dengan pergunjingan. Dunia selalu berbunyi, bagaikan gendang yang tak dapat diterka maknanya. Oleh bunyi gendang dunia kita bisa terlena. Lupa kepada apa saja. Lupa kepada hakikat hidup. Untuk apa hidup dan ke mana hidup itu akan berakhir.

Oleh cerita dan pergunjingan dunia kita merasa kena duri, tertikam dan tertusuk perasaan. Tikaman atau tusukan itu datang tanpa kita sadari, bagaikan tusukan duri seleguri. Perhatikanlah seleguri di tengah padang. Dengan durinya yang tajam, setiap saat selalu siaga menusuk telapak kaki kita. Begitulah pergunjingan dunia, tiap kita lewat atau bersentuhan, kita akan segera kena ‘tikam’.

Dunia mengumandangkan bunyi yang aneh-aneh. Yang sulit dipahami, kecuali oleh orang yang mampu memelihara dirinya. Oleh sebab itu adat dan resam mengajarkan supaya sepanjang hayat kita. Hendaklah kita memelihara batang tubuh, pikiran dan indera yang lima.

Kalau ingin mulia di dunia carilah ilmu dunia; kalau ingin mulia di akhirat carilah ilmu akhirat. Kalau ingin keduanya, carilah ilmu dunia dan akhirat. Itulah pesan junjungan kita Muhammad Rasulullah, yang kemudian terpateri dalam rangkai kata: adat jo pisoko kojoon nan surua ontian nan toga (adat dan pusaka dikerjakan yang disuruh hentikan yang ditegah).

Selanjutnya menurut rangkai kata adat di Rantau Kuantan, rarak yang digugua di balai nan godang itu, gendangnya bagotang jo jangek tumo. Gendang biasanya digotang (ditutupi) dengan kulit kerbau atau sapi. Tetapi gendang yang dipukul atau dibunyikan di atas dunia bukanlah seperti gendang yang biasa. Gendangnya digotang dengan jangek (kulit) tuma.

Tumo (tuma) adalah sejenis kutu atau hama binatang yang amat kecil (hanya sebesar tungau) yang biasanya tinggal di pakaian kita. Lantas, mungkinkah kulitnya dapat ditempelkan (digotangkan) pada gendang? Tampaknya mustahil. Karena itu rangkai kata adat itu memberi saran arti, betapa banyaknya kejadian yang ujud di dunia ini tak masuk akal.

Dunia pada awalnya hendak kita kendalikan sesuai dengan keinginan kita, namun dunia membuat jalannya sendiri. Dunia hendak kita kemudikan dengan pikiran rasional yang matematis. Namun dunia penuh dengan ketidakpastian. Dunia ini irrasional.

Rarak digugua di balai nan godang. Rarak dibunyikan di balai nan besar. Mengapa dibunyikan di sana? Rarak dibunyikan di balai nan godang, pertama-tama bukanlah untuk memberikan hiburan, meskipun dengan keindahan rarak kita dengan sendirinya akan terhibur. Rarak pada hakikatnya dibunyikan untuk memberi peluang kepada pendengarnya agar dapat mengaji dan memikirkan dirinya. Itulah makna rarak yang azali. Rarak itu artinya menghitung-hitung diri.

Dengan mendengar rarak orang diharapkan akan merenungkan dirinya dalam realitas kehidupan ini. Renungan itu harus berawal dari pangkal kehidupan kita sampai ajal tiba. Renungan itu seyogianya memperhatikan awal dunia dan kesudahannya. Kelak gendang dunia itu akan digugua jen ikuar moncik (dibunyikan dengan ekor tikus). Rarak dunia itu kesudahannya bukan lagi manusia (makhluk yang berakal budi) yang membunyikannya. Tetapi adalah ‘tikus-tikus’ dengan mempergunakan ekornya.

Ini memberi tamsil, bahwa dunia akhirnya akan dikendalikan oleh manusia-manusia yang bersifat seperti tikus. Manusia pencuri, perampok, tak tahu aib, kotor dan busuk. Manusia serupa itu tidak berbuat atas pertimbangan pikiran dan budi nuraninya, tetapi atas petunjuk nafsunya yang licik.

Bila tiba masa serupa itu, maka dunia akan segera mengakhiri riwayatnya. Ekor tikus adalah ekor yang paling kecil. Itulah lambang akhir hayat kita. Tapi juga sekaligus merupakan lambang sirnanya dunia. Sebab pada hakikatnya tiap meninggal seorang anak manusia, habis pulalah satu riwayat dunia.

Karena rarak mempunyai makna yang hakiki, maka lagu rarak gondang godang mempunyai kandungan makna yang cemerlang pula. Tiap lagu telah digubah begitu rupa atas landasan adat yang bertumpu pada ruh agama. Semua memancarkan nilai-nilai filosofis amat dalam. (bersambung)

Potret Dunia dalam Rarak Melayu Rantau Kuantan (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *