Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Pertarungan Hidup dalam Cerita Kancil, Oleh: UU Hamidy
Foto: wikipedia.org

Pertarungan Hidup dalam Cerita Kancil, Oleh: UU Hamidy

Sungguh menarik bagaimana pertarungan hidup dalam cerita kancil. Pertarungan hidup itu terkesan menarik, bukan karena penampilan yang garang, bengis dan sadis dalam rangkaian peristiwa cerita. Tetapi oleh cara cerita menyajikan pertarungan itu, dalam suasana hidup yang sederhana yang kadangkala membangkitkan kesan jenaka. Cerita memberi kesan bahwa menyampaikan suatu pesan bahkan juga ajaran, terasa lebih sampai dan menggugah, ketika teknik yang dipakai tidak berupa kata-kata verbal yang hambar, tapi lewat rangkaian kata yang hidup, karena bermuatan ibarat, perlambangan dan kiasan.

Karena itu Maha Benarlah Allah, yang telah mengajari manusia menulis dengan pena. Sedangkan tulisan itu menyisipkan anyaman hati manusia dalam perbendaharaan hidup itu sendiri. Bahkan Allah sekali lagi meneguhkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 26 bahwa Allah tidak malu membuat perumpamaan apa saja (misalnya) nyamuk atau yang lebih kecil dari itu.

Menyampaikan pesan, ajaran dan petunjuk dengan memaknai perumpamaan memang lebih aman daripada bahasa sehari-hari yang sering terkikis oleh keadaan ruang dan waktu. Tidak demikian halnya dengan rangkaian kata yang mendukung perumpamaan. Meskipun terkesan lentur, tetapi kelenturannya itulah yang menjadi daya tahannya. Bagaikan pohon kecil bertahan di tengah arus yang deras, sementara pohon-pohon besar telah tumbang.

Cerita kancil mempunyai rangkaian dan versi cerita yang cukup banyak. Sampai saat ini belum ada upaya menghitung dengan seksama, berapa jumlah cerita kancil, baik jenis maupun versinya. Tapi di Riau ada sejumlah cerita kancil yang cukup menarik, yang jika disederhanakan mendukung tema ‘’kehidupan memerlukan pertarungan yang tangguh’’. Hanya orang yang tangguh dalam pertarungan itu yang akan bertahan. Selebihnya akan tersingkir, tertindas dan menderita.

Dalam pertarungan hidup itulah kita bisa melihat sosok kancil sebagai perumpamaan seorang insan yang mencoba melalui jalan hidupnya dengan segala potensi budayanya. Kancil bagaikan rakyat jelata, yang bukan hanya lemah fisik, tapi juga tidak mempunyai kedudukan yang memadai untuk mempertahankan keberadaan hidupnya. Dengan keadaan serupa itu, sebagai orang kecil harus mengasah akalnya agar punya kecerdikan.

Dengan akal yang cerdik inilah dia dapat selamat dari berbagai ranjau dan jerat pergaulan hidup. Jerat dan ranjau inilah yang melahirkan pertarungan hidup. Pertarungan hidup itu pertama-tama berhadapan dengan penguasa yang zalim. Rakyat kecil hanya dipandang bagaikan sampah oleh penguasa yang zalim. Menghadapinya dengan kekuatan fisik adalah perbuatan konyol. Dia harus dihadapi dengan akal yang cerdik dan teknik yang mangkus atau efektif.

Al kisah tersebutlah gergasi sebagai raja binatang yang merajalela. Sebagai seorang tiran, dia memang amat menakutkan. Matanya sebesar kelapa, giginya sebesar kampak, bulunya seperti ijuk, badannya seperti patar, sedangkan dengusnya bagaikan angin ribut. Semua perintahnya harus dijalankan. Membantah bisa mengakibatkan maut.

Menghadapi gergasi ini kancil yang cerdik pura-pura menyimpai jari jemarinya dengan rotan. Gergasi heran, ‘’Apa pula yang kau buat ini kancil?’’ ‘’Ah, tak adalah Tuk, ini untuk melepas penat-penat saja. Kalau badan lagi tak enak, simpai inilah yang mujarab obatnya,’’ sahut kancil. Gergasi termakan pula keterangan kancil itu, sebab dia memang pendek akalnya. Karena itu dia segera minta pula disimpai jari jemarinya. Setelah jarinya tersimpai apa yang terjadi? Dia terperangkap tak berdaya, berakhirlah kekuasaannya.

Di bawah penguasa yang kejam, rakyat biasanya berhadapan lagi dengan hulubalang (pembesar alat negara) para panglima yang munafik. Mereka diberi tugas menegakkan hukum, tapi malah memakai hukum untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Mereka memakai hukum beruk besar di rimba, yakni dijadikan untuk menakut-nakuti rakyat. Kalau tidak mereka pakai hukum si girik panggang, yakni main paksa. Mereka semuanya ini memakan masak maupun mentah, bagaikan harimau. Terhadap mereka ini sebaiknya berlaku hukum qisas : mata dibalas mata, hidung dibalas hidung.

Maka berpura-puralah kancil menunggu sarang tabuhan sebesar gong. Ketika harimau lewat hendak menerkam kancil dia tercengang, mengapa kancil tidak berlari menghindar dari terkaman dia. Lantas harimau bertanya, ‘’Ada apa Andika di sini Kancil?’’ ‘’Ah tak adalah Tuk, aku cuma menjaga gong nenek moyangku ini, agar tidak dicuri orang. Sebab, lebih celaka lagi, kalau sampai dibunyikan atau dipukul niscaya yang membunyikannya akan disembah oleh semua makhluk rimba belantara ini,’’ kata kancil memberikan penjelasan.

Harimau tergoda mendengar ucapan kancil. Maka dimintanyalah kepada kancil agar dia menjaga gong ini. Dengan pura-pura berat hati, kancil pun memberi peluang, lalu berlalu dari sana. Tidak lama kemudian, harimau segera memukul sarang tabuhan. Tapi alangkah terperanjatnya harimau, sebab bukan makhluk belantara yang datang menyembah, tapi kawanan tabuhan yang datang menyerang.

Kita juga sering berhadapan dalam kehidupan ini dengan orang kuat berleher beton, bisa mengangkat batang rumbia. Kekuatan tubuhnya membuat dia memandang enteng pada yang lemah. Inilah para orang kuat yang dimainkan oleh gajah dalam cerita kancil. Menghadapi orang serupa ini, jangan pakai tenaga, tapi juga akal yang cerdik. Kepadanya harus berlaku hukum ‘’tangan mencencang bahu memikul’’.

Maka kancil mengajak gajah tidur di lereng tebing sungai. Sebab di sana kata kancil, tanahnya berpasir bagaikan kasur yang empuk, sehingga enak tidur di situ. Ia pula terpikir oleh gajah dalam hatinya. Maka kata kancil, ‘’Biarlah aku yang sebelah pinggir sungai, sebab kalau jatuh aku pandai berenang. Kak gajah tidurlah sebelah ke atas.’’

Setelah malam tiba, maka masing-masing pun tidurlah. Gajah tidur paling lelap. Tengah malam kancil pura-pura bangun. Dia berujar, ‘’Kak gajah tolong angsur sedikit, sebab aku hampir jatuh ke sungai.’’ Padahal kancil telah berpindah tempat ke atas. Dengan separuh sadar gajah mencoba berangsur menggerakkan badannya yang besar. Tapi tiba-tiba… byur, dia jatuh ke dalam sungai.

Masih banyak lagi jenis perangai, tabiat dan tingkah laku manusia yang dihadapi, karena kita bergaul dengan berbagai ragam umat manusia. Begitulah yang juga terlukis dalam cerita kancil. Kancil berhadapan dengan anjing, sebagai jenis manusia yang culas dan pandai mengambil muka. Kancil berurusan dengan petani yang cerdik, yang bica menjerat kancil. Untunglah kancil masih dapat mengatasinya. Sementara itu, kecerdikan kancil bukanlah semata-mata untuk menjaga keberadaan serta keselamatan dirinya saja. Dia juga memakai akalnya untuk menolong makhluk lain yang lemah dan tertindas.

Demikianlah, al kisah buaya terhimpit oleh batang besar, ketika air bah sudah surut. Dia minta tolong pada lembu, yang kebetulan lewat di situ. Maka diangkatlah batang kayu itu oleh lembu dengan tanduknya, sehingga buaya terhindar dari malapetaka. Tapi setelah lepas, dia mengancam akan memakan lembu. Dia tidak membalas budi, bagaikan air susu dibalas tuba.

Untunglah kancil lewat di situ. Lembu mengadu dan minta kancil menjadi hakim. ‘’Baik!’’ kata kancil. ‘’Coba bagaimana keadaan buaya terhimpit oleh batang kayu itu, agar aku adil menjatuhkan hukuman’’, sambungnya. Maka diangkatlah kembali pohon besar itu dihimpitkan ke atas badan buaya oleh lembu. Setelah selesai, kancil berujar, ‘’Nah inilah balasan atau hukuman terhadap buaya yang tidak tahu membalas kebaikan orang lain.’’

Cerita kancil telah membentangkan warna-warni kehidupan dunia. Dunia bagaikan geraham gajah, hanya dapat direbut dengan kekuatan dan kekuasaan. Apakah itu kekuatan fisik ataukah kekuatan akal. Dunia bagaikan miang, karena selalu menggelisahkan, di mana dan bila saja. Begitulah, meskipun kancil telah berhasil sedikit banyak bertahan dan menyelamatkan diri dengan kecerdikannya, tetapi rupa-rupanya kecerdikan juga ada batasnya. Kecerdikan rupanya bisa kandas ketika berhadapan dengan pendapat orang banyak atau persatuan yang kokoh. Masyarakat yang bersatu tidak dapat diakali. Dan memang tidak perlu ditipu daya.

Maka tersebutlah kancil pacu memudik sungai dengan siput linkitang. Kancil berlari di darat, siput linkitang di sungai. Masing-masing harus bersorak pada tempat-tepat tertentu, untuk menunjukkan keberadaan dan kecepatannya. Mulailah sorak pertama tanda pacuan dimulai. Sejenak kancil lari ke hulu (mudik) sungai, lantas bersorak. Lalu disambut oleh sorak siput yang lebih jauh di mudik. Jadi kancil ketinggalan.

Kancil berlari lebih kencang lagi, kemudian bersorak pula. Namun dibalas oleh sorak siput lebih jauh lagi di mudik. Akhirnya kancil menggunakan lagi sisa tenaganya, berlari habis-habisan. Namun ketika dia bersorak, dibalas lagi oleh siput yang paling jauh di mudik. Kancil kehabisan tenaga dan… menyerah. Begitulah, persatuan siput di sungai yang berada sepanjang tebing, telah mampu mengalahkan kancil yang sendirian, meskipun dia cerdik.

Kecerdikan juga dapat dikalahkan oleh ilmu dan teknologi, sebagaimana Gary Kasvarop juara catur dunia dikalahkan oleh mesin catur. Nasib serupa itu telah lama menimpa kancil. Maka tersebutlah kancil pacu minum dengan burung jantung yang punya paruh panjang lagi lancip. Kancil minum di sayak; burung jantung minum pada daun keladi. Ini dipandang adil, sebab kancil banyak minumnya, sedangkan burung jantung sedikit.

Maka dimulailah pacuan, masing-masing minum pada tempatnya. Kancil sudah hampir gembung minum di sayak, namun belum habis. Sementara burung jantung, setelah minum sedikit, pelan-pelan ditusuknya daun keladi, sehingga air segera habis. Menanglah burung jantung.***

(Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya Melayu di Riau, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *