Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Permainan Tradisional Melayu yang Terabaikan, Oleh: UU Hamidy
Foto: wikipedia.org

Permainan Tradisional Melayu yang Terabaikan, Oleh: UU Hamidy

Olahraga dan seni dalam pandangan tradisi Melayu sama-sama disebut dengan kata main atau permainan. Keduanya terarah kepada aspek hiburan. Hiburan diperlukan dalam waktu senggang, selepas bekerja.

Dengan adanya hiburan dalam waktu senggang, timbul lagi pikiran yang segar serta semangat bekerja. Dalam tradisi Melayu, seni dan olahraga tidak membuat orang lupa diri sehingga kehidupan dipermainkan. Seni dan olahraga punya peranan khas terhadap jumlah dan mutu pekerjaan.

Berkenaan dengan itu, ada tiga perkara kecil yang cukup membekas pada anak-anak dewasa ini, terutama budak-budak Melayu. Ketiganya ialah, masalah waktu senggang, perangai dan dunia permainan mereka.

Mengenai waktu senggang, ada beberapa keadaan. Ada anak-anak yang hampir tak punya waktu senggang sama sekali. Sepanjang hari, waktu mereka hampir penuh terisi oleh kegiatan sekolah. Anak-anak bersekolah dari pagi sampai petang. Mereka tak punya lagi waktu bermain yang diperlukan oleh jasmani dan ruhani mereka.

Keadaan yang demikian menyebabkan anak-anak mempergunakan waktu senggang yang begitu pendek untuk menonton televisi atau main game memakai komputer. Dalam hal ini anak-anak hanya mendapat hiburan ditambah dengan kreatif bermain game. Sedangkan keadaan jasmani mereka relatif tidak mendapat penyegaran. Mereka hanya duduk, tanpa ada gerak yang sebenarnya amat diperlukan oleh jasmani mereka.

Menonton televisi termasuk memutar video, hanya sedikit sekali yang mampu memberikan tuntunan perangai yang baik. Film-film itu sebagian besar hanya menampilkan petualangan, pertarungan serta adegan bergaya kekerasan. Maka tak heran, justru anak makin rusak perangainya.

Pendidikan dewasa ini sangat dikuasai oleh kegiatan pikiran. Berbagai mata pelajaran terarah ke sana. Hanya sedikit yang melatih perasaan. Sementara pembentukan perangai anak disandarkan kepada pelajaran agama yang amat terbatas.

Pendidikan kita, tidak pertama-tama membentuk akhlak mulia yang kokoh. Tapi lebih mengharapkan pada penguasaan ilmu-ilmu dunia. Namun ironinya, dalam hal ini juga gagal, sebagaimana diperlihatkan oleh Ujian Nasional, murid lebih percaya pada kunci soal daripada ilmu yang diterimanya dari gurunya.

Dari gambaran yang sederhana itu, maka anak-anak kehilangan masa bermain, yang juga sebenarnya dapat melatih pikiran, perasaan, perangai dan pertumbuhan jasmaninya. Waktu senggang yang dipergunakan anak-anak, ternyata hampir tak bernilai pada pertumbuhan jasmaninya, sebab mereka lebih banyak diam daripada bergerak. Nilai waktu senggang untuk pendidikan ruhani mereka, juga hampir tak ada. Malah banyak menimbulkan kerusakan pada perkembangan ruhaninya.

Banyak orang tak menyadari betapa permainan tradisional Melayu dapat memainkan peranan yang cukup berkesan terhadap pembinaan jasmani dan ruhani anak. Permainan itu dapat memberikan semacam ventilasi (udara segar) dari kejenuhan kegiatan belajar dan bekerja sehari-hari.

Dalam permainan tradisional, anak-anak dapat peluang membentuk pribadinya. Sebab dalam permainan itu ada unsur tanggung jawab, kerja sama, ketelitian serta ketangkasan. Semuanya mereka lakukan dengan senang hati, gembira serta percaya diri. Inilah yang membuat permainan tradisional itu dapat memberikan pendidikan jasmani yang sehat, serta pertumbuhan ruhani yang berimbang.

Marilah kita perhatikan beberapa contoh saja. Permainan singgam yang memakai biji-bijian. Anak singgam dilambungkan ke atas, sementara itu tangan mengambil lagi buah singgam yang lain. Permainan ini bagus sekali melatih mata dan gerak tangan, cepat tapi teliti. Permainan nas (petak empat) memberikan latihan melompat serta ketelitian lemparan jarak pendek. Permainan sagala (cak bur) berisi latihan lari. Sedangkan main tali dapat melatih lompat tinggi.

Peting (ketapel) sumpitan dan humban, dapat melatih mata dan gerak tangan pada suatu ketepatan sasaran. Permainan catur Melayu dapat menjadi latihan dasar untuk catur internasional yang bersifat feodal. Catur Melayu memberi apresiasi tentang kehidupan lingkungan yang terkait erat dengan mata pencaharian tradisional yang ada delapan macam, sehingga disebut tapak lapan. Catur ini juga dapat membayangkan betapa medan jihad harus dihadapi dengan hati yang teguh, bukan dengan keraguan yang bernada munafik.

Permainan gasing lebih banyak lagi melatih gerak pada anak. Dengan memangkah dan memusing gasing, terjadi gerak yang istimewa pada kaki dan tangan, sebab berlangsung dalam keadaan memutar arah tubuh. Mata juga dilatih melihat sasaran pada gasing yang akan dipangkah.

Selanjutnya permainan palosi, suatu permainan yang unik. Terbuat dari bulu ayam diberi lapisan karet (kulit), agar dapat disepak dengan punggung kaki dari bawah ke atas. Inilah latihan yang cukup bagus, bagaimana mengendalikan bola dengan kaki.

Semua permainan ini dapat dilakukan dengan biaya yang murah, karena cukup dengan memakai bahan-bahan alam sekitar. Bahkan bisa tanpa ongkos sama sekali. Dengan permainan ini, anak-anak juga akrab dengan alam, serta terlatih mengenal sifat-sifat alam semula jadi di tempat mereka berada.

Jika permainan ini diperhitungkan selama ini, niscaya akan memberi bekas yang cukup baik untuk mencari bibit para olahragawan, dalam berbagai cabang. Dengan permainan tradisional itu, anak-anak sudah mendapat latihan dasar, bahkan sebagian sudah sampai ke tingkat ketangkasan serta kecepatan dalam gerak jasmaninya. Sayang tradisi yang cukup beharga ini terabaikan begitu saja.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *