Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Pinjaman Bukan Milik, Oleh: UU Hamidy
Foto: unsplash.com

Pinjaman Bukan Milik, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana telah menciptakan langit dan bumi serta seisinya, sebagai bukti Dia-lah sebenarnya Rabb Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta dan Maha Pengatur atas segala sesuatu di jagad raya ini. Alam semesta ini adalah bukti yang benar tentang keberadaan dan kekuasaan Allah.

Manusia seyogianya menerima dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang wajib diibadahi. Kemudian menerima pula dengan ikhlas Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai rasul pembimbing umat manusia serta menerima pula dengan akal sehat Al-Quran menjadi undang-undang pengatur dan pedoman kehidupan umat manusia.

Karena itu, bacalah Al-Quran dengan nama Tuhanmu Yang Maha Mulia. Yang telah mengajar manusia menulis dengan pena, yang mengajar manusia dari apa yang tidak dia ketahui. Manusia harus berkata kepada Allah dan Rasul-Nya, ‘’kami dengar dan kami patuh’’. Manusia harus takut kepada llah serta taat kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang telah menyampaikan Al-Quran dengan kata dan perbuatannya agar manusia terpelihara lahir dan batin dalam kehidupannya.

Kenyataannya, Iblis telah berjaya menyesatkan anak cucu Adam sebagaimana dia bersumpah kepada Allah setelah dia terkutuk karena membangkang kepada Allah, tak mau memberi hormat kepada Adam. Iblis dengan anak buahnya setan telah memperalat akal dan nafsu manusia agar lalai terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Setan membuat manusia agar memuja akalnya, sehingga lebih percaya kepada pikirannya daripada wahyu Allah dan petunjuk Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. Setelah manusia menuhankan akalnya, maka akalnya itu diperkuda oleh hawa nafsunya. Inilah pangkal bala yang menimpa manusia, sehingga hanya sedikit manusia yang beriman dan bersyukur.

Lihatlah kenyataan keberhasilan setan musuh yang nyata itu menyesatkan manusia di muka bumi. Manusia di muka bumi mayoritas tidak mau menerima agama Islam sebagai agama yang benar di sisi Allah. Karena itu mayoritas umat manusia tidak mau diatur kehidupannya oleh Syariah Islam.

Kebanyakan negara di muka bumi mengatur rakyatnya dengan demokrasi sekuler, yakni aturan yang dibuat manusia atas dasar suara terbanyak. Maka dengan demokrasi manusia membuat aturan untuk dirinya sendiri, bukan aturan dari Allah yang Maha Bijaksana yang telah menciptakan manusia itu sendiri. Inilah kesesatan umat manusia yang paling membahayakan dirinya, sehingga telah mendatangkan bencana kepada manusia sepanjang masa.

Lihatlah akibat paham demokrasi terhadap pandangan hidup dan tingkahlaku manusia. Apabila manusia itu telah punya kekuasaan, harta serta ilmu pengetahuan dan teknologi, maka dia merasa dirinya serba cukup. Dia membanggakan dirinya sebagai penguasa bagaikan Firaun, membanggakan hartanya bagaikan Qarun.

Sementara sebelum berkuasa, maka kekuasaan akan diperebutkan dalam pemilihan umum demokrasi dengan berbagai cara sampai kepada jalan yang curang serta tipu daya yang licik. Begitu pula untuk mendapatkan kekayaan, akan dilakukan apa saja asal mendapatkan uang. Akibatnya, perbuatan manusia dalam alam demokrasi telah merusak alam lebih dahsyat lagi daripada kuman penyakit yang menggerogoti tubuh manusia.

Demikianlah apa yang terjadi pada umat manusia setelah insan ini tidak mau memperhatikan dan menerima Al-Quran dan as-Sunnah, mereka lupa siapa diri mereka sebenarnya. Bukan milik Allah yang Maha Kaya yang mereka terima sebagai kurnia dari Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Karena itu, kekuasaan, harta dan iptek tersebut hanya digunakan untuk memuaskan hawa nafsu yang rendah yang mendatangkan bencana karena tidak dipakai di jalan Allah berbuat amal dan kebajikan.

Manusia yang membangkang terhadap Syariah Islam itu tak sadar bahwa kekuasaan, kekayaan serta ilmu pengetahuan dan teknologi itu adalah milik Allah. Manusia yang engkar lagi sombong itu tak sadar bahwa kekuasaannya akan berakhir. Harta yang dia pakai akan lapuk, yang dimakan akan jadi najis, sedangkan sisanya yang tinggal akan dipergunakan oleh manusia yang masih hidup.

Hanya kekuasaan yang dipakai dalam bingkai Syariah Islam yang akan jadi amal saleh. Hanya harta yang dipakai di jalan Allah yang akan mendapat balasan yang baik. Dan hanya ilmu yang bersandar kepada Al-Quran dan as-Sunnah yang akan menjadi kebajikan yang tiada putus.

Hanya inilah sebenarnya yang dapat dia harapkan untuk menghadap Allah yang Maha Perkasa dengan hati yang bersih. Selebihnya di dunia, kekuasaan, harta serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang hanya digunakan untuk kepentingan hawa nafsu, hanyalah pinjaman dari Allah yang telah dia gunakan. Jadi nyatalah betapa bodohnya manusia itu jika tidak mau hidupnya diatur oleh Syariah Islam yang turun dari Allah yang Maha Bijaksana kepada Junjungan Alam Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, untuk menjadi rahmat bagi segenap alam.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *