Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Permainan Pemilukada, Oleh: UU Hamidy

Permainan Pemilukada, Oleh: UU Hamidy

Kehidupan telah berlangsung bagaikan permainan. Permainan juga telah terjadi bagaikan kehidupan. Kenyataan ini menjadi bukti kebenaran firman Allah Swt dalam Alquran kitab semesta alam, yang maksudnya dapat terbaca bahwa tiadalah kehidupan dunia itu melainkan permainan dan senda gurau.

Dunia ini hanyalah permainan yang melalaikan. Ini berlaku, karena Allah Maha Pencipta, telah menjadikan dunia sebagai negeri yang fana. Negeri yang akan binasa dan sirna. Dunia adalah negeri rantau bagi umat manusia. Negeri akhiratlah, negeri kehidupan yang sebenarnya.

Dunia sebagai rantau yang fana, ditakdirkan sebagai negeri persiapan dan negeri ujian, sehingga menjadi negeri ikhtiar bagi umat manusia mendapatkan negeri yang kekal di akhirat.

Perhatikanlah Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) yang diselenggarakan sekarang ini, lalu bandingkan dengan sepakbola sebagai permainan yang paling banyak penggemarnya di dunia masa kini. Sepakbola memang benar-benar dirancang manusia untuk permainan dengan maksud dapat memberi kesenangan dan hiburan.

Sedangkan Pemilukada dirancang untuk memperbaiki kualitas dan taraf hidup, agar makin baik. Ternyata diluar dugaan, keduanya telah tampil bagaikan permainan. Permainan Pemilukada, ternyata lebih banyak daripada sepakbola. Bedanya, dalam permainan sepakbola, pemain bermain sungguh-sungguh. Dalam Pemilukada, permainan dipermainkan.

Perhatikanlah secara sederhana persamaan Pemilukada dengan sepakbola. Sepakbola mengenal adanya klub, persiapan, pelatihan, biaya, wasit, pemenang (juara) dan hadiah. Pemilukada juga kurang lebih demikian. Klubnya adalah partai yang mengusung calon kepala daerah itu.

Persiapannya adalah pembentukan tim sukses. Pelatihannya adalah kampanye. Biaya pelaksanaan dari pemerintah melalui KPU, sedangkan biaya lain seperti untuk kampanye dari pihak calon yang diusung. Wasit adalah Panwaslu dan KPU. Pemenang ditentukan atas jumlah suara. Hadiah telah tersedia dari jabatan (kekuasaan).

Baik sepakbola maupun Pemilukada, benar-benar telah menjadi pertunjukan yang menarik, sehingga dihadiri oleh berjejal umat manusia. Dalam pertandingan sepakbola para pemain berusaha mencetak gol dengan berbagai cara, agar meraih kemenangan.

Penonton tak hitung uang, berapa harga karcis yang harus dibeli. Sementara suporter (pemberi semangat) memberi semangat dengan berbagai gaya kepada kesebelasan pujaannya. Mereka ada yang mengigau dan bisa jadi mengamuk demi membela kesebelasan kesayangannya. Kalau kesebelasannya kalah, wasit sering menjadi sasaran kambing hitam.

Hal ini juga berlaku pada Pemilukada. Calon yang akan bertanding juga dipuja oleh tim sukses dan simpatisannya. Sang calon menebar janji dalam kampanye agar dapat mendulang suara. Sedangkan tim sukses menyerakkan puji-pujian tentang calon di mana-mana sambil dengan cerdik mencari akal bagaimana bisa menang.

Ketika ternyata kalah, mereka sering tak mau terima. Kalau diterima juga, lebih suka lewat sidang pengadilan. Akhirnya, kekalahan akan diterima dengan menyalahkan pihak lain, misalnya KPU dan Panwaslu.

Setelah permainan usai, apa yang terjadi? Pada sepakbola, semua anggota klub akan menerima bagiannya masing-masing. Para pemain yang telah memenangkan permainan akan mendapat hadiah besar ditambah bonus. Sedangkan para penonton terutama suporter penggemar pemain pujaannya, akan terasa sangat lega dan puas hati.

Tapi dalam Pemilukada belum tentu demikian. Tim sukses, sebelum, pertandingan dimulai sudah mendapat bagiannya. Jika ternyata menang, niscaya akan dapat lagi jatah berikutnya, juga bonus. Sedangkan calon yang menang telah dinanti oleh gaji yang besar, kemudahan yang melimpah, dengan kekuasaan yang dapat memuaskan selera hawa nafsu.

Namun, rakyat yang telah memilihnya, sebagian memang mendapat sedikit uang lewat serangan fajar. Sementara yang lain, yang hanya terpukau oleh janji kampanye, kebanyakan akan gigit jari atau kecewa. Sebab ternyata, setelah calon memegang jabatan kepala daerah, nasib mereka tak kunjung baik.

Yang terjadi malah sumber-sumber kehidupan mereka jadi rusak, setelah datang para pemilik modal yang membawa surat dari pejabat yang rupanya berhutang budi kepadanya. Sementara itu beban hidup semakin besar, sedangkan kemampuan pencaharian semakin sulit. Biaya sekolah tetap tinggi, ongkos kesehatan tak terjangkau dan lapangan pekerjaan semakin sulit. Inilah negeri orang kaya yang penduduknya kebanyakan miskin.

Kenyataan ini membuat bingung rakyat jelata yang telah memilih pejabat tersebut. Mereka tak mengerti, bahwa nasib mereka memang bukanlah sasaran penting. Pertama dapat dikesan, bahwa niat mereka jadi pejabat bukanlah pertama-tama untuk menunaikan amanah membela nasib rakyat, tapi untuk tujuan mencari kekayaan.

Ini terbaca dari cara mereka memakai segala cara untuk mendapatkan kursi kekuasaan. Jika tujuan mereka untuk membela rakyatnya, tentulah mereka tidak korupsi. Kedua, tangannya telah terbelenggu oleh kewajiban membayar hutang budi kepada pihak yang telah mendanainya dalam Pemilukada.

Terhadap rakyat yang memilih dipandang tak ada sangkut-paut, apalagi hutang budi. Yang ketiga, setelah dia berhasil jadi pejabat, dia harus sibuk lagi mempersiapkan diri menghadapi pertandingan berikutnya.

Kenyataan inilah yang menyebabkan tiap Pemilukada tidak akan pernah mampu memperbaiki nasib rakyat. Tiap Pemilukada hanyalah menghasilkan pertukaran pejabat. Bukan pergantian. Dalam pertukaran, yang ditukar tetap sama nilai atau kualitasnya dengan penukarnya.

Hanya dalam pergantian dapat terjadi, yang mengganti lebih baik daripada yang digantikan. Selama sistem Pemilukada tetap seperti itu, maka sampai hari kiamat hanya berlaku pertukaran pejabat. Bukan pergantian pejabat.

Maka jelaslah, menggantungkan nasib pada manusia (semisal pejabat) hanyalah perbuatan sia-sia. Begitu pula berusaha mengubah nasib dengan cara memilih pemimpin (pejabat) dengan jalan (sistem) yang tidak diridhai Allah, hanyalah percuma.

Manusia harus menyadari, bahwa nasib bergantung pada kekuasaan Allah, karena Dia-lah yang menguasai jagad raya ini seutuhnya. Maka nasib bergantung pada rahmat Allah. Manusia hanya tinggal berikhtiar. Tapi seharusnya berikhtiar menurut hukum Allah, karena Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha Kaya.

Apa saja kesenangan, kebaikan dan kemudahan yang kita terima, itu semuanya adalah rahmat Allah. Tapi, apa saja derita dan marabahaya yang menimpa, adalah ulah tangan manusia itu sendiri. Jika kita mengikuti orang kebanyakan yang tidak mengikuti hukum Allah (malah menentang-Nya) niscaya kita akan sesat. Dan tiap kesesatan akan bermuara pada kegagalan dan derita bencana.***

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Riau Pos, Senin, 4 April 2011

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *