Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Persaudaraan dalam Bulan Puasa Tempo Doeloe, Oleh: UU Hamidy
Foto: barangtuwo.blogspot.co.id

Persaudaraan dalam Bulan Puasa Tempo Doeloe, Oleh: UU Hamidy

Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana menggilirkan kemenangan dan kekalahan agar menjadi pelajaran supaya diketahui dengan jelas siapa yang sebenarnya beriman serta untuk memberi peluang kepada orang beriman untuk mati syahid. Begitulah sampai tahun 1950-an puak Melayu di Riau belum lagi dicemari pandangan hidupnya oleh demokrasi sekuler yang hanya membentuk manusia jadi munafik dan zalim.

Pada masa itu mereka berpegang kepada iman dan akidah Islam dengan pergaulan yang dikendalikan oleh adat bersendi syarak yakni Syariah Islam yang dilarutkan dalam peri kehidupan yang bersandar kepada Alquran dan as-Sunnah. Maka tampillah suatu pergaulan masyarakat dengan suasana persaudaraan seiman. Dalam bulan Ramadhan yang disebut bulan puasa tergambarlah kehidupan yang mesra dengan tali persaudaraan yang indah.

Pertama, akan masuk bulan puasa surau dan masjid dibersihkan demikian rupa sehingga membuat suasana jadi selesa. Juga diadakan semacam hari raya kecil, dengan mengundang tetangga makan bersama sehari sebelum puasa dimulai. Surau dan masjid yang tidak mempunyai kulah (tempat persediaan air) akan membuat sejumlah tukil, yaitu buluh yang dijadikan tempat menyimpan air. Tukil itu diletakkan berderet setelah diisi air di sebelah tangga surau atau kiri dan kanan serambi masjid.

Berbagai kesibukan yang dapat mengganggu suasana puasa juga diperhatikan. Maka disediakanlah sebelum bulan puasa, kayu petanak (kayu api) yang akan diperlukan. Padi cerai dan sepulut juga dijemur. Padi cerai akan jadi nasi dimakan dengan lauk-pauk, sedangkan sepulut dapat jadi ketan, buah melako dan pulut kucung yang nanti jadi bahan berbuka puasa.

Kedua, setelah lebih kurang satu minggu maka hari berikutnya dilakukan buka bersama kepada kaum kerabat. Dalam kesempatan ini biasanya cucu dan kemenakan yang masih remaja baik lelaki maupun perempuan pergi berbuka mengunjungi mamak (paman) dan datuknya, jika mereka tidak serumah dengan mamak dan datuknya itu.

Mereka datang dengan membawa rantang yang sudah disediakan oleh ibunya, terdiri dari rantang nasi dan lauk-pauk serta rantang yang berisi mangkanan yang berisi bermacam makanan seperti pulut kucung, merpati mandi, lopek (lepat), kolak pisang batu, sarang sarabai, apam, buah melako, (meng)-kanan talam dan serikayo.

Pihak tuan rumah yakni keluarga mamak dan datuknya cukup menanti dengan menyediakan air untuk berbuka serta makanan seadanya saja. Setelah berbuka bersama, mereka salat Maghrib bersama di rumah itu, jika ternyata surau dan masjid jauh dari tempat berbuka. Selesai salat Magrib dan makan bersama mereka pulang yang nanti dapat diteruskan dengan salat tarawih di kampung mereka masing-masing.

Ketiga, pada babak ketiga yakni hari raya Idul Fitri. Inilah yang terbesar dan paling mesra lagi hangat pergaulan dan persaudaraan seiman dan satu akidah Islam. Terjadilah saling mengunjungi berbagai tingkat dan ragam. Pertama sesama tetangga masing-masing memberikan nasi dan lauk-pauk serta kue-kue yang dibuat untuk hari raya. Juga makan bersama dengan tetangga, karena kebanyakan mereka masih ada hubungan famili atau kerabat.

Cucu dan kemenakan yang perempuan akan mengantarkan nasi saikek (satu bungkus dengan daun pisang) dan satu kucung gulai ke rumah mamak dan datuknya. Sementara ninik-mamak yakni para tetua pesukuan biasanya akan berkeliling kampung mengunjungi rumah warga pesukuannya. Di situ setelah makan bersama mereka berdoa untuk mereka yang masih hidup serta untuk mereka yang sudah meninggal.

Puncak mempererat tali persaudaraan seiman ini akan berlaku lagi pada acara makan bersama tiap pesukuan pada rumah godang masing-masing yang berada di koto tiap kenegerian Melayu. Pada acara ini ninik-mamak pesukuan akan memberikan nasihat mengenai adat dan agama kepada suku-sakatnya agar tetap memelihara akidah dan iman yang kokoh serta bergaul dalam adat yang mulia yakni budi pekerti yang halus. Pertemuan juga diakhiri dengan doa bersama.

Dalam kesempatan ini warga pesukuan dan warga kampung dapat lagi menonton pertunjukan silat yang biasanya dilakukan untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Di koto tiap negeri Melayu ada masjid, rumah godang pesukuan dan balai silat. Karena itu silat dapat dipertunjukkan di halaman ketiga bangunan itu. Silat yang ditampilkan ialah silat tangan dan silat pedang. Ketangkasan bersilat ini pernah terpelihara dalam dunia Melayu di Riau ketika menghadapi perang gerilya melawan Belanda dalam agresi Belanda tahun 1947-1948.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *