Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Potret Dunia dalam Rarak Melayu Rantau Kuantan (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Para perempuan Rantau Kuantan sedang belajar bagaimana cara memainkan rarak. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Potret Dunia dalam Rarak Melayu Rantau Kuantan (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy

1. Tipologi Puak Melayu

Piwua pilin urang Minang
Kore orang urang Kampar
Labo kek poruik di Kuantan
Budi bahaso di Malako

Bidal di atas memberi gambaran ada empat (4) tipologi orang Melayu dalam pandangan puak Melayu Rantau Kuantan. Pertama, penampilan puak Melayu Minangkabau yang cerdik, dari cogan kata piwua pilin urang Minang. Begitu cerdiknya puak Melayu Minangkabau, diputar ke kanan (piwua), kemudian diputar ke kiri (pilin), kemudian dengan mudah dapat diambil.

Bagaikan mengambil buah kelapa dari tandannya, jangan diambil dengan kasar yang memerlukan tenaga yang kuat. Ambillah kelapa itu dengan memutar kelapa; kalau tidak dapat ke kanan, putar ke kiri. Arai kelapa akan genting oleh putaran, sehingga kelapa dengan mudah lepas dari tandannya.

Kecerdikan puak Melayu Minangkabau dengan mudah terbaca lagi dalam ungkapan mereka: takuruang nak di luar, taimpik nak di ate (kalau terkurung mau di luar, kalau terhimpit mau di atas). Mereka terkurung hanya karena tidak dapat masuk, misalnya ke dalam rumah. Dengan demikian, tidak teraniaya, sebab bisa pergi ke tempat lain. Coba kalau terkurung di dalam, tentu tidak dapat ke mana-mana.

Begitu pula jika terhimpit. Mereka bukan terhimpit di tengah atau paling bawah, yang tentu akan tersiksa menahan berat dari atas. Dengan terhimpit di atas, mereka hanya sedikit menanggung beban, bahkan bisa tidak menahan beban sama sekali.

Kore orang urang Kampar (keras erang orang Kampar) menandai penampilannya yang kritis. Kita akan cukup sulit menghadapi puak Melayu Kampar. Tidak mudah mereka menerima pendapat kita, sebelum mereka memberikan hujjah atau bantahan yang sengit. Mulut mereka akan membantah pendapat kita bagaikan mulut orang sakit yang selalu mengerang. Jangan coba-coba menghadapi puak Melayu Kampar kalau tidak punya bekal ilmu pengetahuan yang memadai serta teknik argumentasi yang handal.

Labo kek poruik di Kuantan (laba pada perut di Kuantan) yang membidas penampilan hidup puak Melayu Rantau Kuantan yang lebih mengutamakan makan-minum di atas segala keperluan yang lain. Jika puak Melayu Rantau Kuantan mendapat semacam laba atau keuntungan, maka laba itu akan digunakan lebih dahulu untuk keperluan minum-makan.

Tipe mereka makin jelas lagi dalam bidal: makan jangan diagak, salero jangan dipaturuikkan (makan jangan diagak atau dibatasi, tapi selera jangan diperturutkan). Jadi kalau makan, hendaklah sampai kenyang. Makan jangan diagak atau dikurangi. Namun selera jangan diikuti (diturut). Makanlah sampai kenyang, agar tenaga kuat, tapi kalau selera diikuti niscaya akan celaka. Di Rantau Kuantan, rumah saudara perempuan disebut juga periuk nasi. Maksudnya, apabila kita merasa lapar, kita dapat dengan mudah minta makan ke rumah saudara kita yang perempuan itu.

Budi bahaso di Malako (budi bahasa di Melaka) adalah rangkai kata yang memberi petunjuk betapa indahnya budi dan bahasa pada puak Melayu di Selat Melaka, yang meliputi Kepulauan Riau dan Semenanjung Melaka. Di sinilah Bahasa Melayu dipelihara serta dirawat oleh pengarang dan ulama dengan pena dan tinta Al Quran, sehingga bahasa itu mengalun dengan lemah gemelai membawakan budi pekerti yang mulia. Bahasa Melayu itu diberi ruh dan semangat Islam, sehingga terpancar melalui budi pekerti yang luhur. Itulah sebabnya Raja Ali Haji, ulama lagi pengarang yang piawai sampai membuat ikat gurindam:

Jika hendak tahu orang yang berbangsa
Lihat kepada budi bahasa

2. Rarak Melayu Rantau Kuantan

Rantau Kuantan adalah daerah aliran Batang Kuantan, yang sekarang termasuk Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Orang Melayu menyebut sungai itu dengan kata ‘’batang‘’, karena sungai itu memang bisa kelihatan bagaikan batang kayu, yang di hulu (di atas) punya cabang dan ranting yakni anak sungai, sedangkan di hilir (di bawah) semakin besar sampai ke muara bertemu dengan lautan. Begitulah, mereka menyebut Batang Hari di Jambi, Batang Kampar di Kampar, Batang Kuantan di Rantau Kuantan serta beberapa batang atau sungai lainnya.

Rarak adalah seperangkat alat bunyi-bunyian yang terdiri dari gong, gendang dan celempong. Karena itu kata ‘’diarak‘’ dalam Bahasa Melayu atau Indonesia artinya diiringi dengan rarak atau alat bunyi-bunyian. Gong, gendang dan celempong di samping sebagai nama alat bunyi-bunyian, juga telah diberi tamsil oleh puak Melayu Rantau Kuantan.

Demikianlah, oguang (gong) dipandang sebagai kiasan kepada orang yang besar bicara, pongah dan memandang diri serba lebih. Orang serupa ini hendaklah ditekan dengan adat, agar berkurang bualnya yang besar itu seraya merasakan dirinya setaraf dengan orang lain. Tekanan atau peringatan adat itu dilambangkan dengan gong yang dipegang erat-erat ketika membunyikannya.

Gondang atau gendang yang dua buah adalah lambang daripada orang yang engkar tongkar (pembangkang). Keduanya sama-sama kosong, tidak ada isinya, tak ada apa-apa di dalamnya. Orang yang engkar dan tongkar harus diawasi dan dibatasi dengan adat. Hanya dengan ikatan adat (berbagai peraturan) orang yang engkar dan pembangkang dapat diarahkan kepada kebaikan.

Hal ini dilambangkan dengan gendang tersebut yang diikat dengan rotan erat-erat. Jika gendang itu tidak diikat erat-erat, gendang itu tak ada gunanya. Demikian pula orang yang engkar dan tongkar, jika tidak dikendalikan dengan adat (peraturan), mereka akan menjadi sampah masyarakat atau orang yang tak berguna.

Orang yang engkar dan pongah memang harus diberi batas dan pengarahan. Batas atau pagar itu ialah adat yang berisi berbagai ketentuan, agar tindakan manusia tidak melampaui batas. Tetapi sudah cukupkah sekedar pagar adat itu? Adat yang mencoba membatasi berbagai tingkahlaku manusia dari berbagai kecurangan, tidak mempunyai kekuatan yang memadai, selama ruh warganya tidak dibersihkan serta disinari dengan cahaya iman.

Pemberian cahaya itu tidak dapat dipenuhi oleh adat hasil rancangan leluhur. Sebab adat sebagai karya budaya manusia tetaplah mempunyai cacat dan kelemahan, sehingga nilai-nilainya tetaplah terbatas. Masih ada nilai yang lebih hakiki, lebih mulia dan agung, melampaui nilai adat buatan manusia. Dalam hal nilai yang agung itulah munculnya hakikat makna calempong yang lima itu. Calempong yang lima adalah lambang agama Islam. Itulah rukun Islam yang lima.

Rarak tidak akan bisa berlangsung jika tidak ada calempong yang lima. Rarak tidak akan enak didengar jika tidak ada bunyi calempong yang menjalinnya. Sebab, calempong merupakan tajuk mahkota keindahan rarak. Celemponglah yang mampu menembus suasana batin manusia, dengan bunyinya yang indah. Calemponglah yang mampu menjalin bunyi rarak menjadi harmonis dalam alunan bunyi yang menawan.

Hal itu memberi petunjuk, kehidupan tidak akan indah dan sempurna jika tidak dilengkapi dengan nilai-nilai agama. Kehidupan dunia pada hakikatnya fatamorgana belaka, sebab sebenarnya segalanya akan musnah. Berpegang kepada dunia sama dengan berpegang kepada jaring laba-laba. Sungguh sangat sia-sia.

Dunia baru mempunyai makna bila diarahkan pada pengabdian kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Kepada Tuhan itulah harus terarah segala perbuatan. Kepada Yang Maha Rahman itulah harus tertuju kerinduan yang sejati. Sebab kita ingin kembali kepada-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai, agar dapat bertemu dengan-Nya sebagai punca dari segala kebahagiaan. (bersambung)

Potret Dunia dalam Rarak Melayu Rantau Kuantan (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *